Operasi ‘Project Freedom’ AS Mulai di Selat Hormuz: Tujuh Kapal Iran Ditembak, Iran Membantah Klaim
Berita Pilihan 06 Mei 2026 – Amerika Serikat secara resmi meluncurkan operasi militer yang dinamai Project Freedom pada Selasa, 5 Mei 2026, dengan tujuan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang selama beberapa minggu terakhir terhambat oleh aksi blokade Iran. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa operasi ini dimulai dengan serangan terhadap tujuh kapal cepat yang diyakini dimiliki IRGC, dan menambahkan bahwa semua ancaman telah berhasil netralisir.
Menurut pernyataan resmi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), serangan dilakukan oleh helikopter militer yang menembak jatuh tujuh perahu kecil Iran yang dianggap mengganggu pelayaran komersial. Presiden Trump, melalui unggahan di platform media sosialnya, mengutip pernyataan Laksamana Brad Cooper bahwa enam atau tujuh “perahu cepat” telah dilumpuhkan, sekaligus menekankan bahwa tindakan tersebut tidak melanggar gencatan senjata yang sedang berjalan.
Iran langsung membantah klaim tersebut. Kantor berita resmi Tasnim melaporkan bahwa bukan kapal cepat militer yang menjadi sasaran, melainkan dua kapal kargo kecil yang terkena serangan, menewaskan lima warga sipil. Sumber militer Tehran menegaskan tidak ada satu pun kapal perang IRGC yang tenggelam, dan menuduh Amerika menyebarkan informasi yang tidak akurat untuk memperkuat narasi militernya.
Sementara sengketa klaim berlangsung, perusahaan pelayaran global Maersk mengumumkan bahwa kapal berbendera Amerika, Alliance Fairfax, yang terdampar di Teluk Persia sejak akhir Februari, berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan pendampingan aset militer AS tanpa insiden. Namun, tidak semua kapal beruntung. Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab melaporkan sebuah tanker milik ADNOC terkena serangan, dan Korea Selatan mengonfirmasi ledakan pada salah satu kapal mereka yang berlabuh di dekat perairan UEA. United Kingdom Maritime Transportation Operation (UKMTO) juga mencatat sebuah tanker terkena proyektil tidak dikenal pada 3 Mei, meskipun awak kapal selamat.
Blokade Iran telah menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan. Sekitar 20% produksi minyak dan gas bumi dunia biasanya melewati Selat Hormuz; akibat penutupan jalur, harga bahan bakar global mengalami lonjakan tajam. Selain itu, diperkirakan lebih dari 20.000 pelaut terperangkap di Teluk Persia sejak konflik dimulai pada akhir Februari, menghadapi risiko kesehatan fisik dan mental akibat keterbatasan logistik.
Skala operasi Project Freedom terbilang besar. CENTCOM mengungkapkan keterlibatan sekitar 15.000 personel, sejumlah kapal perusak bersenjata rudal, serta lebih dari 100 pesawat tempur dan helikopter. Penempatan aset militer ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan bagi kapal-kapal komersial yang ingin menembus selat yang strategis tersebut.
Dari sisi diplomatik, Trump menyatakan bahwa negara-negara di seluruh dunia telah meminta bantuan Amerika untuk mengamankan kapal mereka, dan bahwa perwakilan AS sedang melakukan pembicaraan “sangat positif” dengan Tehran. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut tidak melanggar gencatan senjata, meskipun pejabat militer senior Iran memperingatkan akan membalas setiap tindakan militer AS di wilayah tersebut.
Secara keseluruhan, operasi Project Freedom menandai eskalasi baru dalam konflik yang melibatkan AS, Iran, dan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk Persia. Meskipun Amerika menilai langkahnya berhasil membuka jalur pelayaran, Iran tetap menolak kebenaran klaim tersebut dan mengancam tindakan balasan. Situasi tetap tegang, dan perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada dinamika diplomatik serta kemampuan kedua belah pihak untuk mengendalikan konflik di salah satu jalur perdagangan paling vital dunia.