Gempa M6,7 dan Longsor Kamarora Guncang Sigi: Dampak Luas, Temuan Geologi, dan Upaya Penanggulangan Cepat
Berita Pilihan 22 Juni 2026 – Pada Senin, 22 Juni 2026, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kembali diguncang oleh aktivitas seismik. Gempa tektonik berukuran Magnitudo 2,7 tercatat pada pukul 05:42:39 WIB, menambah rangkaian gempa susulan setelah gempa utama berukuran M6,7 yang terjadi pada 16 Juni 2026. Kedua peristiwa ini menimbulkan dampak signifikan, mulai dari longsor material di Desa Kamarora, penutupan aliran Sungai Kamarora dan Sungai Keli, hingga kerusakan infrastruktur rumah tinggal.
Gempa utama M6,7 yang berpusat 42 km tenggara Kota Palu dengan kedalaman 10 km, dirasakan kuat di Sigi, Poso, dan Parigi Moutong. Badan Geologi mengidentifikasi bahwa gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar Palolo, bukan sesar Sausu seperti dugaan awal. Analisis distribusi gempa susulan, pola kerusakan, dan data geofisika menunjukkan keterkaitan erat dengan struktur graben Palolo yang masih aktif. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan berkelanjutan pada zona tektonik yang rawan.
Longsor di Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, menutupi aliran sungai seluas kira-kira dua kali lapangan sepak bola. Material longsor berupa tanah, batuan, dan pepohonan menghambat aliran air, meningkatkan risiko banjir bandang pada musim hujan. Tim Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) bersama perangkat desa melakukan inspeksi lapangan pada 20 Juni 2026, mencatat luas area terdampak dan menilai stabilitas tanah untuk mencegah pergerakan lanjutan.
Kerusakan fisik meluas ke sektor perumahan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sigi melaporkan total 2.335 rumah terdampak, dengan rincian 1.955 rumah rusak ringan, 226 rumah rusak sedang, dan 154 rumah rusak berat. Tiga warga dilaporkan meninggal dunia akibat runtuhnya bangunan, sementara puluhan lainnya mengalami luka ringan hingga berat. Dampak ini memperparah kondisi sosial‑ekonomi masyarakat setempat yang sebagian besar mengandalkan pertanian dan perikanan.
Respons cepat datang dari berbagai pihak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau aktivitas seismik dan menyediakan data real‑time untuk membantu koordinasi penanggulangan. Sementara itu, PT Citra Palu Minerals (CPM) bersama Posko ESDM Siaga Bencana menyalurkan bantuan logistik berupa makanan, minuman, dan tenda, serta mendirikan layanan kesehatan gratis di Puskesmas Nokilalaki. Hingga hari keenam pascagempa, sekitar 200 warga telah menerima layanan medis, mulai dari perawatan luka hingga penanganan penyakit menular seperti ISPA dan hipertensi.
Berikut rangkuman data kerusakan dan bantuan yang telah diberikan:
| Kategori | Jumlah |
|---|---|
| Rumah rusak ringan | 1.955 |
| Rumah rusak sedang | 226 |
| Rumah rusak berat | 154 |
| Korban meninggal | 3 |
| Korban luka | ~150 |
| Logistik (porsi makanan) | ~5.000 |
| Layanan kesehatan gratis | ~200 orang |
Selain upaya penanggulangan darurat, Badan Geologi menekankan pentingnya mitigasi jangka panjang, termasuk pemetaan zona longsor, perkuatan struktur bangunan, dan edukasi masyarakat tentang prosedur evakuasi. Pemerintah daerah bersama dengan kementerian terkait telah merencanakan program rehabilitasi infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak, serta pembangunan kembali fasilitas air bersih yang terpengaruh oleh penutupan sungai.
Gempa Sigi menggugah kesadaran akan kerentanan wilayah Sulawesi Tengah terhadap aktivitas tektonik. Koordinasi lintas lembaga, dukungan sektor swasta, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak bencana dan mempercepat proses pemulihan.