Berita Pilihan

Terungkap! Eksekutor Taksi Online Akui Perannya dalam Pembunuhan Nenek di Pekanbaru

admin ·
Terungkap! Eksekutor Taksi Online Akui Perannya dalam Pembunuhan Nenek di Pekanbaru

Berita Pilihan 04 Mei 2026 – Polisi Riau mengungkap skenario lengkap pelaku pembunuhan dan perampokan nenek berusia 60 tahun di Pekanbaru, yang melibatkan seorang eksekutor yang mengaku bekerja sebagai sopir taksi online. Kasus ini menarik perhatian publik setelah dua pelaku eksekusi, SL (34) dan EW (39), harus dilumpuhkan dengan timah panas karena melawan saat penangkapan. Skenario lengkap mengungkap jaringan kejahatan yang dipimpin oleh AFT (21), menantu korban, dan melibatkan empat orang pelaku dengan modus operandi terkoordinasi.

Menurut keterangan Kombes Hasyim Risahondua, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau, pelaku pertama kali menghubungi korban melalui anaknya, Arnold, suami AFT yang memiliki kebutuhan khusus. Arnold dijanjikan pertemuan di sebuah ruko di Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru. Pada hari kejadian, empat pelaku tiba menggunakan mobil berlapis baja, membawa barang-barang curian dan senjata tajam. AFT bersama L (22) menahan Arnold di lokasi, sementara SL dan EW melaksanakan aksi kekerasan fisik.

Baca juga:

Eksekutor yang mengaku taksi online, SL, menggunakan kayu balok untuk memukuli nenek Dumaris hingga tewas setelah lima kali pukulan. Sementara EW membantu menata barang-barang berharga korban. Setelah aksi selesai, ketiga pelaku melarikan diri dengan mobil, meninggalkan Arnold yang kemudian dipaksa naik motor bersama L (22) menuju daerah Minas, Kabupaten Siak, dengan alasan mengantar ke rumah keluarga.

Penangkapan keempat pelaku dilakukan secara simultan oleh tim gabungan Satreskrim Polresta Pekanbaru, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau, serta tim Jatanras Ditreskrimum Polda Riau. AFT dan suami siri SL berhasil ditangkap di Aceh Tengah, sementara EW dan L ditangkap di Binjai, Sumatera Utara. Seluruh proses penangkapan berlangsung pada Minggu, 3 Mei 2026, dengan mobil tahanan berukuran besar berlapis baja yang membawa mereka ke Mapolresta Pekanbaru.

Sesampainya di Mapolresta, petugas menyiapkan dua kursi roda khusus untuk SL dan EW yang luka tembak di kedua kaki. Kedua kaki SL dibalut perban putih karena luka di paha kanan dan betis kiri, sedangkan EW mengalami luka timah panas di lutut kiri dan pergelangan kaki kanan. Kedua pelaku terlihat meringis kesakitan saat dipapah dan diangkat ke kursi roda.

Baca juga:

Polisi menegaskan bahwa penggunaan timah panas untuk melumpuhkan pelaku merupakan tindakan prosedural karena mereka melawan petugas. Kombes Hasyim menambahkan, “Kami tidak akan mentolerir perlawanan, terutama dalam kasus yang melibatkan kekerasan terhadap warga lanjut usia.”

Skenario lengkap mengungkap motivasi utama para pelaku adalah menguras harta warisan korban. AFT, yang merupakan menantu korban, mengaku bahwa niat awal hanya mencuri, namun berubah menjadi pembunuhan setelah korban menolak menyerahkan semua harta. Motif ini memperlihatkan dinamika kekeluargaan yang dipenuhi kepentingan materi, di mana hubungan darah tidak menjadi penghalang untuk melakukan kejahatan brutal.

Kasus ini menjadi sorotan publik tidak hanya karena kekerasan yang terjadi, melainkan juga karena keberadaan seorang eksekutor yang mengaku berprofesi sebagai taksi online. Pengakuan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan layanan transportasi daring, serta potensi penyalahgunaan identitas profesi untuk menutupi kegiatan kriminal.

Baca juga:

Polri kini tengah melakukan penyelidikan lanjutan untuk mengidentifikasi jaringan pendukung yang mungkin membantu pelaku dalam penyediaan kendaraan, senjata, dan rencana pelaksanaan kejahatan. Selain itu, pihak berwenang juga meninjau kembali prosedur keamanan pada platform taksi online, dengan harapan dapat mencegah penyalahgunaan serupa di masa mendatang.

Hasil penyidikan awal menunjukkan bahwa AFT dan L berperan sebagai otak dan pelaksana pencurian barang berharga, sementara SL dan EW berfungsi sebagai eksekutor fisik. Semua pelaku kini berada di tahanan, menunggu proses peradilan yang diperkirakan akan berujung pada hukuman berat, termasuk kemungkinan hukuman mati bagi mereka yang terbukti terlibat langsung dalam pembunuhan.

Kasus ini menegaskan kembali pentingnya koordinasi antar lembaga kepolisian dalam menindak kejahatan lintas provinsi, serta menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat terhadap profesi yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan, seperti taksi online.