Kapal Tanker Minyak Qatar Diserang Iran di Selat Hormuz
Berita Pilihan 11 Mei 2026 – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan menyerang kepentingan AS di Timur Tengah apabila kapal tanker Iran kembali menjadi sasaran serangan. Ancaman itu muncul sehari setelah jet tempur Amerika menembaki dua kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman.
Washington menuduh kedua kapal tersebut menentang blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. “Setiap serangan terhadap kapal tanker dan kapal dagang Iran akan dibalas dengan serangan besar terhadap salah satu pusat Amerika di kawasan dan kapal-kapal musuh,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.
Situasi itu terjadi ketika Washington masih menunggu jawaban resmi Teheran atas proposal terbaru terkait perundingan damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperkirakan Iran akan memberikan jawaban terhadap proposal tersebut “malam ini”.
Namun hingga Sabtu, belum ada tanda-tanda publik bahwa respons itu telah disampaikan melalui mediator Pakistan. Di tengah ketidakpastian diplomasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru mempertanyakan keseriusan Amerika Serikat dalam proses negosiasi.
“Peningkatan ketegangan terbaru oleh pasukan Amerika di Teluk Persia dan berbagai tindakan mereka yang melanggar gencatan senjata telah menambah kecurigaan terhadap motivasi dan keseriusan pihak Amerika dalam jalur diplomasi,” kata Araghchi dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri Turki.
Pada Jumat, jet tempur Amerika menembaki dan melumpuhkan dua kapal tanker Iran di Teluk Oman. Pemerintah AS menuduh kapal tersebut mencoba menerobos blokade maritim terhadap Iran. Seorang pejabat militer Iran mengatakan, angkatan laut Iran telah membalas insiden itu dengan serangan terhadap target tertentu, meski rincian lebih lanjut tidak disampaikan.
Kapal tanker minyak Qatar bernama Al Kharaitiyat juga diserang oleh Iran di Selat Hormuz karena dianggap melanggar blokade. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran kecil di beberapa area kapal. Namun, kobaran api kini sudah dipadamkan. Otoritas Qatar menjelaskan, tidak ada korban jiwa imbas insiden tersebut.
Blokade Selat Hormuz oleh Iran masih berlangsung sejak Februari sebagai respons atas serangan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. AS juga memblokade Selat Hormuz dan sempat merencanakan operasi Project Freedom untuk mengamankan pelayaran, namun ditunda karena negosiasi damai dengan Iran masih berjalan.
Ketegangan antara Iran dan AS turut meluas ke Lebanon setelah serangan udara Israel menewaskan sembilan orang, memicu respons drone dari Hizbullah menjelang rencana perundingan di Washington.
Iran menggunakan apa yang disebut sebagai “armada nyamuk” yang terdiri dari ratusan kapal untuk mengendalikan Selat Hormuz. Armada ini terdiri dari sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir dan beberapa ribu kapal cepat rudal serta kapal serang.
Dalam menghadapi ketegangan ini, AS membentuk Komando Misi Khusus baru untuk mengawasi “pasukan khusus yang dapat dikerahkan,” dengan unit-unit dinas tersebut telah memainkan peran sentral dalam meningkatkan upaya untuk menargetkan pelayaran sipil di perairan internasional sejak akhir tahun 2025.
Personel Penjaga Pantai, berdasarkan hukum AS, dapat menaiki kapal, melakukan penyitaan, dan melakukan penangkapan, meski mereka memiliki sedikit dasar hukum untuk melakukannya di perairan internasional, yang telah membuat operasi mereka sangat kontroversial secara internasional.
Kesimpulan dari ketegangan antara Iran dan AS ini menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah masih sangat tidak stabil dan dapat memicu konflik yang lebih besar jika tidak diatasi dengan baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya diplomatik yang lebih serius untuk mengakhiri konflik ini dan mengembalikan stabilitas di kawasan.