Berita Pilihan

Tragedi Kakek 4 Cucu di Surabaya: Dari Cekcok Asmara Hingga Penusukan Fatal

admin ·
Tragedi Kakek 4 Cucu di Surabaya: Dari Cekcok Asmara Hingga Penusukan Fatal

Berita Pilihan 25 April 2026 – Seorang kakek yang dikenal sebagai sosok kakek 4 cucu di sebuah permukiman padat penduduk Surabaya meninggal dunia setelah menjadi korban penusukan yang terjadi di sebuah gang sempit pada Jumat malam. Kejadian ini memicu kepanikan warga setempat dan menjadi sorotan utama media lokal serta aparat kepolisian yang segera melakukan penyelidikan intensif.

Menurut saksi mata, korban, yang berusia sekitar 68 tahun, sempat terlibat cekcok dengan seorang pria berusia sekitar 30-an di depan rumahnya. Cekcok tersebut diduga berkaitan dengan masalah pribadi yang muncul setelah korban bercerai dari istri pertamanya lima tahun lalu. Sejak perceraian, tetangga melaporkan perubahan sikap korban yang menjadi lebih tertutup dan terkadang agresif, meskipun sebelumnya ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan selalu membantu anak-anak di lingkungan.

Baca juga:

Insiden penusukan terjadi sekitar pukul 22.30 WIB ketika korban sedang berjalan menuju mobilnya. Sekelompok empat orang tak dikenal menyerbu dan menyerang korban dengan pisau panjang. Saksi yang berada di dekat lokasi melaporkan bahwa serangan tersebut terjadi secara tiba-tiba dan korban tidak sempat melawan. Setelah diserang, korban jatuh ke tanah dan meninggal seketika karena luka tusuk yang berada di daerah dada.

Polisi Surabaya segera mengevakuasi jenazah ke rumah duka dan membuka penyelidikan kriminal. Tim forensik melakukan otopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian serta mengidentifikasi jenis senjata yang digunakan. Sementara itu, satuan reserse kriminal mengamankan rekaman CCTV yang terpasang di beberapa toko dan rumah sekitar gang tempat kejadian, guna melacak pergerakan pelaku.

Berikut kronologi singkat yang berhasil diungkap hingga saat ini:

Baca juga:
  • 20:00 WIB – Korban berkeliling lingkungan untuk mengantar cucunya pulang.
  • 20:45 WIB – Terjadi cekcok verbal antara korban dan seorang pria tak dikenal di depan rumah korban.
  • 22:30 WIB – Empat orang dengan pakaian gelap menyerbu korban dan menusuknya secara brutal.
  • 22:45 WIB – Warga sekitar melaporkan kejadian ke pihak berwajib.
  • 23:10 WIB – Tim kepolisian tiba di lokasi, mengamankan barang bukti dan memulai pencarian pelaku.

Polisi mengumumkan bahwa pelaku masih dalam pengejaran dan meminta bantuan masyarakat untuk memberikan informasi terkait identitas atau keberadaan mereka. Hingga kini, dua tersangka utama telah berhasil ditangkap berkat hasil analisis rekaman CCTV yang menunjukkan ciri-ciri fisik dan kendaraan yang digunakan. Namun, dua tersisa masih menjadi buronan aktif.

Reaksi tetangga yang mengenal korban sejak lama mencerminkan keterkejutannya. Salah satu tetangga, Ibu Siti, mengatakan, “Kami selalu melihatnya sebagai kakek yang sayang pada cucu‑cucunya. Perubahan sikapnya setelah perceraian memang terlihat, namun tidak pernah kami duga akan berujung pada tragedi seperti ini.” Ia menambahkan bahwa keluarga korban kini berada dalam kondisi duka mendalam dan berharap proses hukum dapat berjalan cepat serta adil.

Kasus ini juga mengangkat kembali perdebatan tentang faktor psikologis pasca perceraian pada lansia. Beberapa ahli kesehatan mental menilai bahwa perubahan perilaku yang signifikan dapat meningkatkan risiko konflik interpersonal, terutama bila tidak mendapatkan dukungan emosional yang memadai. Mereka menyarankan agar pemerintah daerah meningkatkan program konseling bagi warga yang mengalami perceraian atau situasi keluarga yang rapuh.

Baca juga:

Pihak kepolisian menegaskan bahwa motif utama penusukan masih dalam penyelidikan. Beberapa indikasi awal mengarah pada balas dendam pribadi atau perseteruan terkait urusan asmara, namun belum ada bukti konklusif. Pemeriksaan forensik dan wawancara saksi akan terus dilakukan untuk mengungkapkan latar belakang lengkap kejadian.

Kasus kakek 4 cucu ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat Surabaya tentang pentingnya menjaga keamanan lingkungan dan memperhatikan perubahan perilaku orang di sekitar. Warga diimbau untuk tidak ragu melaporkan segala bentuk ancaman atau pertengkaran yang berpotensi bereskalasi, serta mendukung upaya aparat dalam menegakkan hukum.

Dengan berjalannya proses hukum, keluarga korban berharap keadilan dapat ditegakkan dan pelaku yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sementara itu, komunitas setempat berusaha bangkit kembali, memperkuat rasa kebersamaan, dan menjaga agar tragedi serupa tidak terulang kembali.