Harga Plastik Melambung, Komponen Otomotif Tertekan: Krisis Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
Berita Pilihan 23 April 2026 – Industri plastik Indonesia menghadapi tekanan luar biasa seiring harga plastik melambung akibat gejolak pasar energi dan konflik di Timur Tengah. Kenaikan biaya resin hingga 30‑40 persen menambah beban produksi, khususnya bagi produsen komponen otomotif yang sangat bergantung pada bahan baku petrokimia.
PT Ragam Purna Sejahtera, salah satu produsen kabel transmisi dan komponen plastik otomotif, merasakan dampak paling tajam. “Saat ini kenaikan paling berasa untuk komponen plastik, sebab resinnya aja naik hingga 30‑40%,” ujar Ahmad Mulyana, Division Head Marketing & Production. Bagi perusahaan skala Industri Kecil Menengah (IKM), lonjakan ini menggerogoti margin karena harga jual produk masih terikat kontrak.
Ahmad menambahkan, “Kami tidak bisa seenaknya menaikan harga, karena ada kontrak. Makanya, kami tahan saja dulu kenaikan harga material ini.” Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan mengadopsi langkah efisiensi yang dibimbing oleh mitra besar seperti Toyota, yang berbagi praktik pengurangan limbah dan optimalisasi proses produksi.
Produsen komponen besar pun tidak lepas dari tekanan. Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Rachmat Basuki, menyatakan bahwa para produsen besar masih dapat mengandalkan pasar purnajual dan ekspor, namun keduanya tertekan oleh permintaan yang lesu dan biaya produksi yang naik. “Terlebih lagi, pasar ekspor pun tidak bagus karena terimbas perang juga,” katanya.
Di sisi lain, konflik Amerika Serikat‑Israel melawan Iran serta penutupan Selat Hormuz memperburuk pasokan bahan baku plastik. Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), menjelaskan bahwa penutupan jalur laut utama menambah waktu pengiriman NAFTA dari 10‑15 hari menjadi lebih dari 50 hari bila harus diimpor dari wilayah lain. Hal ini meningkatkan biaya logistik dan menurunkan daya saing produk dalam negeri.
- Resin naik 30‑40%.
- Waktu pengiriman NAFTA meningkat 35‑50 hari.
- Kebutuhan NAFTA diproyeksikan naik dari 2,7 juta ton (2024) menjadi 4,5 juta ton (2025).
- Produsen IKM terpaksa menahan harga jual.
- Produsen besar mengandalkan segmen purnajual dan ekspor yang juga melemah.
Berikut gambaran singkat peningkatan biaya resin:
| Bulan | Kenaikan Harga Resin (%) |
|---|---|
| Jan‑2026 | 5 |
| Apr‑2026 | 22 |
| Jun‑2026 | 35 |
Dengan tekanan harga plastik yang terus meningkat, industri komponen otomotif harus menyesuaikan strategi produksi, mencari alternatif bahan baku, serta mengoptimalkan rantai pasokan. Pemerintah diharapkan dapat mempercepat kebijakan subsidi energi dan mendukung diversifikasi sumber bahan baku agar sektor ini tidak terperosok dalam krisis berkepanjangan.