Berita Pilihan

Rupiah Hari Ini Terpuruk ke 16.468 per Dolar AS, Tekanan Fed dan Gejolak Global Mengguncang Pasar

admin ·
Rupiah Hari Ini Terpuruk ke 16.468 per Dolar AS, Tekanan Fed dan Gejolak Global Mengguncang Pasar

Berita Pilihan 24 Mei 2026 – Rupiah hari ini mencatat penurunan signifikan pada sesi pembukaan perdagangan Selasa, 6 Mei 2025. Nilai tukar resmi resmi Bank Indonesia terpantau melemah sebesar 14 poin atau 0,08 persen, berakhir pada 16.468 rupiah per dolar Amerika Serikat, naik dari 16.455 pada penutupan hari sebelumnya.

Penurunan ini terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis, 8 Mei 2025. Ariston Tjendra, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, menilai bahwa pasar masih menunggu arah kebijakan The Fed, sementara spekulasi tentang intervensi politik Amerika Serikat menambah volatilitas. “Pasar menantikan pengumuman kebijakan moneter terbaru Bank Sentral AS karena ketidakpastian yang meningkat di seputar keputusan The Fed,” ujarnya.

Baca juga:

Selain faktor domestik, dinamika geopolitik global turut menekan sentimen pasar valuta. Konflik yang berkepanjangan antara Iran dan sekutunya serta dampak sanksi terhadap ekspor energi menimbulkan tekanan pada pasar komoditas, yang pada gilirannya memengaruhi aliran modal ke pasar emerging, termasuk Indonesia.

Berikut rangkuman singkat pergerakan kurs pada hari tersebut:

Baca juga:
Waktu Kurs (Rupiah per USD)
Pembukaan 6 Mei 2025 16.468
Sebelumnya (penutupan 5 Mei) 16.455

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun penurunan tampak kecil dalam persentase, nilai tukar rupiah berada pada level yang cukup sensitif mengingat inflasi domestik yang masih berada di atas target Bank Indonesia. Kenaikan harga impor, terutama bahan baku industri dan kebutuhan pokok, dapat memperburuk tekanan inflasi jika tren depresiasi berlanjut.

Pengamat ekonomi menyoroti beberapa faktor yang dapat memperkuat atau melemahkan rupiah ke depan:

Baca juga:
  • Kebijakan The Fed: Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, arus modal ke pasar Amerika akan menguat, menurunkan permintaan terhadap mata uang emerging termasuk rupiah.
  • Harga minyak dunia: Konflik di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak, yang biasanya menguntungkan negara eksportir minyak namun menambah beban impor bagi Indonesia.
  • Sentimen domestik: Kebijakan fiskal pemerintah, termasuk subsidi energi dan reformasi pajak, akan memengaruhi neraca perdagangan dan cadangan devisa.

Bank Indonesia sendiri menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar bila diperlukan. Dalam pernyataannya, bank tersebut akan terus memantau pergerakan pasar valuta asing dan menyesuaikan kebijakan moneter sesuai dengan kondisi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah hari ini mencerminkan interaksi kompleks antara faktor domestik dan eksternal. Investor disarankan untuk memperhatikan kebijakan moneter global, terutama keputusan The Fed, serta perkembangan geopolitik yang dapat memicu volatilitas pasar valuta. Langkah-langkah kebijakan yang tepat dari otoritas moneter Indonesia akan menjadi kunci dalam menstabilkan nilai tukar dan melindungi daya beli masyarakat.