Mata uang lokal Indonesia diuji: Dolar AS menguat, LCT jadi solusi, dan dampaknya pada harga sembako
Berita Pilihan 27 Mei 2026 – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menimbulkan tekanan signifikan pada sektor industri nasional. Pada akhir Mei 2026, dolar AS menguat 0,29 persen, mencapai level sekitar Rp 17.796 per dolar. Kenaikan ini memperburuk biaya produksi, terutama bagi industri yang masih mengandalkan bahan baku impor yang mencapai sekitar 24 persen dari total struktur bahan baku nasional.
Menanggapi situasi ini, Kementerian Perindustrian melalui juru bicaranya, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan pentingnya penerapan skema Local Currency Transaction (LCT). LCT memungkinkan importir membeli bahan baku dari luar negeri menggunakan mata uang lokal, bukan dolar, berdasarkan kesepakatan antara kedua belah pihak. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi beban biaya akibat fluktuasi nilai tukar dan menstabilkan harga produksi.
Berikut beberapa langkah kunci yang diusulkan oleh Kemenperin:
- Memperluas penggunaan fasilitas LCT melalui kerja sama dengan Bank Indonesia.
- Mengalihkan sumber bahan baku impor ke negara lain dengan nilai tukar yang lebih stabil.
- Mendorong investasi dalam pembuatan fasilitas produksi bahan baku di dalam negeri untuk menggantikan impor.
Langkah-langkah tersebut tidak hanya ditujukan untuk menahan dampak negatif dari dolar yang menguat, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat industri substitusi impor di Indonesia.
Sementara itu, dinamika harga pangan di tingkat konsumen juga menunjukkan gejala kenaikan yang signifikan. Data terbaru dari Siskaperbapo Jawa Timur pada 27 Mei 2026 mencatat kenaikan harga elpiji 3 kg sebesar Rp 626 (3,15 persen), bawang putih naik Rp 952 (3,40 persen), serta minyak goreng curah naik Rp 665 (3,24 persen). Kenaikan tersebut sebagian dipicu oleh biaya impor bahan baku yang tertekan oleh nilai tukar rupiah.
Berikut tabel ringkas perubahan harga sembako utama di Jawa Timur:
| Produk | Kenaikan/ Penurunan | Persentase |
|---|---|---|
| Elpiji 3 kg | +Rp 626 | +3,15% |
| Bawang putih | +Rp 952 | +3,40% |
| Minyak goreng curah | +Rp 665 | +3,24% |
| Bawang merah | -Rp 589 | -1,35% |
| Cabai keriting | -Rp 827 | -1,58% |
Fluktuasi harga tersebut menegaskan pentingnya stabilitas mata uang lokal dalam menjaga daya beli masyarakat. Ketika rupiah melemah, biaya produksi naik, yang pada gilirannya diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi.
Sejarah panjang rupiah juga memberikan perspektif penting. Selama tujuh puluh tujuh tahun, rupiah telah mengalami serangkaian devaluasi dan redenominasi, mulai dari krisis awal pasca‑kemerdekaan hingga hiperinflasi pada era 1960‑an. Pola berulang ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada mata uang asing, terutama dolar AS, dapat memperparah kerentanan ekonomi nasional.
Dengan latar belakang tersebut, kebijakan LCT bukan sekadar alternatif teknis, melainkan upaya strategis untuk menurunkan eksposur ekonomi Indonesia terhadap fluktuasi dolar. Jika berhasil, kebijakan ini dapat menurunkan biaya produksi, menstabilkan harga pangan, dan mengurangi tekanan inflasi yang biasanya muncul saat rupiah melemah.
Secara keseluruhan, sinergi antara kebijakan moneter, dukungan industri, dan pengawasan harga konsumen menjadi kunci untuk menjaga kestabilan ekonomi di tengah tekanan nilai tukar. Pemerintah, pelaku industri, dan konsumen diharapkan berperan aktif dalam mengadopsi solusi lokal guna mengurangi ketergantungan pada mata uang asing.