Berita Pilihan

Harga Solar Meroket, Ratusan Nelayan Muara Angke Terpaksa Hentikan Layar

admin ·
Harga Solar Meroket, Ratusan Nelayan Muara Angke Terpaksa Hentikan Layar

Berita Pilihan 06 Mei 2026 – Lonjakan harga solar di wilayah Jakarta telah memaksa ratusan nelayan yang beroperasi di Pelabuhan Muara Angke menghentikan aktivitas melaut. Kenaikan tarif bahan bakar tersebut menambah beban operasional yang sudah tinggi, memaksa para penangkap ikan menunda atau bahkan membatalkan perjalanan ke laut.

Menurut data yang dikumpulkan oleh asosiasi nelayan setempat, rata-rata harga solar per liter naik hampir 30 persen dalam dua minggu terakhir. Kenaikan ini berimbas langsung pada biaya operasional kapal perikanan, yang sebagian besar mengandalkan mesin diesel berbahan bakar solar. Bagi banyak nelayan, tambahan biaya tersebut tidak dapat ditutupi oleh harga jual ikan di pasar tradisional.

Baca juga:

Para nelayan mengaku terpaksa menurunkan frekuensi melaut. “Kami biasanya pergi ke laut tiga hari dalam seminggu, tapi sekarang hanya bisa satu atau dua hari karena biaya bahan bakar terlalu mahal,” ujar Budi, salah satu kapten kapal berukuran 12 meter. “Jika terus berlanjut, kami akan kehilangan mata pencaharian,” tambahnya.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada nelayan, tetapi juga pada rantai pasok perikanan di Jakarta. Penurunan volume tangkapan mengakibatkan penurunan pasokan ikan segar di pasar tradisional dan supermarket. Harga ikan pun cenderung naik, menambah beban konsumen.

Berikut beberapa dampak utama yang dirasakan oleh komunitas nelayan Muara Angke:

Baca juga:
  • Peningkatan biaya operasional harian hingga 40 persen.
  • Penurunan frekuensi melaut hingga 50 persen.
  • Penurunan pendapatan rata-rata per kapal sebesar Rp2,5 juta per bulan.
  • Kenaikan harga ikan di pasar lokal sebesar 10-15 persen.

Pemerintah daerah telah menerima banyak keluhan melalui posko keluhan nelayan di Muara Angke. Sekretaris Dinas Perikanan DKI Jakarta, Siti Nurhaliza, menyatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan paket bantuan subsidi solar khusus untuk sektor perikanan. “Kami memahami beban yang dihadapi nelayan, dan sedang berkoordinasi dengan Dinas Energi untuk meninjau kebijakan subsidi BBM,” katanya.

Namun, para nelayan menilai langkah pemerintah masih terlalu lambat. “Kami butuh solusi segera, bukan janji-janji yang berlarut,” tegas Agus, ketua kelompok nelayan setempat. Kelompok tersebut juga mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat untuk menurunkan tarif solar nasional atau memberikan insentif pajak bagi kapal perikanan.

Sementara itu, para ahli ekonomi menilai bahwa lonjakan harga solar dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah global dan kebijakan tarif impor yang baru. Menurut Dr. Rina Widyastuti, dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Indonesia, “Jika tidak ada intervensi kebijakan, sektor perikanan tradisional akan semakin tertekan, mengingat mereka tidak memiliki akses ke teknologi bahan bakar alternatif seperti LPG atau listrik.

Baca juga:

Beberapa inisiatif lokal telah muncul sebagai upaya mitigasi. Beberapa kapal di Muara Angke mulai bereksperimen dengan mesin hybrid yang menggabungkan solar dengan tenaga listrik dari baterai. Selain itu, koperasi nelayan menggalang dana untuk membeli solar secara grosir, berharap dapat memperoleh harga yang lebih kompetitif.

Dengan kondisi yang belum menunjukkan perbaikan, para nelayan tetap menanti kebijakan konkret. Mereka berharap pemerintah dapat segera mengeluarkan subsidi harga solar atau mengalokasikan dana khusus untuk mendukung keberlanjutan usaha perikanan tradisional di Jakarta.