Berita Pilihan

Harga Minyak Turun Tipis Usai Trump Janjikan Proyek Kebebasan di Hormuz

admin ·
Harga Minyak Turun Tipis Usai Trump Janjikan Proyek Kebebasan di Hormuz

Berita Pilihan 04 Mei 2026 – Pada perdagangan Senin 4 Mei 2026, harga minyak dunia mengalami penurunan tipis setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana operasi bernama “Proyek Kebebasan” untuk mengevakuasi kapal‑kapal netral yang terperangkap di Selat Hormuz. Meskipun langkah tersebut menimbulkan harapan sementara, pasar tetap memperlihatkan skeptisisme karena ketegangan di kawasan masih tinggi.

Menurut data Reuters, kontrak berjangka Brent diperdagangkan pada level US$108,00 per barel, turun sekitar 0,3 % dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di bawah US$102,00 per barel dengan penurunan 0,5 %. Penurunan tersebut mencerminkan respons pasar yang belum sepenuhnya percaya bahwa operasi Trump dapat mengembalikan aliran minyak secara signifikan.

Baca juga:
Indeks Harga (USD/barel) Perubahan
Brent 108,00 -0,35 %
WTI 101,31 -0,57 %

Langkah Trump dilaporkan akan melibatkan kapal perusak berpemandu rudal, pesawat, dan drone, namun tidak ada pengawalan khusus oleh Angkatan Laut AS. United States Central Command menegaskan kesiapan dukungan militer, sementara pihak Iran menolak intervensi tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Insiden terbaru di wilayah tersebut menambah ketidakpastian. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat sebuah tanker terkena proyektil tak dikenal sekitar 78 mil laut di utara Fujairah, Uni Emirat Arab. Awak kapal selamat, namun peristiwa ini menegaskan risiko operasional di Selat Hormuz.

Baca juga:

Pakar pasar menilai penurunan harga minyak lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal daripada kebijakan politik. Haris Khurshid, kepala investasi Karobaar Capital LP, menyatakan bahwa fenomena “Trump Fatigue” membuat para pelaku pasar kurang memberi bobot pada pernyataan presiden AS. “Ada penurunan awal, tetapi tidak berkelanjutan, menandakan pasar tidak menganggapnya sebagai perubahan struktural,” ujarnya.

Di sisi lain, OPEC+ berencana menambah produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Juni, sebagai upaya menstabilkan pasar yang terganggu oleh blokade di Hormuz. Namun, analis energi menilai peningkatan produksi ini masih bersifat teoritis karena kendala logistik dan keamanan di jalur laut utama.

Baca juga:

Secara keseluruhan, harga minyak tetap berada di atas US$100 per barel, level tertinggi sejak 2022, yang mencerminkan tekanan pasokan global akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Meskipun Trump mengklaim akan memfasilitasi pelayaran bebas, realitas di lapangan menunjukkan bahwa normalisasi aliran energi membutuhkan lebih dari sekadar operasi militer terbatas.

Para pengamat memperingatkan bahwa jika ketegangan di Selat Hormuz tidak mereda, pasar minyak dapat kembali mengalami volatilitas tinggi. Sementara itu, pelaku industri dan konsumen di seluruh dunia tetap menantikan perkembangan diplomatik yang dapat memberikan kepastian pasokan jangka panjang.