Berita Pilihan

Harga Minyak Mentah Mendekati USD 120/Barel Usai Negosiasi Damai AS-Iran Mandek, Apa Artinya bagi Konsumen?

admin ·
Harga Minyak Mentah Mendekati USD 120/Barel Usai Negosiasi Damai AS-Iran Mandek, Apa Artinya bagi Konsumen?

Berita Pilihan 02 Mei 2026 – Harga minyak mentah dunia kembali menjadi sorotan utama pada perdagangan Jumat, ketika kontrak berjangka turun hanya beberapa poin namun tetap berada di zona kritis hampir USD 120 per barel. Kenaikan mendadak pada awal minggu lalu, dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, kini sedikit teredam setelah Iran mengirimkan proposal damai melalui perantara Pakistan. Meskipun upaya diplomatik itu belum menghasilkan kesepakatan final, pasar energi masih merasakan dampak langsung dari sinyal‑sinyal ketidakpastian.

Menurut data yang dihimpun dari bursa komoditas utama, kontrak West Texas Intermediate (WTI) berakhir pada level USD 101,94 per barel, sementara Brent crude tercatat USD 108,17 per barel. Kedua indeks tersebut masih berada di atas ambang USD 100, menandakan bahwa tekanan beli tetap kuat meski terjadi koreksi kecil. Analis mencatat bahwa volatilitas masih tinggi, terutama mengingat potensi penutupan kembali Selat Hormuz—jalur penyulingan minyak terbesar dunia—bila konflik militer bereskalasi.

Baca juga:

Proposal damai yang diajukan Iran mencakup penghentian serangan balasan terhadap instalasi militer Amerika, pembukaan kembali jalur laut di Selat Hormuz, serta pengembalian sanksi ekonomi secara bertahap. Pejabat Pakistan mengonfirmasi bahwa dokumen tersebut telah diteruskan ke Washington, namun Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tawaran itu belum memenuhi standar keamanan AS. “Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi saya belum puas dengan itu,” ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, menambahkan bahwa posisi militer Iran masih lemah.

Reaksi pasar mencerminkan keraguan tersebut. Pada sesi perdagangan Asia, indeks energi turun sekitar 3%, namun masih berada di level historis yang tinggi. Para trader mencatat bahwa ekspektasi kenaikan harga hingga USD 127 per barel masih berada di atas 50 persen dalam model prediksi pasar Kalshi, sementara peluang menembus USD 120 per barel mencapai 63 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun ada harapan untuk de‑eskalasi, spekulasi kenaikan harga masih mendominasi sentimen.

Baca juga:

Berbagai faktor fundamental turut memperkuat dinamika harga:

  • Ketegangan militer di kawasan Teluk Persia yang dapat mengganggu pasokan minyak mentah dari wilayah produksi utama.
  • Ketergantungan pasar global pada jalur pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menyumbang lebih dari 20 persen volume perdagangan minyak dunia.
  • Penurunan produksi minyak di ladang Zubair, Irak, akibat serangan udara yang menurunkan output harian sebesar 150.000 barel.
  • Kebijakan moneter AS yang masih menahan inflasi, mendorong investor beralih ke komoditas sebagai lindung nilai.

Para pakar energi menekankan bahwa hingga ada konfirmasi resmi dari kedua belah pihak, pasar akan tetap bergerak dalam zona rentang yang lebar. “Kami memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi selama tiga sampai enam bulan ke depan, terutama jika negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan konkret,” ujar Dr. Arif Prasetyo, analis senior di Jakarta Energy Institute.

Baca juga:

Secara regional, Indonesia sebagai importir bersih minyak mentah merasakan tekanan pada tarif BBM domestik. Kenaikan harga internasional dapat memaksa pemerintah menyesuaikan subsidi atau menunda program peningkatan bahan bakar nabati. Konsumen akhir, terutama pengendara kendaraan pribadi dan operator transportasi, diperkirakan akan menghadapi kenaikan harga bahan bakar sebesar 5 sampai 7 persen dalam tiga bulan ke depan jika harga minyak mentah tetap berada di atas ambang USD 115.

Kesimpulannya, meskipun proposal damai Iran memberikan secercah harapan, negosiasi antara AS dan Iran masih berada di titik impas. Pasar energi global tetap berada di zona tegang, dengan harga minyak mentah hampir menembus USD 120 per barel, menandakan bahwa volatilitas dan ketidakpastian akan terus menjadi faktor utama dalam keputusan investasi dan kebijakan energi negara‑negara konsumen.