Berita Pilihan

Israel Culik Ratusan Aktivis Sumud Flotilla, Dua Relawan Indonesia Selamat; Kecaman Global Menguat

admin ·
Israel Culik Ratusan Aktivis Sumud Flotilla, Dua Relawan Indonesia Selamat; Kecaman Global Menguat

Berita Pilihan 03 Mei 2026 – Israel kembali menimbulkan sorotan internasional setelah operasi penangkapan di perairan Mediterania menahan dua aktivis utama Global Sumud Flotilla (GSF) dan melukai ratusan aktivis kemanusiaan yang berlayar menuju Gaza. Di tengah ketegangan, dua relawan asal Indonesia berhasil meloloskan diri dan kembali ke tanah air, menambah daftar korban dan saksi yang menuntut pertanggungjawaban.

Pada malam Rabu, 29 April 2026, armada GSF yang berjumlah sekitar 800 aktivis dari lebih 30 negara, termasuk Indonesia, Turki, Brasil, Spanyol, dan Malaysia, berusaha menembus blokade laut Israel. Kapal-kapal tersebut, yang membawa bantuan makanan, medis, dan peralatan penting, diserang oleh Angkatan Laut Israel di dekat Pulau Kreta. Sebanyak 22 kapal disita, 58 kapal keseluruhan terhenti, dan lebih dari 175 aktivis ditangkap atau terluka.

Baca juga:

Menurut laporan yang disampaikan oleh juru bicara GSF di Marmaris, Turki, 176 aktivis masih berada di kapal atau di darat setelah insiden. Dari jumlah itu, 34 orang mengalami luka-luka, lima di antaranya dalam kondisi serius dan memerlukan perawatan di rumah sakit besar. Cedera yang dilaporkan meliputi patah hidung, patah tulang rusuk, luka pada mata, dan beberapa kasus patah lengan. Aktivis asal Indonesia, Maimon Herawati, yang menjabat sebagai anggota steering committee GSF, menegaskan bahwa prioritas utama timnya adalah memastikan semua korban menerima perawatan medis yang memadai.

Di antara para penahan, dua aktivis terkemuka, Saif Abukeshek (juga dikenal sebagai Seif Abu Keshek) dan Thiago Avila, masih berada di wilayah Israel untuk proses interogasi. Pemerintah Spanyol dan Brasil menuduh Israel menculik warganya, sementara Turki, Italia, Jerman, dan beberapa negara lain mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.

Sementara itu, dua relawan Indonesia, yang tidak disebutkan namanya dalam laporan resmi tetapi diidentifikasi oleh jaringan aktivis lokal, berhasil menghindari penahanan. Mereka melaporkan bahwa saat kapal mereka dikepung, mereka dipisahkan dari kelompok utama dan diberi kesempatan untuk menurunkan diri di pantai Yunani sebelum kapal dibawa ke Israel. Kedua relawan tersebut kini berada di Turki, di mana mereka menerima perawatan medis ringan dan bantuan konsular.

Baca juga:

Berikut rangkuman singkat kondisi para korban:

  • Total aktivis di armada: sekitar 800 orang
  • Aktivis yang terluka: 34 orang (5 kritis)
  • Aktivis yang ditahan di Israel: 2 orang (Saif Abukeshek dan Thiago Avila)
  • Aktivis yang berhasil dievakuasi ke Turki: 57 orang
  • Relawan Indonesia yang selamat: 2 orang

Komunitas internasional menuntut Israel untuk segera membebaskan Saif Abukeshek dan Thiago Avila serta memberikan akses medis kepada semua korban. GSF menekankan bahwa penahanan tanpa proses hukum jelas melanggar Konvensi Jenewa dan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Mereka juga menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengeluarkan resolusi yang menuntut penghentian pemblokiran bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Israel, melalui Kementerian Luar Negeri, membela aksi tersebut dengan menyatakan bahwa armada GSF berafiliasi dengan organisasi teroris dan melakukan pelanggaran blokade laut yang sah. Pihak berwenang Israel menuduh Saif Abukeshek memiliki hubungan dengan jaringan terorisme, sementara Thiago Avila dituduh melakukan aktivitas ilegal.

Baca juga:

Reaksi diplomatik beragam. Turki menyebut tindakan Israel sebagai “pembajakan” dan menuntut pertanggungjawaban penuh. Brasil, Pakistan, Spanyol, Malaysia, dan Afrika Selatan mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras insiden tersebut. Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan dukungan pada Israel, mengklaim bahwa armada GSF beroperasi di bawah pengaruh Hamas.

Kasus ini menambah deretan kontroversi terkait operasi militer Israel di perairan internasional dan menyoroti kesulitan bantuan kemanusiaan yang mencoba menembus blokade Gaza. Para aktivis menegaskan bahwa tujuan mereka semata-mata membantu warga sipil yang terdampak, bukan mendukung kelompok bersenjata.

Dengan tekanan internasional yang terus meningkat, masa depan operasi Global Sumud Flotilla masih belum pasti. Namun, keberanian relawan Indonesia yang berhasil meloloskan diri memberi harapan bahwa upaya bantuan kemanusiaan tetap dapat dilanjutkan, asalkan ada perlindungan hukum yang memadai.