Gempa Terkini: Deretan Guncangan di Sangihe, Sigi, dan Sulawesi Tengah Menyulut Kekhawatiran
Berita Pilihan 19 Juni 2026 – Gempa terkini yang terjadi pada Jumat, 19 Juni 2026, mengguncang beberapa wilayah di Indonesia, mulai dari perairan timur laut Tahuna di Kabupaten Kepulauan Sangihe, hingga daratan Sigi di Sulawesi Tengah. Meskipun sebagian besar guncangan memiliki magnitudo di bawah 5, dampaknya tetap menimbulkan kepanikan, kerusakan struktural, dan menambah beban penanganan bencana bagi Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Di perairan timur laut Tahuna, gempa dengan magnitudo 3,4 tercatat pada pukul 06.22 WIB (07.22 WITA). Pusat gempa berada pada koordinat 4,81° LS dan 125,57° BT, sekitar 133 km dari kota Tahuna, dengan kedalaman hanya 10 km sehingga tergolong dangkal. BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak menimbulkan potensi tsunami, namun masyarakat tetap diminta memantau informasi resmi.
Di daratan, dua gempa terjadi hampir bersamaan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Gempa pertama bermagnitudo 4,0 tercatat pukul 03.29 WIB, berpusat 43 km timur laut Sigi pada kedalaman 10 km. Tak lama setelahnya, pada pukul 03.26 WIB, gempa dengan magnitudo 4,4 mengguncang wilayah yang sama, dengan koordinat 1,03° LS dan 120,07° BT. Kedua gempa dirasakan dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) II‑III, cukup untuk membuat benda ringan bergetar, namun tidak menimbulkan kerusakan signifikan pada bangunan.
Sementara itu, wilayah Sulawesi Tengah masih berduka akibat gempa magnitudo 6,7 yang terjadi pada 16 Juni 2026. BNPB melaporkan total korban mencapai 6.458 jiwa, dengan 79 orang luka-luka. Kerusakan meluas ke ribuan rumah, fasilitas umum, serta infrastruktur penting. Data terakhir mencatat 1.456 unit rumah rusak ringan, 112 unit rusak sedang, dan 47 unit rusak berat, mayoritas berada di Kabupaten Sigi.
| Lokasi | Magnitudo | Kedalaman (km) | Waktu (WIB) | Kerusakan |
|---|---|---|---|---|
| Tahuna, Sangihe | 3,4 | 10 | 06:22 | Tanpa kerusakan signifikan |
| Sigi, Sulawesi Tengah (04:00) | 4,0 | 10 | 03:29 | Kerusakan ringan, MMI III |
| Sigi, Sulawesi Tengah (04:00) | 4,4 | 10 | 03:26 | Kerusakan ringan, MMI II |
| Sulawesi Tengah (16 Jun) | 6,7 | — | — | Ribuan rumah rusak, 6.458 jiwa terdampak |
Secara tektonik, wilayah Indonesia bagian timur, khususnya zona pertemuan Lempeng Laut Filipina, Lempeng Eurasia, dan mikro‑lempeng di sekitar Sulawesi Utara, merupakan daerah rawan gempa. Aktivitas subduksi di Selat Sangihe serta sesar‑sesar lokal meningkatkan frekuensi guncangan. BMKG terus memantau pergerakan lempeng dan mengimbau masyarakat untuk selalu siap sedia dengan peralatan darurat, seperti kotak P3K, senter, dan persediaan air bersih.
Selain gempa, kondisi cuaca di wilayah lain juga menjadi sorotan. BMKG memperkirakan cuaca di Jakarta pada hari yang sama akan cerah berawan, dengan suhu siang mencapai 33°C. Meskipun tidak terkait langsung dengan gempa, perubahan cuaca dapat memengaruhi operasi penanggulangan bencana, terutama dalam distribusi bantuan dan evakuasi.
Upaya penanganan terus digencarkan. BNPB bersama BPBD setempat melakukan pendataan korban, distribusi bantuan makanan, dan perbaikan sementara pada infrastruktur yang rusak. Tim SAR juga dikerahkan ke daerah terdampak untuk mencari korban yang mungkin terperangkap di reruntuhan. Pemerintah daerah menyiapkan posko darurat dan membuka jalur bantuan melalui jalur darat serta laut.</n
Secara keseluruhan, rangkaian gempa terkini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi lintas lembaga. Meskipun sebagian besar gempa berskala kecil, potensi dampak kumulatif tetap signifikan, terutama bila terjadi beruntun dalam waktu singkat.
Dengan memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan edukasi mitigasi bencana, serta mempercepat pemulihan infrastruktur, Indonesia dapat mengurangi risiko kerugian jiwa dan material di masa mendatang.