Berita Pilihan

Rupiah Tembus Rp17.425 per Dolar AS, Prabowo Desak Purbaya Jadi Gubernur BI

admin ·
Rupiah Tembus Rp17.425 per Dolar AS, Prabowo Desak Purbaya Jadi Gubernur BI

Berita Pilihan 06 Mei 2026 – Nilai tukar mata uang Garuda kembali menembus level kritis pada Selasa (5/5/2026) dengan catatan Rupiah 17.425 per dolar Amerika Serikat. Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan geopolitik yang semakin menguat, khususnya konflik militer di Timur Tengah serta sentimen risiko global yang beralih ke aset safe‑haven. Pasar valuta asing mencatatkan koreksi tajam, dengan Rupiah turun 0,09% menjadi Rp17.425 pada pukul 09.15 WIB, melampaui level sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.400‑17.410.

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmen untuk terus berada di pasar guna menahan volatilitas. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa bank sentral akan mengoptimalkan bauran kebijakan intervensi, termasuk transaksi Non‑Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic NDF (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI siap membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menyerap likuiditas berlebih. Intervensi tersebut dirancang secara konsisten dan terukur, menjaga nilai tukar sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Baca juga:
  • Transaksi NDF offshore untuk mengurangi tekanan dolar.
  • Transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.
  • Pembelian SBN di pasar sekunder.

Tekanan yang dihadapi Rupiah tidak unik. Erwin mencatat bahwa mata uang negara berkembang lainnya juga mengalami pelemahan: Philippine Peso turun 6,58%, Thailand Baht melemah 5,04%, India Rupee turun 4,32%, Chile Peso minus 4,24%, dan Korea Won terdepresi 2,29%. Kondisi ini mencerminkan aliran modal global ke dolar AS yang dipicu oleh kebijakan moneter ketat Federal Reserve serta kekhawatiran atas pasokan energi.

Di ranah politik, Presiden Prabowo Subianto menambahkan dimensi baru pada dinamika pasar. Dalam sebuah konferensi pers, Prabowo secara tegas mengajak Gubernur Bank Indonesia, Purbaya, untuk dipertimbangkan kembali sebagai Gubernur BI. Prabowo menilai bahwa kepemimpinan Purbaya dapat memperkuat koordinasi kebijakan antara pemerintah dan bank sentral, mempercepat respons terhadap fluktuasi nilai tukar, serta meningkatkan kepercayaan investor. Pernyataan ini menambah sorotan pada agenda ekonomi nasional menjelang rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I‑2026.

Baca juga:

Para analis pasar memperkirakan Rupiah akan beroperasi dalam kisaran Rp17.350‑Rp17.460 pada perdagangan selanjutnya. Lukman Leong, pengamat pasar uang, menekankan bahwa data PDB kuartal I yang diproyeksikan tumbuh 5,6% y/y akan menjadi katalis positif bila dapat menegaskan fundamental ekonomi yang kuat. Namun, kontraksi PMI Manufaktur yang masih berada di bawah 50% serta ketegangan geopolitik dapat menjadi faktor penahan. Investor kini menunggu sinyal kebijakan lanjutan dari BI serta langkah fiskal pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menanggapi situasi dengan rangkaian kebijakan tambahan. Pemerintah sedang memperkuat kerja sama swap mata uang dengan China, Jepang, Korea, serta negara lain, sekaligus menyiapkan penerbitan surat berharga dalam beragam mata uang untuk memperluas likuiditas. Airlangga menambahkan bahwa permintaan dolar dipengaruhi oleh faktor musiman, seperti kebutuhan ibadah haji dan pembayaran dividen pada kuartal kedua 2026. Dengan pendekatan yang dinamis, pemerintah berharap dapat menahan tekanan eksternal dan menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.

Baca juga:

Secara keseluruhan, penembusan Rupiah 17.425 menandai titik uji ketahanan kebijakan moneter dan fiskal Indonesia. Intervensi BI, dukungan politik dari Prabowo, serta langkah diversifikasi pembiayaan pemerintah menjadi pilar utama dalam upaya menstabilkan pasar. Jika koordinasi ini berjalan efektif, Rupiah berpotensi kembali menguat dalam beberapa minggu ke depan, meski tetap harus waspada terhadap gejolak eksternal yang dapat memicu volatilitas kembali.