Berita Pilihan

Negosiasi damai AS-Iran mandek, harga minyak dunia turun tipis: Dampak ekonomi global terungkap

admin ·
Negosiasi damai AS-Iran mandek, harga minyak dunia turun tipis: Dampak ekonomi global terungkap

Berita Pilihan 24 April 2026 – Negosiasi damai AS-Iran kembali menemui kebuntuan, memicu dinamika pasar energi yang bergejolak. Pada Jumat pagi, 24 April 2026, harga minyak mentah Brent sempat meroket menjadi US$106,3 per barel setelah Iran merilis rekaman pasukan komando yang mengebut kapal kargo di Selat Hormuz. Kenaikan tajam itu dipicu oleh ketegangan militer dan spekulasi tentang kemungkinan pecahnya kembali konflik di wilayah Timur Tengah.

Namun, satu hari kemudian, pada Kamis, 23 April 2026, harga Brent mengalami koreksi tipis hingga US$101,76 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun menjadi US$92,82 per barel. Penurunan ini mencerminkan respons pasar terhadap laporan bahwa pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran telah terhenti, menambah kecemasan atas kelangsungan gencatan senjata di Selat Hormuz. Selat Hormuz tetap menjadi jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas cair dunia setiap harinya.

Baca juga:
Tanggal Brent (USD/bbl) WTI (USD/bbl)
24 Apr 2026 106,30 96,92
23 Apr 2026 101,76 92,82

Ketegangan yang berlarut‑larut tidak hanya menekan harga minyak, tetapi juga menimbulkan tekanan pada mata uang negara‑negara importir energi. Rupiah Indonesia melemah 108 poin menjadi Rp17.289 per dolar AS pada Kamis pagi, dipicu oleh aliran dana safe‑haven ke dolar AS. Analis ICDX mengaitkan pelemahan tersebut dengan ketidakpastian geopolitik yang memicu kenaikan harga energi global.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa meski gencatan senjata diperpanjang, blokade terhadap pelabuhan Iran tetap berlaku. Ia menolak menetapkan tenggat waktu bagi Iran dalam proses negosiasi, menyatakan bahwa Amerika siap melumpuhkan kekuatan militer Tehran dalam satu hari bila diperlukan. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh AS melakukan tindakan blokade di Selat Hormuz dan menyatakan bahwa negosiasi tidak akan berlanjut tanpa pencabutan sanksi ekonomi.

Baca juga:

Data Badan Energi Amerika (EIA) menunjukkan peningkatan persediaan minyak mentah domestik sebesar 1,9 juta barel pada pekan ini, sementara stok bensin turun 4,6 juta barel di bawah perkiraan. Penurunan stok bahan bakar menambah tekanan pada pasar domestik AS, yang sekaligus meningkatkan permintaan minyak impor dari Amerika Serikat. Eksportir minyak AS mencatat rekor 12,88 juta barel per hari, memanfaatkan gangguan distribusi di wilayah Timur Tengah.

  • 24 Apr 2026: Brent US$106,3, WTI US$96,9 – ketegangan Selat Hormuz.
  • 23 Apr 2026: Brent US$101,76, WTI US$92,82 – kebuntuan negosiasi AS‑Iran.
  • Rupiah melemah 0,63% menjadi Rp17.289/USD.
  • EIA: Stok minyak mentah naik 1,9 juta barel; bensin turun 4,6 juta barel.

Analisis dari Haitong Futures menilai bahwa fase gencatan senjata kini lebih mirip persiapan militer daripada langkah perdamaian. Jika negosiasi tidak menunjukkan kemajuan signifikan hingga akhir April, pasar memperkirakan harga minyak dapat kembali melonjak ke level tertinggi tahun ini. Risiko tambahan datang dari kemungkinan Israel dan Lebanon memperpanjang gencatan senjata, yang masih belum jelas dampaknya terhadap aliran minyak di Selat Hormuz.

Baca juga:

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga pada 4,75 persen untuk menstabilkan nilai tukar, sambil meningkatkan batas transaksi DNDF dan swap menjadi US$10 juta per transaksi. Kebijakan ini bertujuan meredam volatilitas pasar spot valuta asing dan melindungi rupiah dari tekanan eksternal yang dipicu oleh fluktuasi harga energi.

Secara keseluruhan, kebuntuan negosiasi damai AS‑Iran menimbulkan ketidakpastian yang berlanjut di pasar energi global. Harga minyak berfluktuasi secara signifikan, sementara mata uang berkembang, termasuk rupiah, berada di bawah tekanan. Keputusan politik dan militer di masa mendatang akan menjadi penentu utama arah pasar energi dunia.