Rupiah terdepresiasi catat rekor terendah, ekonomi Indonesia tumbuh 5,6% lepas kutukan 5%
Berita Pilihan 06 Mei 2026 – Jakarta, 5 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah kembali menurun tajam pada sesi perdagangan Selasa, menembus level terendah sepanjang sejarah dengan harga Rp17.412 per dolar Amerika Serikat. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,6 persen pada kuartal I 2026, menandai keberhasilan negara lepas dari “kutukan” pertumbuhan 5 persen yang sudah lama menjadi bayang‑bayang.
Rupiah terdepresiasi dipicu oleh tekanan eksternal yang masih kuat, termasuk volatilitas pasar global, kebijakan moneter asing, dan fluktuasi komoditas. Data Bloomberg menunjukkan bahwa pada pukul 09.52 WIB, rupiah melemah 0,10 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, sementara indeks saham utama (IHSG) terbuka di zona merah, mengindikasikan sentimen negatif investor.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia berhasil melampaui target pertumbuhan tahunan. Pada konferensi pers APBN KiTa edisi Mei, ia menegaskan pencapaian 5,61 persen year‑on‑year (yoy) dibandingkan 5,39 persen pada kuartal IV 2025. “Ini membuktikan Indonesia sudah keluar dari kutukan 5 persen dan menapaki laju pertumbuhan yang lebih cepat,” ujarnya.
Berikut ringkasan data utama yang dirilis pada hari yang sama:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Rupiah per USD | Rp17.412 |
| Pertumbuhan Ekonomi Q1 2026 (yoy) | 5,61 % |
| PDB ADHB (triliun Rp) | 6.187,2 |
Para analis menilai bahwa meski ekonomi domestik menunjukkan kekuatan, depresiasi rupiah tetap menjadi tantangan besar. Kenaikan harga impor, terutama bahan baku energi, dapat menambah beban inflasi. Pemerintah telah menyiapkan serangkaian kebijakan jangka pendek untuk menstabilkan nilai tukar, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan peningkatan cadangan devisa.
Selain kebijakan moneter, fokus utama pemerintah adalah memperkuat permintaan domestik dan mendukung sektor ekspor. Purbaya menambahkan bahwa dukungan fiskal akan diarahkan pada perusahaan berorientasi ekspor, serta program insentif untuk meningkatkan kompetitivitas produk Indonesia di pasar global.
Penguatan ekonomi juga didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, berkat daya beli yang relatif stabil. Investasi swasta mulai kembali bangkit, terutama di sektor manufaktur dan teknologi, seiring dengan pelonggaran kebijakan kredit dan stimulus fiskal.
Namun, pejabat pemerintah mengingatkan bahwa risiko eksternal masih tinggi. Konflik geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter negara maju, dan fluktuasi harga komoditas dapat memengaruhi pertumbuhan ekspor serta arus modal. Oleh karena itu, pemantauan data ekonomi akan dilakukan secara intensif, dan kebijakan penyesuaian siap diambil bila diperlukan.
Secara keseluruhan, kombinasi antara rupiah terdepresiasi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat menciptakan dinamika yang kompleks. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga stabilitas makroekonomi sambil mendorong pertumbuhan inklusif, dengan harapan Indonesia dapat mempertahankan laju di atas 5 persen dalam jangka menengah.