Berita Pilihan

Airbus Indonesia Hub Produksi: Kesepakatan Strategis Bappenas Buka Jalan ke Pabrik Kertajati

admin ·
Airbus Indonesia Hub Produksi: Kesepakatan Strategis Bappenas Buka Jalan ke Pabrik Kertajati

Berita Pilihan 07 Mei 2026 – Jakarta, 6 Mei 2026 – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dan President Airbus Asia‑Pacific Anand Stanley menandatangani Joint Declaration of Intent (JDI) yang menegaskan komitmen bersama untuk menjadikan Indonesia Airbus Indonesia hub produksi dalam rangka memperkuat ekosistem kedirgantaraan nasional. Upacara penandatanganan yang berlangsung di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, dihadiri pejabat tinggi kementerian, perwakilan Airbus, serta perwakilan industri dirgantara lokal.

Kesepakatan ini mencakup serangkaian agenda strategis, mulai dari pengembangan rantai pasok komponen pesawat, pembentukan fasilitas manufaktur di Kawasan Industri Kertajati, hingga program pelatihan sumber daya manusia (SDM) yang terintegrasi dengan perguruan tinggi dan lembaga pelatihan teknik. Rencana jangka menengah menargetkan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menjadi pemasok tier‑1 bagi Airbus, yang berarti PTDI dapat memproduksi sayap utuh atau bahkan rangka pesawat A320 serta tipe lainnya.

Baca juga:

Dalam sambutannya, Rachmat menekankan bahwa Indonesia tidak lagi ingin menjadi sekadar pembeli pesawat, melainkan bagian aktif dalam nilai global rantai pasok. Ia mencatat satu unit A320 memerlukan lebih dari empat juta komponen yang bersumber dari tiga puluh negara, termasuk Indonesia. Dengan meningkatkan standar kualitas, efisiensi operasional, dan adopsi teknologi produksi terbaru, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan impor dan menciptakan ribuan lapangan kerja berkeahlian tinggi.

Airbus juga menyoroti pentingnya sektor Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Menurut Anand Stanley, pasar MRO di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh pesat seiring dengan peningkatan lalu lintas udara. Indonesia, dengan posisi geografisnya sebagai negara kepulauan, memiliki kebutuhan mendesak akan fasilitas MRO yang modern. Kerja sama ini akan membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk mengelola perawatan pesawat Airbus, termasuk model A320, A330, A350, dan helikopter H225.

  • Pengembangan Infrastruktur: Pembangunan pabrik perakitan di Kertajati direncanakan selesai pada 2029, dengan kapasitas produksi awal menargetkan 30‑40 pesawat per tahun.
  • SDM dan Pendidikan: Kolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lembaga pelatihan teknik untuk kurikulum khusus avionik, manufaktur composite, serta prosedur MRO.
  • Investasi dan Pendanaan: Airbus akan menyalurkan investasi langsung serta mendukung akses pendanaan bagi usaha kecil menengah (UKM) yang terlibat dalam pemasok komponen.

Proyeksi pertumbuhan armada domestik menjadi poin penting dalam diskusi. Rachmat mengungkapkan bahwa jumlah pesawat operasional di Indonesia saat ini sekitar 550 unit, diperkirakan akan melonjak menjadi 1.900 unit pada tahun 2045—lebih dari tiga kali lipat. Peningkatan tersebut menuntut ekspansi kapasitas produksi, perawatan, serta jaringan bandara yang mampu menampung volume penumpang yang diproyeksikan mencapai 477 juta pada 2045, jauh di atas pertumbuhan rata‑rata global sebesar 3,6 %.

Baca juga:

Kerja sama ini tidak hanya terbatas pada sektor produksi. Airbus berjanji untuk mentransfer teknologi digital, termasuk penggunaan sistem manufaktur aditif (3D printing) dan simulasi digital twin yang dapat meningkatkan presisi serta mempercepat siklus produksi. Selain itu, inisiatif bersama akan mendorong standar keamanan dan regulasi yang selaras dengan standar EASA (European Union Aviation Safety Agency), memperkuat reputasi Indonesia sebagai basis produksi yang memenuhi standar internasional.

Para analis ekonomi menilai bahwa kolaborasi ini akan memberikan dampak multiplikatif pada PDB Indonesia. Sektor manufaktur dirgantara diperkirakan dapat menyumbang tambahan 0,3‑0,5 % pada pertumbuhan tahunan, selain menciptakan lapangan kerja langsung bagi sekitar 25.000 tenaga kerja terampil dan tidak langsung bagi lebih dari 100.000 pekerja di sektor pendukung.

Dengan latar belakang lebih dari lima dekade kerja sama antara Airbus dan Indonesia—dimulai sejak 1976 melalui program pelatihan pilot, teknisi, serta ekspor komponen A320, A330, A350, dan H225—kesepakatan terbaru ini menandai evolusi dari hubungan pembeli‑penjual menjadi kemitraan produksi yang lebih mendalam. Rencana jangka panjang mencakup kemungkinan pendirian fasilitas perakitan pesawat berbadan hukum bersama (joint venture) yang dapat memperluas akses pasar ASEAN dan Asia‑Pasifik.

Baca juga:

Secara keseluruhan, Airbus Indonesia hub produksi diharapkan menjadi katalisator transformasi industri dirgantara, memperkuat posisi strategis Indonesia dalam rantai nilai global, sekaligus mendukung agenda nasional untuk meningkatkan konektivitas, kemandirian teknologi, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.