Rupiah Melemah, Pengrajin Tahu dan Tempe Kelabakan: Dampak Inflasi Impor yang Nyata
Berita Pilihan 17 Mei 2026 – Rupiah yang melemah hingga Rp17.600 per dolar AS memicu lonjakan biaya produksi dan tekanan inflasi impor yang dirasakan langsung oleh pengrajin tahu dan tempe. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan industri nasional pada bahan baku impor yang mencapai 70 persen di sektor kimia, tekstil, elektronik, hingga farmasi.
Menurut Erik Hermawan, Anggota Komisi XI DPR RI, pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh tekanan ganda, yakni eskalasi geopolitik global di Timur Tengah yang memicu capital outflow, serta persepsi risiko fiskal ke depan. Ia mendorong pemerintah mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) serta menyalurkan subsidi logistik pangan untuk menjaga stabilitas pasar dan daya beli masyarakat.
Ekonom Wijayanto Samirin menilai kondisi ini bisa memicu efek berantai ke sektor riil. Ketika biaya naik di hulu, harga di hilir hampir pasti ikut terdorong. Guru Besar Rahma Gafmi bahkan menyebut kenaikan sudah mulai terasa di tingkat produsen, terutama pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengingatkan biaya produksi industri akan meningkat. Beban itu pada akhirnya akan dibayar konsumen lewat harga yang lebih mahal. Dalam beberapa bulan ke depan, dampaknya bisa makin terasa di kantong masyarakat. Selama ketergantungan pada impor masih tinggi, pelemahan rupiah akan terus jadi ancaman.
Di tengah situasi ini, penting bagi pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi tekanan inflasi impor dan menjaga stabilitas ekonomi. Dengan demikian, dampak pelemahan rupiah dapat diminimalkan, dan kesejahteraan masyarakat dapat dipertahankan.