Chatib Basri Ungkap Strategi Nasional: Dari Penguatan Rupiah hingga Produktivitas Bisnis
Berita Pilihan 11 Juni 2026 – Jakarta, 13 Juni 2026 – Dalam rentang beberapa hari terakhir, sorotan publik terpusat pada dinamika nilai tukar rupiah, kebijakan ekonomi, dan peran tokoh-tokoh kunci seperti Chatib Basri. Pada Senin, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengimbau warga untuk melepas simpanan dolar, mengingatkan bahwa penguatan rupiah yang diproyeksikan dapat menurunkan nilai dolar yang dimiliki masyarakat. Dasco menegaskan, “Jika rupiah menguat minggu depan, menyimpan dolar akan merugikan.” Imbauan ini menambah tekanan pada pasar valuta asing dan menyoroti kepercayaan publik terhadap kebijakan moneter pemerintah.
Sementara itu, Chatib Basri, mantan Menteri Keuangan yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), menekankan bahwa pertumbuhan bisnis di Indonesia tidak lagi dapat mengandalkan faktor tradisional seperti biaya modal rendah atau tenaga kerja murah. Pada Grab Business Forum 2026, ia menyoroti pentingnya produktivitas, efisiensi aset, dan ketahanan perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi energi, serta perubahan perilaku konsumen. “Pertumbuhan bisnis kini bergantung pada kemampuan meningkatkan produktivitas dan membangun ketahanan agar tetap adaptif,” ujar Chatib Basri dalam pidatonya.
Pertemuan strategis selanjutnya terjadi pada 9 Juni 2026 di Istana Merdeka, di mana Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan anggota DEN, termasuk Chatib Basri dan Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan. Agenda utama meliputi ancaman pelemahan rupiah dan potensi kenaikan harga barang. Chatib Basri mengingatkan bahwa depresiasi rupiah dapat menurunkan daya beli masyarakat melalui kenaikan harga komoditas. Ia menekankan perlunya langkah antisipatif, termasuk efisiensi anggaran dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dapat menumbuhkan kepercayaan publik.
Dalam pertemuan tersebut, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa skema bantuan sosial (bansos) yang sedang disempurnakan tidak akan mengurangi program perlindungan sosial yang sudah berjalan. Juru bicara DEN, Jodi Mahardi, menambahkan bahwa transformasi digital pada penyaluran bansos bertujuan meningkatkan presisi, efisiensi, dan transparansi. Meskipun angka perkiraan bantuan mencapai Rp5,4 juta per rumah tangga, Jodi menegaskan bahwa manfaat riil akan bervariasi sesuai eligibilitas masing‑masing.
Chatib Basri menyoroti bahwa kepercayaan publik menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ia menilai bahwa kebijakan yang konsisten, termasuk program MBG dan reformasi bansos, dapat memperkuat optimisma pelaku usaha dan masyarakat. “Kepercayaan menjadi faktor kunci di tengah ketidakpastian global,” tegasnya.
Secara simultan, Dasco mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan strategi khusus pada pekan ini untuk memperkuat nilai tukar rupiah serta menstabilkan indeks harga saham gabungan (IHSG). Ia menilai bahwa kepercayaan terhadap pemerintah yang semakin kuat menjadi pendorong utama penguatan nilai tukar.
Kesimpulannya, kombinasi kebijakan fiskal yang terintegrasi, fokus pada produktivitas perusahaan, serta langkah-langkah antisipatif terhadap volatilitas mata uang menjadi landasan strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Chatib Basri, bersama rekan-rekannya di DEN, berkomitmen untuk terus memantau dinamika pasar, memperkuat kepercayaan publik, dan mengoptimalkan program sosial agar dapat menanggulangi tekanan inflasi serta menjaga daya beli masyarakat.