Penjualan Properti dan Kinerja Ekonomi: Tren dan Tantangan
Berita Pilihan 09 Mei 2026 – Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 secara tahunan mengalami penurunan sebesar 25,67% daripada sebelumnya tumbuh sebesar 7,83% pada triwulan IV 2025. Penurunan ini menunjukkan bahwa penjualan properti masih menghadapi tantangan.
Selain itu, harga pangan juga menjadi sorotan. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah mencapai Rp65.350 per kilogram pada Sabtu pagi di tingkat nasional. Telur ayam ras tercatat berada di level Rp31.150 per kilogram di tingkat pedagang eceran nasional.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan revisi aturan mengenai Rencana Bisnis Bank (RBB) terbit pada kuartal III 2026. Revisi aturan tersebut ditujukan agar perbankan memiliki perencanaan bisnis yang lebih terarah dan berkelanjutan, termasuk dalam penyaluran kredit.
Rupiah melemah ke Rp17.382 per dolar AS pada Jumat sore, melemah 49 poin atau 0,28 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah dipicu oleh memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengganggu harapan pasar terhadap pembukaan Selat Hormuz.
Dalam beberapa hari terakhir, beberapa acara ekonomi juga berlangsung. FLEI Business Show 2026 resmi bergulir, dorong kewirausahaan lewat lebih dari 150 peluang bisnis. Acara ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat dalam berwirausaha.
Kesimpulan, penjualan properti dan kinerja ekonomi saat ini masih menghadapi beberapa tantangan. Namun, dengan revisi aturan dan upaya peningkatan kewirausahaan, diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekonomi dan memperbaiki kehidupan masyarakat.