Gibran Puji JK: Mentor dan Idola di Balik Kepemimpinan Baru
Berita Pilihan 23 April 2026 – Wapres Gibran Rakabuming Raka menanggapi pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), yang menyatakan dirinya memiliki peran penting dalam perjalanan politik Joko Widodo. Gibran memilih untuk menanggapi dengan sikap hormat, menegaskan kedekatan pribadi dan profesionalnya dengan JK, serta memuji kontribusi sang senior dalam kancah nasional.
Dalam konferensi pers yang digelar di rumah JK pada 18 April 2026, mantan Ketua Umum Partai Golkar itu mengungkapkan bahwa ia yang pertama kali memperkenalkan Jokowi kepada Megawati Soekarnoputri, sehingga Jokowi dapat maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta. JK menyebut, “Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur.” Pernyataan tersebut menjadi viral di media sosial, memicu perdebatan mengenai sejauh mana peran JK dalam karier politik sang presiden.
Gibran merespon dengan menyebut JK sebagai “senior saya” dan “mentor juga”. Ia menegaskan, “Pak JK itu senior saya, Pak JK itu mentor juga.” Gibran puji JK karena pengalaman panjangnya dalam pemerintahan, khususnya dalam menyelesaikan konflik daerah. Menurut Gibran, JK telah menjadi teladan bagi generasi pemimpin muda, dan ia mengakui JK sebagai idola pribadi dalam perjalanan kepemimpinannya.
“Beliau sudah sangat berpengalaman, beliau banyak kiprah dan kontribusinya untuk negeri ini, terutama di daerah‑daerah konflik,” ujar Gibran dalam sesi tanya jawab setelah meninjau RSUD JP Wanane di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Pernyataan itu menekankan bahwa selain peran politik, JK juga dikenal lewat upaya mediasi dan rekonsiliasi di wilayah‑wilayah yang mengalami ketegangan.
Gibran juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas masukan dan evaluasi yang diberikan JK. “Saya sangat berterima kasih sekali untuk masukan‑masukan dan juga evaluasi dari Pak JK,” kata Gibran. Ia menilai bahwa perspektif JK yang beragam memperkaya kebijakan pemerintah, terutama dalam hal penanganan konflik dan pembangunan daerah.
Alih‑alih menambah polemik, Gibran memilih menekankan pentingnya menjaga kebersamaan antar tokoh bangsa. Ia menegaskan bahwa sikap saling menghormati harus menjadi landasan dalam setiap narasi politik, sehingga fokus tetap pada kepentingan rakyat dan bukan pada persaingan pribadi.
Reaksi publik pun beragam. Sebagian mengapresiasi sikap Gibran yang tetap mengedepankan rasa hormat, sementara yang lain menilai pernyataan JK harus dipertanggungjawabkan secara historis. Media massa menyoroti bagaimana kedua tokoh menyeimbangkan antara nostalgia politik dan tuntutan kepemimpinan modern.
Secara keseluruhan, Gibran puji JK menegaskan nilai penting mentor dalam dunia politik Indonesia. Pernyataan tersebut tidak hanya memperkuat citra JK sebagai figur senior, tetapi juga menegaskan posisi Gibran sebagai pemimpin muda yang menghargai warisan pengalaman. Dengan mengedepankan rasa hormat dan kolaborasi, keduanya memperlihatkan contoh kepemimpinan yang mengutamakan stabilitas dan pembangunan berkelanjutan.