Berita Pilihan

Kim Jong Un Blak-Blakan: Tentara Korea Utara Diperintahkan Bunuh Diri di Ukraina

admin ·
Kim Jong Un Blak-Blakan: Tentara Korea Utara Diperintahkan Bunuh Diri di Ukraina

Berita Pilihan 04 Mei 2026 – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, secara terbuka mengungkapkan kebijakan ekstrem yang diterapkan pada pasukan Korea Utara yang ditempatkan di medan perang Ukraina. Pada sebuah upacara peringatan di Pyongyang, Kim menegaskan bahwa prajuritnya diberi pilihan antara mengakhiri hidup sendiri atau menjadi tawanan musuh, sebuah perintah yang ia klaim sebagai wujud kehormatan nasional.

Acara tersebut sekaligus menjadi peluncuran museum peringatan bagi prajurit yang gugur, sebuah simbol yang dirancang untuk menyoroti keberanian pasukan yang, menurut Kim, “tanpa ragu meledakkan diri” demi menjaga martabat negara. Museum ini dibuka pada 26 April 2026 di hadapan Menteri Pertahanan Rusia, Andrey Belousov, menandai semakin eratnya hubungan militer antara Pyongyang dan Moskow.

Baca juga:

Data intelijen Korea Selatan memperkirakan bahwa sekitar 15.000 tentara Korea Utara telah dikerahkan ke Ukraina sejak Oktober 2024. Dari jumlah tersebut, hampir 2.000 diperkirakan tewas di medan pertempuran, sementara hanya dua orang dilaporkan berhasil ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Ukraina. Angka-angka tersebut menegaskan tingginya risiko yang dihadapi pasukan Korut dalam konflik yang jauh dari tanah air mereka.

  • Jumlah tentara dikirim: sekitar 15.000 personel.
  • Korban tewas: hampir 2.000.
  • Jumlah yang ditangkap hidup-hidup: 2.

Perintah bunuh diri yang diungkapkan Kim Jong Un mencerminkan doktrin “penghancuran diri” yang telah diinternalisasi di antara pasukan. Sumber militer Ukraina melaporkan insiden di mana seorang prajurit Korut berusaha menggigit pergelangan tangannya sendiri untuk menghindari penahanan, menambah gambaran brutalnya situasi di garis depan.

Baca juga:

Kerja sama militer antara Korea Utara dan Rusia tidak hanya terbatas pada penempatan pasukan. Kedua negara sedang menegosiasikan rencana strategis baru hingga tahun 2031, mencakup uji coba rudal balistik jarak pendek buatan Pyongyang seperti Hwasong‑11 (KN‑23/KN‑24) dan kemungkinan penggunaan senjata kimia di medan perang. Pada tahun 2026 saja, Korea Utara dilaporkan telah melakukan tujuh uji coba rudal balistik, menandakan peningkatan kemampuan ofensif yang signifikan.

Reaksi internasional terhadap pengakuan Kim Jong Un cukup beragam. Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memperingatkan lonjakan aktivitas di fasilitas nuklir Korea Utara, mengingat keterkaitan antara pengembangan senjata konvensional dan potensial proliferasi nuklir. Sementara itu, para analis geopolitik menilai bahwa kebijakan Kim dapat memperdalam isolasi diplomatik Pyongyang sekaligus memperkuat aliansi dengan Moskow.

Baca juga:

Meski demikian, bagi pemerintah Korea Utara, langkah ini dianggap sebagai bukti solidaritas mereka kepada Rusia dalam konflik melawan Ukraina, serta sebagai demonstrasi kekuatan militer yang dapat dipertaruhkan demi kepentingan strategis. Kebijakan bunuh diri paksa ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi negara-negara lain yang mempertimbangkan menahan atau mengadili prajurit Korea Utara jika mereka berhasil ditangkap.

Secara keseluruhan, pengakuan Kim Jong Un membuka babak baru dalam dinamika konflik Ukraina dan menegaskan kembali peran Korea Utara sebagai aktor militer yang siap berkorban demi aliansi geopolitik. Dampak jangka panjangnya masih harus dilihat, terutama terkait kemungkinan eskalasi militer dan respons komunitas internasional terhadap praktik perang yang kontroversial ini.