Dedi Mulyadi Usulkan Dua Solusi Tegas Atasi Ledakan Ikan Sapu-sapu di Sungai Jawa Barat
Berita Pilihan 26 April 2026 – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, menegaskan bahwa tingginya populasi ikan sapu-sapu bukan sekadar fenomena alam melainkan sinyal kuat pencemaran air sungai. Menurutnya, dominasi spesies pemakan alga ini mengindikasikan terganggunya keseimbangan ekosistem perairan, karena ikan sapu-sapu mampu bertahan di kondisi kualitas air yang buruk sementara ikan endemik lainnya tidak dapat beradaptasi.
“Jika sungai mengalami penurunan kualitas, yang bertahan hanyalah sapu-sapu. Di mana pun air tercemar, di situ pasti ikan sapu-sapu akan merajai,” ujar Dedi dalam sebuah wawancara di Bandung, mengutip data observasi tim ahli lingkungan setempat. Ia menambahkan bahwa kehadiran massal ikan sapu-sapu menciptakan monopoli habitat, memaksa ikan-ikan lokal kehilangan ruang hidup dan persaingan sumber daya.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Dedi mengusulkan dua langkah konkret yang harus dijalankan secara simultan. Pertama, mengurangi populasi ikan sapu-sapu melalui penangkapan massal yang melibatkan masyarakat secara sukarela. Kedua, melakukan upaya restorasi kualitas air sungai dengan mengurangi sumber pencemar, memperbaiki sistem pengelolaan limbah, dan melakukan penanaman vegetasi riparian.
- Penangkapan massal: Dedi mengajak warga di seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa Barat untuk secara bergotong-royong menangkap ikan sapu-sapu. Ia menekankan bahwa penangkapan harus dilakukan secara teratur dan terkoordinasi agar populasi spesies ini dapat ditekan secara signifikan.
- Perbaikan kualitas air: Upaya ini meliputi penegakan regulasi industri, peningkatan fasilitas pengolahan limbah domestik, serta program edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai. Dedi menekankan bahwa tanpa perbaikan kualitas air, ikan endemik tidak akan mampu kembali mengisi kembali ekosistem.
Langkah penangkapan massal sudah mulai diaplikasikan di sejumlah wilayah, seperti Kabupaten Bandung Barat, Subang, dan Cianjur. Warga setempat melaporkan bahwa mereka berhasil mengurangi jumlah ikan sapu-sapu yang terlihat di permukaan sungai, sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi tambahan dari penjualan ikan tersebut. Namun, Dedi mengingatkan bahwa penangkapan saja tidak cukup; perbaikan kualitas air tetap menjadi kunci utama.
Dalam konteks kebijakan, Dedi meminta dukungan dari pemerintah daerah, lembaga lingkungan, dan sektor swasta untuk menyediakan sarana penangkapan yang aman, serta mengalokasikan anggaran khusus bagi program rehabilitasi sungai. Ia juga menyoroti perlunya monitoring berkelanjutan untuk mengukur dampak kedua langkah tersebut terhadap keanekaragaman hayati dan kualitas air.
Para pakar ekologi setempat mengapresiasi pendekatan terintegrasi yang diusulkan KDM. Dr. Rina Wijaya, ahli biologi perairan Universitas Padjadjaran, menyatakan, “Mengurangi populasi ikan sapu-sapu memang penting, tetapi tanpa perbaikan kualitas air, efeknya hanya sementara. Kedua langkah ini harus berjalan beriringan untuk mengembalikan ekosistem yang sehat.”
Selain upaya teknis, Dedi menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat. Ia mengajak warga untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai, mengurangi penggunaan pestisida di lahan pertanian, dan berpartisipasi dalam program pembersihan sungai yang rutin diadakan oleh pemerintah daerah.
Dengan strategi dua arah ini, Dedi berharap sungai-sungai di Jawa Barat dapat pulih menjadi habitat yang mendukung keanekaragaman hayati, sekaligus mengurangi risiko penyebaran penyakit yang seringkali terkait dengan populasi ikan sapu-sapu yang berlebih. Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta akan menghasilkan perbaikan berkelanjutan bagi lingkungan perairan provinsi.
Jika upaya ini berhasil, Jawa Barat dapat menjadi contoh bagi provinsi lain dalam mengatasi permasalahan ekologi serupa, sekaligus meningkatkan kesadaran nasional akan pentingnya menjaga kualitas air sebagai aset vital bagi kehidupan manusia dan alam.