Berita Pilihan

Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Diproyeksi Lebih Dari 5%, Proyeksi Kemenkeu dan BI Optimis

admin ·
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Diproyeksi Lebih Dari 5%, Proyeksi Kemenkeu dan BI Optimis

Berita Pilihan 04 Mei 2026 – JAKARTA, 5 Mei 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data resmi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal I 2026 pada Selasa mendatang. Menurut proyeksi internal Kementerian Keuangan, ekonomi nasional diperkirakan tumbuh sebesar 5,5 persen, sementara Bank Indonesia (BI) menilai angka tersebut sedikit lebih rendah di kisaran 5,4 persen. Kedua perkiraan menunjukkan bahwa pertumbuhan tetap berada di atas batas lima persen, menandakan momentum positif pada awal tahun.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan bahwa dukungan utama berasal dari kinerja penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPN BM) yang meningkat tajam. Rincian pajak menunjukkan pertumbuhan sebesar 57,7 persen pada anggaran 2026, mencerminkan aktivitas konsumsi yang kuat baik di sektor ritel maupun industri. “PPN dan PPN BM jelas digunakan untuk konsumsi, transaksi pembelian barang. Baik barang ritel maupun barang untuk dunia usaha,” ujar Juda dalam dialog Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) yang diselenggarakan oleh BI.

Baca juga:
  • PPN naik 57,7% YoY
  • PPN BM naik 57,7% YoY

Pemerintah juga mengubah pola belanja tahunan untuk memastikan distribusi yang lebih merata di tiap triwulan. Target belanja pada kuartal I ditetapkan sebesar 21 persen, sementara kuartal II hingga IV masing‑masing diperkirakan mencapai 26 persen. Kebijakan ini dirancang agar pertumbuhan ekonomi tidak terkonsentrasi pada satu periode saja, serta mendorong konsumsi masyarakat tetap berada pada tren meningkat.

Di sisi moneter, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyoroti pentingnya daya tahan ekonomi nasional di tengah disrupsi global. “Indonesia harus memiliki daya tahan yang lebih kuat,” tegasnya, menambahkan bahwa ekonomi domestik menyumbang 54 persen dari PDB melalui konsumsi, dan 30 persen berasal dari investasi. Untuk memperkuat fondasi tersebut, BI mempercepat intermediasi kredit, menyalurkan pembiayaan lebih cepat ke sektor‑sektor produktif, termasuk UMKM, industri manufaktur, dan infrastruktur.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga memberikan pandangannya. Ia memperkirakan pertumbuhan kuartal I dapat mencapai 5,5 persen atau bahkan lebih besar, mengingat momentum Ramadan dan Idul Fitri yang jatuh sepenuhnya pada periode tersebut. Konsumsi selama Ramadan biasanya mengalami lonjakan signifikan pada kebutuhan makanan, minuman, pakaian, serta transportasi, yang selanjutnya menambah tekanan positif pada permintaan domestik.

Baca juga:

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menambahkan bahwa indikator seperti indeks keyakinan konsumen dan penjualan ritel menunjukkan penguatan yang konsisten. Ia memperkirakan pertumbuhan tahunan sekitar 5,44 persen, dengan potensi mencapai 5,5 persen pada kuartal pertama. Namun, ia mengingatkan adanya risiko pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor barang modal dan menurunkan minat investasi asing.

Ekonom LPEM UI, Teuku Riefky, memberikan proyeksi yang sedikit lebih tinggi, yakni 5,48 persen secara tahunan dengan rentang 5,46‑5,50 persen. Ia menekankan bahwa fondasi pertumbuhan masih ditopang oleh tren positif akhir 2025, ketika ekonomi mencatat pertumbuhan 5,39 persen pada kuartal IV. Stimulus pemerintah, termasuk diskon transportasi, bantuan tunai, dan subsidi kredit UMKM, berperan sebagai pendorong utama pada akhir tahun sebelumnya.

Berbagai sektor berkontribusi pada outlook yang optimis. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar utama, memberikan lebih dari setengah kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sektor manufaktur, khususnya produksi barang menengah dan tinggi, menjadi mesin pertumbuhan tambahan. Di sisi lain, surplus perdagangan tetap berlanjut meski mengalami penyusutan karena impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor.

Baca juga:

Secara keseluruhan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 menunjukkan sinyal positif bagi para pelaku pasar, investor, dan pembuat kebijakan. Keseimbangan antara kebijakan fiskal yang mendukung pendapatan pajak, pola belanja pemerintah yang lebih merata, dan upaya moneter dalam mempercepat intermediasi kredit menciptakan fondasi yang cukup kuat untuk menahan guncangan eksternal. Jika data BPS mendukung perkiraan ini, Indonesia berpeluang mempertahankan laju pertumbuhan di atas 5 persen, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Dengan semua faktor tersebut, pengawasan berkelanjutan terhadap inflasi, nilai tukar, dan kondisi eksternal tetap menjadi prioritas, agar momentum pertumbuhan dapat terus terjaga sepanjang tahun 2026.