Pemadaman Listrik Hari Ini Guncang Sekolah, Rumah Tangga, dan Industri di Jawa serta Sumatra
Berita Pilihan 12 Juni 2026 – Pada tanggal 12 Juni 2026, pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra menimbulkan dampak luas, mulai dari kegagalan ujian Olimpiade Sains Nasional di Sukabumi hingga kerugian ratusan juta rupiah bagi peternak ayam di Deli Serdang.
Di SDN Gandasoli, Sukabumi, Jawa Barat, seorang siswi bernama Nadia Putri Muda Paramita tak dapat menyelesaikan soal pada sesi ketiga mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial karena aliran listrik tiba‑tiba padam. Nadia, yang telah mempersiapkan diri selama berbulan‑bulan, menangis terisak‑isak saat keluar ruangan ujian. Pihak sekolah menunggu hingga batas waktu pelaksanaan, namun listrik tak kunjung kembali menyala dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya mengenai pemadaman.
Sementara itu, di wilayah Cipayung, Depok, Aisyah, seorang ibu tiga anak berusia 30 tahun, mengalami pemadaman selama empat jam mulai pukul 16.00 WIB. Tanpa informasi lewat aplikasi PLN atau edaran RT, Aisyah harus menunggu dalam gelap, mengganggu tidur balita dan aktivitas rumah tangga. Kasus serupa juga terjadi pada Ella, 28 tahun, yang tinggal di Majalaya, Karawang. Ia melaporkan pemadaman dari pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, serta gangguan serupa di kawasan Karawang Barat pada malam hari.
Menurut laporan Bloomberg Technoz, pemadaman bergilir di Pulau Jawa tercatat sejak 10 Juni, meliputi kota‑kota besar seperti Bandung, Cimahi, Karawang, Purwakarta, Bogor, Cirebon, dan Indramayu. Di luar Jawa, wilayah Semarang, Tegal, Yogyakarta, serta Sumatra juga melaporkan gangguan serupa. Pemadaman di Sumatra terjadi pada akhir Mei 2026, mempengaruhi ribuan rumah tangga dan pelaku usaha.
Peternak ayam pedaging di Klambir Lima Kebun, Deli Serdang, Sumatra Utara, merasakan dampak paling fatal. Dandi (25), yang mengelola kandang close‑house berkapasitas 30.000 ekor, kehilangan 800 ekor ayam dalam satu hari karena genset mati akibat kehabisan solar. Ia menghabiskan lebih dari Rp 25‑30 juta untuk bahan bakar dan kehilangan produksi. Dandi menyatakan rencananya akan mengajukan kompensasi ke PLN dan menyoroti kesulitan mendapatkan solar di daerah terpencil.
Keluhan serupa datang dari dunia usaha. Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia mengeluarkan pernyataan khawatir akan dampak pemadaman terhadap iklim investasi. Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, menekankan pentingnya keandalan listrik bagi sektor manufaktur, ekspor, dan pengembangan pusat data. Ia menuntut evaluasi menyeluruh terhadap pembangkit, transmisi, dan distribusi, serta prioritas penanganan kawasan industri saat terjadi gangguan.
Berbagai pihak mengkritisi kurangnya komunikasi sebelum pemadaman. Baik warga maupun pelaku usaha menyebut tidak ada pemberitahuan melalui aplikasi PLN Mobile, media sosial, atau edaran RT. Ketidakpastian ini memperparah dampak, terutama bagi rumah tangga dengan balita, pelajar yang mengikuti ujian, serta usaha yang bergantung pada genset.
Berikut rangkuman dampak utama pemadaman listrik hari ini:
- Gagalnya ujian Olimpiade Sains Nasional di Sukabumi, menimbulkan kekecewaan bagi siswa berprestasi.
- Gangguan tidur dan aktivitas rumah tangga bagi ibu‑ibu di Depok dan Karawang.
- Kematian 800 ekor ayam di Deli Serdang, kerugian finansial hingga Rp 30 juta.
- Kekhawatiran investor terkait keandalan listrik di kawasan industri Jawa Barat.
Para pihak menuntut perbaikan sistem kelistrikan, peningkatan cadangan daya, serta mekanisme pemberitahuan yang transparan dan tepat waktu. Tanpa langkah tersebut, risiko gangguan serupa dapat terus menghambat pendidikan, kesejahteraan keluarga, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Upaya pemulihan masih berlangsung. PLN menargetkan pemulihan total di Sumatra Utara pada pertengahan Juni, sementara otoritas daerah berkoordinasi dengan pihak keamanan untuk memastikan distribusi informasi yang lebih baik kepada masyarakat.