Berita Pilihan

Kevin Warsh: Bos Baru The Fed yang Siap Menghadapi Tantangan Ekonomi Global

admin ·
Kevin Warsh: Bos Baru The Fed yang Siap Menghadapi Tantangan Ekonomi Global

Berita Pilihan 16 Mei 2026 – Kevin Warsh resmi menjadi Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) menggantikan Jerome Powell yang sudah menjabat selama delapan tahun terakhir. Sosok yang dikenal dekat dengan Presiden Donald Trump itu akhirnya lolos konfirmasi Senat AS di tengah sorotan besar terhadap arah kebijakan suku bunga dan inflasi Amerika Serikat.

Warsh dikonfirmasi lewat voting Senat dengan hasil 54 banding 45. Pria kelahiran 13 April 1970 itu akan menggantikan Powell yang masa jabatannya berakhir pada 15 Mei 2026. Penunjukan ini sekaligus menandai kembalinya Warsh ke The Fed setelah sebelumnya pernah menjabat sebagai gubernur bank sentral AS pada 2006-2011.

Baca juga:

Nama Warsh sebenarnya sudah lama disebut sebagai kandidat favorit Trump. Selama beberapa tahun terakhir, ia dikenal sering mengkritik kebijakan The Fed, terutama terkait penanganan inflasi dan besarnya intervensi bank sentral ke pasar keuangan.

Dalam berbagai kesempatan, Warsh menilai The Fed terlalu banyak memberikan panduan kepada pasar. Ia bahkan pernah mengatakan bank sentral bisa menjadi “tahanan kata-katanya sendiri” jika terlalu sering memberi sinyal kebijakan kepada publik.

Warsh juga disebut ingin membawa perubahan besar di tubuh The Fed. Ia ingin melakukan “regime change” dalam kebijakan bank sentral AS, termasuk mengecilkan neraca The Fed dan mengurangi intervensi besar terhadap pasar.

Meski dikenal dekat dengan Trump, Warsh berusaha menegaskan dirinya tetap independen. Dalam proses konfirmasi, ia menolak anggapan bahwa dirinya akan mengikuti keinginan Gedung Putih terkait suku bunga.

Namun penunjukan Warsh tetap memicu kekhawatiran dari kubu Demokrat. Senator Elizabeth Warren bahkan menyebut Warsh sebagai “boneka” Trump dan menilai independensi The Fed bisa terancam di bawah kepemimpinannya.

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi Warsh juga tidak ringan. Inflasi AS masih berada di atas target 2%, sementara harga energi melonjak akibat konflik Iran yang mengguncang pasar minyak global.

Baca juga:

Kondisi itu membuat arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan menjadi perhatian besar investor dunia. Selain berpengalaman di bank sentral, Warsh juga punya latar belakang kuat di Wall Street. Ia pernah bekerja di Morgan Stanley dan dikenal memiliki jaringan luas di kalangan keuangan AS.

Kedekatannya dengan dunia pasar modal membuat banyak pelaku pasar penasaran apakah kepemimpinannya akan membawa pendekatan baru bagi The Fed.

Warsh juga memiliki kecenderungan kebijakan yang berbeda dan dapat memengaruhi kurva imbal hasil (yield curve), atau grafik yang menunjukkan perbedaan tingkat imbal hasil obligasi berdasarkan jangka waktunya.

Strategi tersebut menggabungkan penurunan suku bunga kebijakan jangka pendek melalui pemangkasan suku bunga, dengan tetap melanjutkan pengurangan neraca The Fed yang berpotensi menjaga imbal hasil jangka panjang tetap tinggi dan menyebabkan kurva imbal hasil menjadi lebih curam.

Rupiah juga berisiko terus tertekan sepanjang Mei 2026 seiring dengan kombinasi sentimen eksternal dari kebijakan moneter AS dan memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa rupiah saat ini tengah menghadapi ujian berat, terutama saat pasar domestik sedang dalam masa libur.

Baca juga:

Di pasar internasional, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.600 sebelum akhirnya BI melakukan intervensi.

Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS didorong oleh suksesi kepemimpinan The Fed ke Kevin Warsh. Figur Warsh yang diprediksi membawa kebijakan moneter lebih disiplin membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2026 kian menipis.

Kondisi ini diperparah oleh memanasnya situasi di Selat Hormuz antara AS dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak mentah global.

Hal tersebut berdampak langsung pada membengkaknya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, yang pada gilirannya menekan stabilitas nilai tukar.

Kesimpulan, penunjukan Kevin Warsh sebagai bos baru The Fed membawa harapan untuk perubahan kebijakan moneter yang lebih disiplin dan pengurangan neraca The Fed. Namun, tantangan yang dihadapi Warsh juga tidak ringan, terutama dalam menghadapi inflasi AS yang masih berada di atas target dan harga energi yang melonjak.