Berita Pilihan

Mengapa Teori Politik Tradisional Gagal Mengurai Sikap Unik Donald Trump

admin ·
Mengapa Teori Politik Tradisional Gagal Mengurai Sikap Unik Donald Trump

Berita Pilihan 04 Mei 2026 – Donald Trump kembali menjadi sorotan dunia dengan serangkaian kebijakan luar negeri yang tampak kontradiktif, mulai dari penarikan pasukannya di Afghanistan hingga ancaman memutus pasokan energi Iran. Kejadian-kejadian tersebut menantang para akademisi hubungan internasional yang selama ini mengandalkan teori politik klasik—seperti pemikiran Karl Marx, John Locke, serta aliran realisme dan liberalisme—untuk menafsirkan perilaku negara.

Di ruang kelas, mahasiswa Hubungan Internasional (HI) biasanya mempelajari teori-teori tersebut sebagai kerangka utama. Realisme menekankan kepentingan nasional dan kekuasaan, liberalisme menyoroti institusi dan kerja sama, sementara Marx mengaitkan kebijakan dengan kepentingan kelas dan ekonomi. Namun, realitas yang ditunjukkan oleh Trump mengungkap celah penting: kebijakan tidak selalu lahir dari kalkulasi rasional atau kepentingan struktural semata.

Baca juga:

Trump, yang memposisikan dirinya sebagai “pembisnis” dan “pahlawan rakyat”, seringkali mengedepankan citra pribadi, kebutuhan validasi, serta respons emosional terhadap kritik. Contohnya, keputusan menutup Selat Hormuz karena ketegangan dengan Iran tampak lebih dipengaruhi oleh rasa takut kehilangan kontrol geopolitik daripada analisis klasik tentang keseimbangan kekuatan. Pendekatan psikologis yang menelaah karakter pemimpin menjadi lebih relevan dalam konteks ini.

Berikut beberapa aspek yang menyoroti keterbatasan teori politik tradisional:

  • Emosi dan Persepsi Pribadi: Kebijakan Trump sering kali muncul setelah pernyataan publik yang provokatif, menunjukkan bahwa respons emosional dapat mengoverride pertimbangan strategis.
  • Kebutuhan Pengakuan: Gaya komunikasi yang mengutamakan popularitas di media sosial menimbulkan keputusan yang lebih bersifat simbolik daripada berbasis kepentingan nasional.
  • Pengaruh Domestik: Tekanan kelompok pendukung dan dinamika politik dalam negeri menggeser prioritas kebijakan luar negeri, menantang asumsi realisme bahwa negara beroperasi secara terisolasi.

Fenomena serupa tidak terbatas pada satu pemimpin. Sejarah evolusi manusia menawarkan analogi menarik. Penelitian terbaru tentang kepunahan Neanderthal menunjukkan bahwa kurangnya jaringan sosial menjadi faktor kunci. Homo sapiens yang membangun jaringan luas dapat bertahan dalam kondisi sulit, sementara Neanderthal yang terisolasi gagal. Analogi ini menegaskan bahwa struktur sosial—baik pada tingkat spesies maupun pada level kepemimpinan negara—menentukan kemampuan beradaptasi.

Baca juga:

Dalam konteks kebijakan luar negeri, jaringan pribadi dan jaringan diplomatik berperan serupa. Trump sering mengandalkan hubungan pribadi dengan pengusaha atau tokoh politik tertentu, mengabaikan institusi formal. Hal ini menimbulkan kebijakan yang tampak inkonsisten, seperti rencana membangun infrastruktur energi baru yang secara bersamaan mengancam keamanan energi nasional.

Meskipun teori politik tetap menyediakan kerangka berpikir, para ahli disarankan untuk mengintegrasikan pendekatan multidisipliner, termasuk psikologi kepemimpinan, ilmu sosial, dan analisis jaringan. Tanpa memperhitungkan dimensi manusia—emosi, identitas, dan kebutuhan sosial—analisis kebijakan akan kehilangan akurasi.

Beberapa langkah konkret yang dapat memperkaya studi hubungan internasional meliputi:

Baca juga:
  1. Menambahkan modul psikologi politik dalam kurikulum HI untuk memahami motivasi pribadi pemimpin.
  2. Menggunakan analisis jaringan sosial (social network analysis) guna memetakan konektivitas antar aktor internasional.
  3. Mengadakan kajian kasus yang menggabungkan data empiris tentang perilaku pemimpin dengan teori struktural tradisional.

Kesimpulannya, tidak ada teori tunggal yang dapat menjelaskan seluruh spektrum perilaku negara di era kompleks ini. Pendekatan integratif yang menghargai kedalaman manusia sebagai aktor politik menjadi kunci. Hanya dengan mengakui bahwa manusia lebih dari sekadar entitas rasional, ilmu hubungan internasional dapat kembali relevan dalam menginterpretasikan kebijakan luar negeri yang dipengaruhi oleh tokoh seperti Donald Trump.