Berita Pilihan

Harga Solar Naik Tajam, Ratusan Nelayan Muara Angke Terpaksa Tunda Perahu

admin ·
Harga Solar Naik Tajam, Ratusan Nelayan Muara Angke Terpaksa Tunda Perahu

Berita Pilihan 07 Mei 2026 – Harga solar di wilayah Jakarta dan sekitarnya mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa minggu terakhir, memaksa ratusan nelayan di pelabuhan Muara Angke menunda keberangkatan mereka. Kenaikan ini tidak hanya menggerogoti pendapatan harian para penangkap ikan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya pasokan ikan segar bagi konsumen kota metropolitan.

Menurut data yang dikumpulkan dari sejumlah kapal nelayan, harga solar per liter meningkat dari Rp9.500 menjadi sekitar Rp13.000, mencerminkan kenaikan hampir 37 persen dalam rentang waktu kurang dari satu bulan. Kenaikan ini jauh melampaui inflasi umum dan menambah beban operasional bagi para nelayan yang mengandalkan kapal diesel berkapasitas kecil.

Baca juga:

Nelayan di Muara Angke, yang mayoritas berusia antara 30 hingga 55 tahun, mengaku harus menimbang antara melanjutkan operasi dengan biaya bahan bakar yang tinggi atau menunda perjalanan demi menghemat pengeluaran. “Kalau kami tetap berlayar, biaya bahan bakar akan memakan hampir setengah pendapatan harian,” ujar Budi Santoso, seorang kepala kapal dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. “Kami terpaksa menunggu harga turun, atau mencari cara lain untuk mendapatkan penghasilan,” tambahnya.

Berbagai faktor menjadi penyebab utama melonjaknya harga solar. Kenaikan harga minyak dunia, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta kebijakan pajak bahan bakar yang lebih ketat berkontribusi pada peningkatan biaya. Selain itu, pembatasan kuota produksi oleh pemerintah menambah tekanan pada pasokan domestik, memaksa importir menyesuaikan harga jual.

Akibatnya, dampak ekonomi tidak hanya terasa pada nelayan, tetapi juga pada pedagang ikan, restoran, dan konsumen akhir. Menurut perkiraan asosiasi pedagang ikan Jakarta, harga ikan segar dapat naik hingga 15 persen jika pasokan menurun akibat penurunan aktivitas penangkapan.

Baca juga:
  • Kenaikan harga solar: +37%
  • Potensi penurunan pendapatan nelayan: -30% hingga -40%
  • Perkiraan kenaikan harga ikan: +15%

Pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) telah merespons situasi dengan mengadakan pertemuan darurat bersama perwakilan nelayan, distributor bahan bakar, dan pihak terkait. Dalam pertemuan tersebut, DKP menyatakan akan mengupayakan subsidi bahan bakar khusus untuk sektor perikanan, serta mengevaluasi kembali kebijakan pajak yang dianggap memberatkan.

Namun, para nelayan tetap skeptis. “Janji subsidi sudah banyak terdengar, tetapi realisasinya belum jelas,” kata Siti Nurhaliza, seorang penangkap ikan wanita yang mengoperasikan jaring tradisional. “Kami butuh solusi cepat, bukan janji yang tertunda.”

Sebagai alternatif, sebagian nelayan mulai mengalihkan kegiatan mereka ke usaha budidaya tambak atau memanfaatkan pasar online untuk menjual hasil tangkapan secara langsung, mengurangi ketergantungan pada biaya bahan bakar tinggi.

Baca juga:

Para ahli ekonomi menilai bahwa situasi ini mencerminkan kerentanan sektor perikanan tradisional terhadap fluktuasi harga energi. Mereka menyarankan diversifikasi sumber energi, seperti penggunaan mesin berbahan bakar biodiesel atau listrik, serta peningkatan efisiensi operasional kapal.

Di tengah ketidakpastian, komunitas nelayan Muara Angke tetap berupaya menjaga solidaritas. Mereka membentuk kelompok koperasi untuk membeli solar secara kolektif dengan harga yang lebih bersaing, serta mengadakan pelatihan tentang manajemen keuangan dan strategi pemasaran.

Jika harga solar tidak segera stabil, diperkirakan lebih banyak kapal akan menunda operasi, memperburuk penurunan pasokan ikan, dan menambah beban pada ekonomi kota yang sangat bergantung pada sektor perikanan. Pemerintah diharapkan dapat memberikan respons yang cepat dan terkoordinasi demi menjaga kesejahteraan nelayan dan keamanan pangan masyarakat.