Bandara Kertajati di Persimpangan: Reaktivasi Husein Picu Persaingan dan Dilema Ekonomi Jawa Barat
Berita Pilihan 01 Juni 2026 – Keputusan pemerintah mengaktifkan kembali Bandara Husein Sastranegara untuk penerbangan komersial bermesin jet menimbulkan gelombang diskusi di kalangan pengamat transportasi, pelaku bisnis, dan masyarakat Bandung Raya. Kebijakan ini tidak sekadar memindahkan rute, melainkan menguji ketahanan investasi infrastruktur yang telah dikeluarkan untuk Bandara Kertajati, yang selama ini dijadikan gerbang utama Jawa Barat.
Menurut Djoko Setijowarno, anggota Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dan dosen Teknik Sipil Unika Soegijapranata, reaktivasi Husein Sastranegara menimbulkan dua kutub utama: dorongan cepat bagi sektor pariwisata Bandung dan ancaman serius terhadap kelangsungan finansial Bandara Kertajati. Ia menekankan bahwa keputusan ini memicu tarik‑menarik antara kepentingan jangka pendek—seperti kenyamanan konsumen dan peningkatan omzet UMKM—dengan tujuan jangka panjang berupa pengembalian modal triliunan rupiah yang telah diinvestasikan pada Kertajati.
Berikut beberapa dimensi utama yang muncul dari perdebatan ini:
- Dampak positif bagi Bandung Raya: Wisatawan domestik serta mancanegara, terutama dari Malaysia dan Singapura, dapat mendarat langsung di pusat kota Bandung tanpa harus menempuh perjalanan darat tambahan ke Kertajati. Hal ini diproyeksikan meningkatkan pendapatan sektor perhotelan, restoran, dan toko outlet, serta memberi suntikan baru bagi usaha kecil menengah yang selama ini kehilangan pasar weekend shoppers.
- Ancaman terhadap Bandara Kertajati: Investasi triliunan rupiah yang diarahkan untuk menjadikan Kertajati sebagai hub internasional kini terancam tidak mencapai target return on investment. Jika maskapai jet kembali beroperasi di Husein, daya tarik Kertajati bagi warga Bandung dapat menurun drastis, berpotensi menurunkan volume penumpang dan menambah beban fiskal operasional.
- Efisiensi waktu dan biaya konsumen: Dari sudut pandang psikologi konsumen, keberadaan dua bandara dalam satu wilayah dapat memecah pasar, namun bagi penumpang yang mengutamakan kecepatan, Husein menawarkan akses yang jauh lebih singkat dibandingkan harus menempuh satu setengah jam ke Kertajati atau tiga jam ke Soekarno‑Hatta.
- Keterbatasan teknis Husein: Bandara Husein Sastranegara memiliki landasan pacu 2.600 meter yang tidak cocok untuk pesawat berbadan lebar, serta ruang apron dan terminal yang sudah mendekati kapasitas maksimum. Lingkungan geografis yang dikelilingi pegunungan dan pemukiman padat menambah tantangan keselamatan dan potensi keterbatasan ekspansi.
Infrastruktur penunjang lainnya, seperti Tol Cisumdawu yang memangkas waktu tempuh Bandung‑Kertajati menjadi satu hingga satu setengah jam, serta proyek Kereta Cepat Whoosh yang mengamankan koridor Jakarta‑Bandung, semakin memperumit dinamika pasar. Djoko menilai bahwa pengaktifan kembali Husein dapat “mengacak‑acak” pembagian pasar yang sudah mulai stabil di antara ketiga moda transportasi tersebut.
Para analis ekonomi menyoroti bahwa keputusan ini harus diikuti dengan strategi sinergi, bukan kompetisi semata. Misalnya, penjadwalan penerbangan yang mengoptimalkan peran Husein untuk rute domestik pendek, sementara Kertajati difokuskan pada penerbangan internasional dan cargo. Pendekatan seperti ini dapat meminimalkan duplikasi layanan dan menjaga agar kedua bandara tetap produktif.
Di sisi lain, pemerintah daerah dan pihak pengelola Kertajati telah menyiapkan paket insentif bagi maskapai yang tetap mempertahankan operasi di bandara tersebut, termasuk potongan biaya landing dan fasilitas logistik. Upaya ini diharapkan dapat menyeimbangkan kembali aliran penumpang dan mengurangi risiko penurunan pendapatan.
Secara keseluruhan, reaktivasi Bandara Husein Sastranegara menandai titik kritis bagi transportasi udara Jawa Barat. Keputusan ini menuntut koordinasi lintas sektor, evaluasi kembali model bisnis bandara, serta kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan konsumen dan keberlanjutan fiskal. Bagaimana kedua bandara akan beradaptasi dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi indikator penting bagi pertumbuhan ekonomi regional.