Rupiah terendah pecah rekor, ekonomi Indonesia lepas kutukan 5 persen
Berita Pilihan 06 Mei 2026 – Pasar valuta hari Selasa, 5 Mei 2026, mencatatkan momen penting ketika Rupiah terendah menyentuh level historis Rp 17.412 per dolar AS. Sementara nilai tukar melemah, data resmi menunjukkan ekonomi Indonesia berhasil menembus batas pertumbuhan 5 persen, mencatatkan laju 5,61 persen pada kuartal I 2026. Kedua peristiwa ini menjadi sorotan utama bagi pelaku pasar, pemerintah, dan masyarakat luas.
Pelemahan Rupiah terendah terjadi pada pukul 09.52 WIB dengan penurunan 0,10 persen atau 18,00 poin dibandingkan harga sebelumnya. Sebelumnya, pada pukul 09.00 WIB, mata uang nasional berada di level Rp 17.363 per dolar. Data Bloomberg mengonfirmasi bahwa pada awal perdagangan Rupiah sudah melemah 13,50 poin menjadi Rp 17.407 per dolar. Tekanan eksternal, termasuk permintaan dolar untuk impor dan pembayaran utang luar negeri, menjadi pemicu utama.
Berikut ringkasan pergerakan nilai tukar pada hari tersebut:
| Waktu | Nilai Rupiah | Perubahan |
|---|---|---|
| 09.00 WIB | Rp 17.363 | – |
| 09.30 WIB | Rp 17.407 | -0,08% |
| 09.52 WIB | Rp 17.412 | -0,10% |
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pencapaian pertumbuhan 5,61 persen menandai berakhirnya “kutukan” ekonomi yang selama bertahun‑tahun terhimpit di kisaran 5 persen. Ia menyebut capaian tersebut sebagai prestasi luar biasa, terutama mengingat kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Faktor utama yang mendorong percepatan pertumbuhan meliputi belanja pemerintah yang melonjak 21,8 persen, terutama karena pencairan bonus Hari Raya bagi ASN dan program makan siang gratis di sekolah. Konsumsi rumah tangga turut berkontribusi lebih dari setengah PDB dengan pertumbuhan 5,52 persen, didorong oleh peningkatan belanja selama bulan Ramadan. Sektor investasi mencatat pertumbuhan 5,96 persen, sedikit melambat dari 6,12 persen kuartal sebelumnya, namun tetap menjadi pendorong penting.
Meskipun data makro menunjukkan momentum positif, analis memperingatkan risiko yang dapat menghambat laju pertumbuhan selanjutnya. Konflik di Timur Tengah, fluktuasi harga energi, serta tekanan pada pasar valuta asing dapat menurunkan sentimen investor. Menurut Radhika Rao, analis DBS Bank, kuartal pertama mungkin menjadi puncak pertumbuhan, dengan kemungkinan melambat pada kuartal berikutnya karena tekanan fiskal dan inflasi.
Bank Indonesia (BI) menanggapi tekanan pada Rupiah terendah dengan menegaskan komitmen menjaga keseimbangan supply‑demand. Gubernur Perry Warjiyo menyatakan bahwa Rupiah berada dalam kondisi undervalued, memberikan peluang penguatan seiring dengan cadangan devisa yang kuat dan inflasi yang terkendali. Pemerintah juga menyiapkan serangkaian kebijakan insentif, termasuk pinjaman lunak untuk industri tekstil dan dukungan bagi sektor kendaraan listrik, guna memperkuat daya saing ekspor.
Secara keseluruhan, pergerakan nilai tukar yang menandai Rupiah terendah bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melampaui 5 persen mencerminkan dinamika kompleks antara faktor eksternal dan kebijakan domestik. Penguatan fundamental ekonomi, meski dihadapkan pada tekanan global, memberikan landasan bagi Indonesia untuk terus memperkuat posisi di kancah internasional.