US-Iran deal Dijadwalkan Ditandatangani Besok, Selat Hormuz Siap Dibuka: Reaksi Israel dan Dunia
Berita Pilihan 13 Juni 2026 – Jumat malam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa US-Iran deal akan ditandatangani pada hari Minggu, dengan janji bahwa Selat Hormuz akan langsung dibuka untuk semua kapal setelah penandatanganan. Pengumuman tersebut disampaikan lewat platform Truth Social, di mana Trump menegaskan bahwa kesepakatan akan mengakhiri blokade Iran yang telah menahan lalu lintas maritim global selama hampir empat bulan.
Menurut pernyataan resmi dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, proses finalisasi kesepakatan telah mencapai tahap akhir, dengan teks akhir yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Sharif menambahkan bahwa Pakistan siap memfasilitasi penandatanganan elektronik US-Iran deal sesegera mungkin, dan pertemuan teknis lanjutan dijadwalkan pada minggu depan.
Di sisi lain, pejabat Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei, menyatakan keraguan bahwa penandatanganan dapat terjadi pada hari berikutnya. Baghaei menekankan bahwa tanggal pasti masih dalam pembahasan dan menolak spekulasi yang terlalu cepat, meskipun menutup pintu bagi kemungkinan kesepakatan dalam beberapa hari ke depan.
Reaksi Israel terhadap US-Iran deal sangat tegas. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa selama ia menjabat, Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir. Netanyahu juga menyatakan bahwa Israel tetap berada dalam “kebebasan aksi” dan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki, meskipun Washington tampaknya telah mengalah pada beberapa tuntutan Tehran. Sejumlah pejabat senior Israel mengkritik kesepakatan yang dianggap mengorbankan kepentingan keamanan Israel, terutama terkait dengan permintaan Iran untuk mempertahankan cadangan uranium yang telah dienggrakan.
Sementara itu, militer Amerika Serikat melaporkan bahwa operasi “Epic Fury” yang diluncurkan pada 28 Februari tetap aktif, meskipun ada sinyal diplomatik untuk menurunkan ketegangan. Pentagon menyatakan bahwa kapal-kapal komersial telah diarahkan kembali ke jalur aman, dan sembilan kapal telah dinonaktifkan untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade yang sedang dilonggarkan.
Berbagai analis menyoroti lima “red line” yang menjadi titik kritis dalam US-Iran deal, antara lain:
- Penghentian total program senjata nuklir Iran.
- Pembukaan Selat Hormuz tanpa syarat.
- Pelepasan aset beku Iran di luar negeri.
- Pengawasan inspeksi internasional yang ketat.
- Jaminan bahwa Iran tidak akan mendukung kelompok militan seperti Hezbollah.
Jika semua poin tersebut dapat dipenuhi, para pengamat ekonomi memperkirakan akan terjadi penurunan tajam pada harga energi global, yang selama ini terdorong oleh ketidakpastian pasokan minyak dari Teluk Persia. Sekretaris Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan harapan bahwa penyelesaian konflik akan memberikan kelegaan bagi konsumen energi di seluruh dunia.
Namun, skeptisisme tetap tinggi, terutama di kalangan politisi Amerika yang menilai bahwa Trump belum menyediakan rincian konkret mengenai mekanisme verifikasi nuklir. Seorang pejabat senior administrasi menuturkan bahwa skema inspeksi baru akan menjadi bagian dari perjanjian, namun detail teknisnya belum dipublikasikan.
Di kawasan, pertempuran antara Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon terus berlanjut. Angkatan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan bahwa lebih dari sepuluh komandan lapangan Hezbollah telah terbunuh dalam serangan udara terbaru. Meski demikian, Israel tetap menegaskan komitmennya untuk mempertahankan posisi strategis di selatan Lebanon.
Ketegangan geopolitik ini menambah kompleksitas proses damai. Amerika Serikat telah menghubungi sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Kuwait, untuk mengkoordinasikan langkah-langkah pasca‑perjanjian. Trump menyebutkan bahwa Wakil Presiden JD Vance akan menghadiri upacara penandatanganan yang diperkirakan berlangsung di Eropa pada akhir pekan.
Jika US-Iran deal berhasil ditandatangani, dampaknya akan terasa tidak hanya pada keamanan regional, tetapi juga pada dinamika politik dalam negeri masing‑masing negara. Di Israel, perdebatan internal mengenai kebijakan luar negeri akan semakin intens, sementara di Iran, harapan akan pengurangan sanksi ekonomi akan memicu tekanan pada kelompok radikal yang menentang kompromi.
Kesimpulannya, US-Iran deal menjanjikan perubahan signifikan dalam lanskap politik dan ekonomi Timur Tengah. Namun, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada kemampuan semua pihak untuk menegakkan ketentuan teknis, mengatasi keraguan, dan memastikan bahwa kepentingan keamanan Israel tidak terabaikan. Dunia menantikan hasil akhir, dengan harapan bahwa pembukaan Selat Hormuz akan menandai awal era stabilitas baru di wilayah yang selama ini dilanda konflik.