Berita Pilihan

Trump Dikecam Rakyat AS: Perang Iran Jadi Beban Politik yang Mengguncang Popularitas

admin ·
Trump Dikecam Rakyat AS: Perang Iran Jadi Beban Politik yang Mengguncang Popularitas

Berita Pilihan 25 April 2026 – Sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran meletus pada akhir Februari 2026, suasana politik di Washington mengalami gejolak hebat. Presiden Donald Trump, yang masih memegang kendali eksekutif, kini menghadapi gelombang kekecewaan yang menyebar luas di kalangan publik Amerika. Ratusan survei independen menunjukkan penurunan tajam dalam persetujuan publik terhadap kepemimpinan Trump, dipicu oleh kebijakan kerasnya terhadap Selat Hormuz dan keputusan memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu.

Trump menegaskan pada 23 April lewat pernyataan resmi dan unggahan di platform media sosialnya bahwa Amerika tidak berada di bawah tekanan untuk segera mengakhiri Perang Iran. Ia menambahkan, “Saya punya seluruh waktu di dunia, tetapi Iran tidak, waktunya terus berjalan!” Pernyataan ini menegaskan sikap tak terburu-buru pemerintahannya, sekaligus mengisyaratkan bahwa blokade ekonomi dan militer akan terus diberlakukan sampai Teheran menyerahkan tuntutan utama Washington.

Baca juga:

Kebijakan blokade tersebut berdampak signifikan pada perdagangan minyak global. Selat Hormuz, jalur laut yang melaluinya sekitar satu per lima ekspor minyak dunia, tetap ditutup sebagian besar. Trump mengklaim bahwa penutupan itu berada di bawah kendali penuh militer Amerika, dan ia siap menghancurkan kapal Iran yang menanam ranjau di wilayah tersebut. Sikap keras ini memicu kritik keras dari kalangan analis militer dan ekonomi, yang menilai bahwa tindakan semacam ini justru meningkatkan risiko eskalasi militer.

Sementara itu, rasa muak rakyat Amerika semakin terasa. Survei yang dirilis oleh lembaga Pew Research pada awal April mencatat bahwa persetujuan terhadap Trump turun dari 48% menjadi 31% dalam satu bulan. Beberapa faktor utama yang diidentifikasi meliputi:

  • Kenaikan harga bensin domestik akibat gangguan pasokan minyak.
  • Ketidakpastian ekonomi yang menambah beban rumah tangga.
  • Persepsi bahwa konflik Perang Iran tidak memberikan manfaat strategis yang jelas bagi Amerika.

Para pengamat politik menilai bahwa penurunan popularitas ini bukan sekadar reaksi sementara, melainkan indikasi bahwa kebijakan luar negeri Trump sedang menjadi beban politik yang berat. Seorang analis senior di Brookings Institution, Amanda Clarke, menyatakan, “Ketika seorang pemimpin mengabaikan tekanan domestik demi agenda luar negeri yang kontroversial, ia menempatkan dirinya pada posisi yang rawan kehilangan dukungan konstituen.”

Baca juga:

Di sisi lain, pemerintah Iran terus menolak semua tuntutan blokade dan ancaman militer. Presiden Iran Masoud Pezeshkian melalui akun media sosial resmi menegaskan kesiapan Tehran untuk berdialog, namun menolak segala bentuk “pelanggaran komitmen” yang dilakukan Amerika. Pezeshkian menuduh dunia melihat “retorika munafik” Trump, mengingat kebijakan keras yang tidak diimbangi dengan upaya diplomatik yang konsisten.

Ketegangan di Selat Hormuz juga memicu kehadiran kapal induk Amerika tambahan di wilayah tersebut. Kapal induk USS George H.W. Bush dilaporkan beroperasi di perairan Asia Barat, menambah tekanan militer yang sudah signifikan. Sejumlah pakar militer menilai bahwa penempatan kapal induk tersebut merupakan sinyal kekuatan, namun sekaligus meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara kapal perang kedua belah pihak.

Para pejabat senior Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pemerintahannya tetap bersatu dan tidak terpecah belah, menolak tuduhan “perpecahan internal” yang dilontarkan oleh pihak Trump. Mereka menekankan pentingnya membuka kembali Selat Hormuz secara damai, dengan syarat blokade ekonomi Amerika dicabut.

Baca juga:

Dalam konteks politik domestik, tekanan terhadap Trump semakin terasa di Kongres. Beberapa anggota Partai Demokrat telah mengajukan usulan resolusi yang menuntut evaluasi kembali kebijakan luar negeri AS terhadap Iran, termasuk peninjauan kembali sanksi ekonomi dan operasi militer di wilayah tersebut. Meskipun dukungan partai Republik masih kuat, suara-suara kritis dalam partai tersebut mulai terdengar, mencerminkan kekhawatiran akan dampak politik jangka panjang.

Secara keseluruhan, Perang Iran tidak hanya menjadi pertempuran di medan militer, melainkan juga pertarungan di arena politik Amerika. Rakyat yang semakin muak menuntut kepemimpinan yang lebih pragmatis, sementara Trump tetap berpegang pada strategi “waktu adalah milik kami, bukan milik Iran”. Bagaimana akhir dari konflik ini akan menentukan arah kebijakan luar negeri Amerika dan nasib politik Trump dalam pemilihan berikutnya.