Berita Pilihan

Meninggalnya dr. Myta Aprilia: Ungkap Beban Kerja Ekstrem Dokter Magang dan Tuntutan Audit Nasional

admin ·
Meninggalnya dr. Myta Aprilia: Ungkap Beban Kerja Ekstrem Dokter Magang dan Tuntutan Audit Nasional

Berita Pilihan 03 Mei 2026 – Palembang, 3 Mei 2026 – Tragedi meninggalnya dr. Myta Aprilia Azmi pada 1 Mei 2026 menggemparkan dunia medis Indonesia. Dokter magang (internship) yang baru saja merayakan ulang tahun ke-25 ini mengalami kelelahan berat akibat beban kerja yang tidak manusiawi di RSUD K.H. Daud Arif, Jambi, dan akhirnya harus dirawat di ICU RS Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Sebelum kepergiannya, dr. Myta melaporkan gejala sesak napas, demam tinggi, dan penurunan saturasi oksigen sejak Maret 2026. Meskipun kondisinya sudah memburuk, ia tetap dipaksa menjalani jadwal jaga malam tanpa adanya libur selama tiga bulan penuh, baik di bangsal maupun instalasi gawat darurat (IGD). Menurut Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri), dokter magang tersebut tidak mendapatkan supervisi langsung dari dokter definitif, yang melanggar ketentuan Kementerian Kesehatan.

Baca juga:

Organisasi alumni menyoroti sejumlah pelanggaran serius, antara lain:

  • Pelanggaran regulasi jam kerja: beban kerja berkelanjutan tanpa istirahat yang memadai.
  • Kekurangan supervisi medis: dr. Myta menjalankan tugas klinis tanpa pengawasan dokter senior.
  • Kelalaian administratif: kekosongan obat penting seperti Sulbacef, memaksa pasien mencari obat di luar rumah sakit.

Selain IKA FK Unsri, Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) melalui ketua Prof. Dr. Budi Iman Santoso menuntut audit independen menyeluruh terhadap kasus ini. Dalam konferensi pers daring pada 3 Mei 2026, MGBKI menegaskan bahwa investigasi harus mencakup kronologi penugasan, sistem supervisi, beban kerja, ketersediaan obat, serta budaya kerja di rumah sakit pendidikan. “Kami menolak praktik jam kerja yang tidak manusiawi dan menolak segala bentuk victim blaming terhadap dokter magang yang menjadi korban,” ujar Budi Iman Santoso.

Permintaan audit independen didukung oleh sejumlah pihak, termasuk organisasi tenaga kesehatan, mahasiswa kedokteran, dan publik luas yang mengkritisi sistem pendidikan kedokteran di Indonesia. Mereka menilai kasus dr. Myta sebagai contoh nyata kegagalan tata kelola internship, di mana beban kerja berlebih dan kurangnya pengawasan dapat berujung pada konsekuensi fatal.

Baca juga:

Berikut beberapa poin utama yang menjadi fokus tuntutan reformasi:

  1. Standarisasi jam kerja dokter magang dengan batas maksimum yang sesuai regulasi.
  2. Rasio supervisi yang jelas, memastikan setiap dokter magang memiliki mentor klinis yang bertanggung jawab.
  3. Pembentukan kanal pelaporan anonim bagi peserta magang yang mengalami kondisi kesehatan berbahaya.
  4. Audit reguler atas ketersediaan obat esensial di rumah sakit pendidikan.
  5. Revisi kurikulum internship untuk menekankan kesejahteraan mental dan fisik peserta.

Pihak Kementerian Kesehatan belum memberikan respons resmi terkait tuntutan tersebut, namun dijanjikan akan melakukan evaluasi menyeluruh. Sementara itu, keluarga dr. Myta mengajukan permohonan agar proses investigasi berjalan transparan dan melibatkan pihak independen.

Kasus ini menimbulkan perdebatan luas di media sosial dan ruang publik. Banyak netizen menilai bahwa budaya kerja yang menuntut dokter magang bekerja tanpa henti telah menjadi “norma buruk” yang perlu diubah. Sementara itu, beberapa kalangan profesional menyuarakan pentingnya menyeimbangkan kebutuhan layanan kesehatan dengan hak atas kesehatan kerja bagi tenaga medis muda.

Baca juga:

Tragedi dr. Myta Aprilia menjadi momentum penting bagi pemerintah, institusi pendidikan, dan rumah sakit untuk meninjau kembali kebijakan internship. Diharapkan, melalui audit independen dan reformasi kebijakan, sistem pendidikan kedokteran Indonesia dapat menjadi lebih manusiawi, aman, dan menghasilkan dokter yang kompeten serta berdaya tahan tinggi.

Jika rekomendasi reformasi diterapkan, diharapkan tidak hanya mencegah kejadian serupa di masa depan, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan kesehatan secara keseluruhan, mengingat dokter magang merupakan tulang punggung tenaga medis di banyak wilayah terpencil.