Berita Pilihan

Raja Charles Trump: Pertemuan Canda di State Dinner dan Pidato Kontroversial di Kongres AS

admin ·
Raja Charles Trump: Pertemuan Canda di State Dinner dan Pidato Kontroversial di Kongres AS

Berita Pilihan 01 Mei 2026 – Washington – Pada Selasa, 28 April 2026, Gedung Putih menjadi saksi pertemuan istimewa antara Raja Charles III dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sebuah jamuan kenegaraan yang megah. Acara ini tidak hanya menonjolkan persahabatan historis antara Inggris dan Amerika, tetapi juga menghasilkan serangkaian candaan politik yang langsung menjadi sorotan media internasional.

Raja Charles memulai pembicaraan dengan sebuah lelucon yang mengacu pada era kolonial Inggris di Amerika Utara. Ia menyatakan, “Berani saya katakan, bila bukan karena kami, Anda mungkin akan berbicara bahasa Prancis.” Pernyataan itu memicu tawa hangat di antara para tamu dan sekaligus mengingatkan kembali persaingan Inggris‑Prancis sebelum kemerdekaan Amerika hampir 250 tahun yang lalu. Candaan tersebut menambah nuansa santai meski di baliknya terdapat ketegangan geopolitik, termasuk isu konflik Iran yang masih mengemuka.

Baca juga:

Presiden Trump menanggapi dengan humor sendiri, menyebut pidato Raja Charles di Kongres AS sebagai “momen yang membuat Partai Demokrat berdiri, sesuatu yang belum pernah saya lakukan.” Ia kemudian mengucapkan selamat kepada Raja Charles atas keberanian menyampaikan pidato pertama di Kongres, menyoroti bagaimana kata‑kata sang monarki berhasil menggelitik lawan‑lawannya di parlemen.

Selain pertukaran lelucon, pertemuan ini juga menampilkan simbolik hadiah bersejarah. Raja Charles menyerahkan sebuah lonceng dari menara kapal selam HMS Trump, yang diluncurkan pada tahun 1944 dan berperan dalam Pertempuran Pasifik selama Perang Dunia II. “Jika Anda butuh kami, cukup bunyikan loncengnya,” ujar sang Raja sambil memplesetkan kata “ring” dalam bahasa Inggris. Hadiah tersebut dipandang sebagai lambang hubungan militer dan budaya yang telah terjalin selama lebih dari satu abad.

Acara state dinner juga memperlihatkan dekorasi elegan berwarna merah muda dengan bunga sakura, menandakan upaya memperkuat ikatan budaya antara kedua negara. Lebih dari 100 tamu terhormat hadir, termasuk anggota kabinet, penasihat Raja, serta tokoh‑tokoh bisnis terkemuka. Daftar tamu utama meliputi:

Baca juga:
  • Jeff Bezos dan istrinya Lauren Sanchez
  • Tim Cook, CEO Apple
  • Hakim Mahkamah Agung: Samuel Alito, Amy Coney Barrett, Neil Gorsuch, Brett Kavanaugh, John Roberts, Clarence Thomas
  • Pejabat tinggi Republik dan tokoh konservatif terkemuka

Selama jamuan, Raja Charles juga menyentuh topik renovasi Gedung Putih, mengingatkan pada peristiwa 1814 ketika pasukan Inggris membakar gedung bersejarah tersebut. Ia menekankan bahwa hubungan kedua negara kini lebih kuat daripada sekadar sejarah konflik, melainkan sebuah kemitraan strategis di era globalisasi.

Pidato singkat Raja Charles di Kongres, yang menjadi bahan pembicaraan setelah jamuan, menyoroti pentingnya kerjasama trans‑Atlantic dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, keamanan siber, dan penyebaran informasi palsu. Meskipun gaya penyampaiannya ringan, pesan inti menekankan perlunya persatuan antara Amerika dan Inggris dalam menjaga tatanan dunia liberal.

Keseluruhan pertemuan tersebut mencerminkan upaya diplomatik yang menggabungkan tradisi monarki dengan dinamika politik Amerika modern. Kedua pemimpin tampak berusaha menyeimbangkan antara humor dan keseriusan kebijakan, dengan harapan hubungan bilateral dapat terus berkembang di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah.

Baca juga:

Dengan hadiah simbolis, candaan historis, dan janji kerjasama di masa depan, pertemuan Raja Charles Trump dan Donald Trump ini dipandang sebagai momen penting yang memperkuat aliansi “Special Relationship” antara Inggris dan Amerika Serikat.