Pakar Militer China Bongkar Titik Lemah AS di Perang Melawan Iran, Stok Amunisi Terkuras
Berita Pilihan 02 Mei 2026 – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah memasuki fase baru yang menuntut perhatian strategis global. Setelah dua bulan konfrontasi bersenjata yang dimulai pada 28 Februari 2026, operasi militer Amerika yang diberi sandi Epic Fury kini beralih dari kampanye udara presisi menjadi perang atrisi yang menelan banyak amunisi. Di tengah situasi ini, seorang pakar militer terkemuka dari Tiongkok secara terbuka mengidentifikasi apa yang ia sebut sebagai titik lemah AS, yakni ketergantungan pada persediaan amunisi konvensional yang kini mulai terkuras.
Pakar tersebut, yang menjabat sebagai penasihat senior di Akademi Pertahanan Strategis Beijing, menyampaikan temuannya dalam sebuah konferensi keamanan internasional di Shanghai pada awal Mei 2026. Menurutnya, strategi Amerika yang mengandalkan serangan udara berkecepatan tinggi dan penggunaan sistem persenjataan canggih menjadi tidak efektif ketika lawan mengadopsi taktik asimetris dan menargetkan rantai suplai logistik. “Stok amunisi konvensional Amerika kini berada pada level kritis, terutama karena operasi Epic Fury mengharuskan penembakan berulang pada target di wilayah Teluk,” ujarnya.
Data intelijen yang dipublikasikan oleh Pentagon memperlihatkan penurunan persediaan utama seperti roket Tomahawk, misil udara F-35, dan artileri self‑propelled. Selama tiga bulan terakhir, konsumsi roket Tomahawk mencapai lebih dari 85 persen dari kapasitas total yang tersedia di pangkalan Timur Tengah. Sementara itu, pasokan granat dan peluru artileri mengalami penurunan sebesar 40 persen dibandingkan dengan kuartal pertama 2026. Penurunan ini diperkirakan akan memaksa pihak militer Amerika untuk menunda atau bahkan menghentikan operasi ofensif selanjutnya jika tidak ada pengisian ulang yang signifikan.
Akibatnya, strategi Epic Fury yang semula direncanakan berlangsung selama enam minggu kini terpaksa dipersingkat menjadi empat minggu, dengan fokus pada sasaran strategis yang paling krusial. Gencatan senjata sementara yang dimediasi oleh Pakistan pada 8 April 2026 menjadi momen penting bagi kedua belah pihak untuk mengisi kembali persediaan logistik. Namun, menurut analisis pakar China, gencatan ini lebih bersifat “napas logistik” daripada tanda niat damai yang tulus. Kelemahan persediaan amunisi menambah tekanan pada keputusan politik di Washington, terutama mengingat Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan perintah perpanjangan gencatan atas permintaan Islamabad.
Di sisi Iran, transisi kepemimpinan ke Mojtaba Khamenei dan dukungan kuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membuat struktur militer negara tersebut menjadi lebih terpusat dan siap melanjutkan perlawanan. Meskipun kehilangan figur sentral Ali Khamenei, rezim Tehran berhasil mengoptimalkan taktik guerilla, memanfaatkan sistem pertahanan udara yang tersisa, serta melakukan serangan balasan terhadap instalasi logistik Amerika di wilayah Teluk. Keberhasilan ini menegaskan bahwa titik lemah AS tidak hanya terletak pada persediaan amunisi, tetapi juga pada kurangnya fleksibilitas dalam menghadapi konflik asimetris.
Implikasi temuan pakar militer China sangat luas. Secara taktis, Amerika Serikat diperkirakan akan mempercepat program produksi amunisi baru, termasuk pengembangan munisi hipersonik yang lebih sedikit bergantung pada stok tradisional. Secara strategis, Washington kemungkinan akan meninjau kembali kebijakan penempatan pasukan di Timur Tengah, mengalihkan beberapa sumber daya ke kawasan Indo‑Pasifik sebagai respons terhadap tekanan China di wilayah tersebut.
Kesimpulannya, penemuan titik lemah AS dalam konflik melawan Iran menggarisbawahi pentingnya diversifikasi rantai pasokan militer dan adaptasi taktik yang lebih dinamis. Jika Amerika tidak mampu mengatasi kekurangan amunisi dalam waktu singkat, posisi tawar mereka dalam negosiasi gencatan senjata akan semakin melemah, memberikan keuntungan bagi Tehran dan memperkuat posisi China sebagai penilai kritis dalam dinamika geopolitik global.