Berita Pilihan

Saifullah Yusuf Ungkap Penyebab Bansos Salah Sasaran: Kualitas Data Desa Jadi Kunci

admin ·
Saifullah Yusuf Ungkap Penyebab Bansos Salah Sasaran: Kualitas Data Desa Jadi Kunci

Berita Pilihan 03 Mei 2026 – Pada Sabtu, 2 Mei 2026, Menteri Sosial Republik Indonesia Saifullah Yusuf, yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Ipul, hadir di Pendopo Amangkurat, Kabupaten Tegal, dalam rangka Kolaborasi Program Prioritas Presiden untuk membangun sumber daya manusia menuju kemandirian ekonomi. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi panggung bagi Gus Ipul mengungkapkan akar permasalahan bantuan sosial (bansos) yang belum tepat sasaran.

Bansos Tidak Tepat Sasaran Masih Menjadi Tantangan Nasional

Gus Ipul menegaskan bahwa pada periode 2024 hingga awal 2025, tingkat ketidaktepatan sasaran bansos pernah mencapai 45 persen. Meskipun angka tersebut mulai menurun berkat pembaruan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), masih terdapat banyak penerima bantuan yang tidak sesuai dengan kriteria. “Secara jujur kita akui data kita memang belum sepenuhnya sempurna. Masih ada penerima bansos yang belum tepat sasaran,” ujarnya dengan tegas.

Baca juga:

Peran Strategis Operator Data Desa

Dalam forum yang dihadiri ratusan operator data desa, kepala desa, camat, dan pendamping PKH, Gus Ipul menyoroti bahwa operator data desa kini menjadi ujung tombak dalam memastikan akurasi data sosial‑ekonomi. “Kepala desa, bupati, sampai Menteri Sosial bergantung pada hasil input operator data desa,” kata Gus Ipul, menambah bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengandalkan data tersebut untuk perencanaan kebijakan.

Ketimpangan Kualitas SDM di Tingkat Desa

Menurut Gus Ipul, salah satu penyebab utama bansos tidak tepat sasaran adalah belum meratanya kualitas sumber daya manusia di tingkat desa. Tidak semua desa memiliki operator yang terlatih atau memahami mekanisme pembaruan data secara detail. Ia menekankan perlunya pelatihan intensif serta penyediaan sarana teknis bagi operator desa agar dapat menginput data secara akurat dan tepat waktu.

Baca juga:

Upaya Pemerintah Memperbaiki Sistem

Untuk mengatasi kendala tersebut, Kementerian Sosial meluncurkan serangkaian program pelatihan bagi operator data desa di seluruh Kabupaten Tegal. Selain itu, pilot project digitalisasi bansos di Tegal dijadikan contoh nasional, dengan harapan model ini dapat direplikasi di provinsi lain. Penerapan DTSEN yang lebih akurat di lapangan diharapkan dapat menurunkan angka kesalahan sasaran secara signifikan dalam jangka menengah.

Pendidikan dan Gotong Royong: Visi Gus Ipul untuk Masa Depan

Selain fokus pada bansos, Gus Ipul juga menyoroti masalah pendidikan. Dalam pernyataan lain yang disampaikan pada forum Hardiknas 2026, ia mengungkapkan bahwa jutaan anak Indonesia belum terdaftar dalam sistem pendidikan formal. Ia mengajak masyarakat untuk bergotong‑royong melalui program Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif yang menempatkan komunitas sebagai penyelenggara pendidikan dasar bagi anak‑anak yang putus sekolah. Program ini diharapkan dapat mengurangi angka putus sekolah yang diperkirakan mencapai empat juta.

Baca juga:

Dengan menekankan sinergi antara perbaikan data desa dan pemberdayaan pendidikan, Saifullah Yusuf berharap kebijakan sosial dapat lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Langkah-langkah konkret di Tegal menjadi contoh nyata bahwa perbaikan data, pelatihan operator, serta partisipasi masyarakat dapat menurunkan angka kesalahan penyaluran bansos sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil.

Ke depan, Kementerian Sosial berkomitmen memperluas program pelatihan, memperkuat infrastruktur digital, dan mengintegrasikan data pendidikan ke dalam DTSEN. Jika upaya tersebut berjalan konsisten, diharapkan Indonesia dapat mencapai sistem perlindungan sosial yang lebih adil serta menciptakan generasi muda yang terdidik dan siap berkontribusi pada perekonomian nasional.