Kelompok Pro-Palestina Serbu Pabrik Drone Elbit Systems di Leicester, Inggris: Aksi Mengejutkan
Berita Pilihan 29 April 2026 – Leicester, Inggris – Pada Jumat (24 Juni 2026), enam aktivis dari kelompok People Against Genocide berhasil menembus keamanan pabrik pertahanan Elbit Systems, produsen utama drone militer Israel, dalam aksi protes yang menyoroti dukungan Inggris terhadap penjualan senjata ke Israel. Para demonstran memanfaatkan sebuah van untuk menerobos gerbang, kemudian memanjat atap pabrik UAV Tactical Systems di kawasan Braunstone menggunakan tali, dan menurunkan diri ke dalam gedung.
Sesampainya di dalam, mereka menyemprotkan cat berwarna merah dengan tulisan “Intifada Revolution” serta menempelkan spanduk bertuliskan “Free Palestine”. Beberapa aktivis menggunakan palu besar dan linggis untuk merusak peralatan militer, termasuk unit kontrol drone. Video aksi yang beredar menunjukkan mereka memotong panel atap, memasang bahan kimia, dan merusak panel kontrol sebelum akhirnya dipaksa mundur oleh petugas keamanan.
Polisi Leicestershire segera merespon laporan pelanggaran, mengerahkan unit anti-teror serta tim khusus untuk menahan para pelaku. Enam orang ditangkap dengan tuduhan perusakan kriminal, pembobolan, serta penyerangan terhadap petugas darurat. Seorang juru bicara kepolisian menegaskan bahwa hak untuk protes damai tetap dihormati, namun tindakan melanggar hukum tidak akan ditoleransi.
Elbit Systems, perusahaan Israel yang berbasis di Tel Aviv, menyuplai sekitar 85 persen drone militer serta sistem persenjataan darat Israel. Produk-produknya telah menjadi bagian integral dari operasi militer di Gaza sejak konflik meningkat pada Oktober 2023. Menurut laporan organisasi hak asasi manusia dan PBB, operasi militer Israel di Gaza menewaskan lebih dari 72.500 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 orang, menimbulkan tuduhan genosida.
Kelompok People Against Genocide menyatakan tujuan utama mereka adalah menghentikan perdagangan senjata antara Inggris dan Israel, serta menutup pabrik-pabrik yang memproduksi peralatan yang digunakan dalam apa yang mereka sebut “genosida”. “Kami muak dengan kolaborasi pemerintah kami dalam pembunuhan massal di Gaza. Elbit Systems harus dihentikan,” ujar salah satu aktivis dalam wawancara yang dikutip oleh The New Arab.
Berikut adalah rangkaian kejadian utama yang terjadi pada aksi tersebut:
- 24 Juni 2026: Van melanggar gerbang pabrik Elbit Systems di Leicester.
- Para aktivis memanjat atap menggunakan tali, menyemprotkan cat dan menempelkan spanduk pro-Palestina.
- Masuk ke dalam gedung, mereka merusak peralatan drone dengan palu dan linggis.
- Polisi Leicestershire dan unit anti-teror berhasil mengamankan lokasi dan menangkap enam pelaku.
- Pelaku ditahan dengan tuduhan perusakan, pembobolan, dan penyerangan petugas.
Reaksi internasional beragam. Beberapa lembaga hak asasi manusia mengapresiasi aksi tersebut sebagai bentuk perlawanan damai terhadap industri militer yang dianggap mendukung pelanggaran hak asasi. Sementara itu, pemerintah Inggris menegaskan komitmennya terhadap regulasi ekspor senjata yang sesuai dengan standar internasional, meski tetap mempertahankan hubungan pertahanan dengan Israel.
Kasus ini menambah panjang daftar aksi protes terhadap perusahaan pertahanan Israel di luar negeri, yang telah lama menjadi target gerakan solidaritas Palestina. Pada tahun-tahun sebelumnya, beberapa kampanye boikot berhasil memaksa perusahaan multinasional meninjau kontrak mereka dengan Elbit Systems.
Secara keseluruhan, serangan di Leicester menegaskan meningkatnya ketegangan antara aktivis pro-Palestina dan pemerintah yang mendukung aliansi pertahanan dengan Israel. Dampak jangka panjang dari aksi ini masih harus dilihat, namun jelas bahwa isu perdagangan senjata dan tanggung jawab moral akan tetap menjadi pusat perdebatan publik di Inggris dan dunia.
Dengan lebih dari 72.500 korban jiwa di Gaza dan terus berlanjutnya serangan, tekanan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasokan militer diperkirakan akan semakin kuat, mendorong dialog internasional tentang akuntabilitas dan etika dalam perdagangan senjata.