Tragedi Mobil Seruduk Siswa di Pandeglang: Satu Anak Meninggal, Puluhan Luka, dan Kontroversi Kesehatan Pengemudi
Berita Pilihan 02 Mei 2026 – Pada Kamis, 30 April 2026, tepat pukul 09.30 WIB, sebuah mobil Toyota Innova hitam berplat A-1633-BF melaju dari arah Perempatan Cikole menuju Pertigaan Cipacung dan secara tiba‑tiba oleng ke kanan, menabrak kerumunan siswa SDN Sukaratu 5 yang sedang jajan di depan sekolah. Kejadian ini terjadi bersamaan dengan jam istirahat, sehingga banyak anak berada di luar kelas.
Pengemudi mobil tersebut adalah Ahmad Mursidi, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Pandeglang. Menurut saksi mata, mobil meluncur dengan kecepatan tinggi sebelum menabrak seorang sales, kemudian meluncur lagi dan menabrak anak‑anak. CCTV yang beredar di media sosial memperlihatkan momen mobil meluncur menabrak kerumunan, menimbulkan kepanikan dan keriuhan di antara para siswa.
Akibat benturan, tercatat sembilan orang menjadi korban. Dari jumlah tersebut, enam adalah siswa, dua adalah pedagang, dan satu lagi adalah sales. Salah satu siswa dilaporkan tewas di tempat kejadian, sementara sisanya menerima perawatan di Rumah Sakit Umum Pandeglang. Beberapa korban luka berat berada di bawah kolong mobil, berdarah dan harus dirawat intensif.
Guru kelas 3B, Rika, mengungkapkan bahwa sebelum kecelakaan, Mursidi terlihat mengenakan selang oksigen dan tampak lemah. Ia mengklaim pengemudi mengalami diabetes dan baru saja mengonsumsi insulin. Video amatir yang dibagikan warga menunjukkan Mursidi memakai alat bantu pernapasan, menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan mengemudi dalam kondisi tersebut.
Polisi setempat, melalui Kasatlantas AKP Surya Muhammad, menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Tim penyidik berupaya mengumpulkan keterangan saksi, hasil rekaman CCTV, serta rekam medis pengemudi. Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi mengenai kelalaian atau pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh Ahmad Mursidi.
Keluarga korban, terutama orangtua siswa yang meninggal, menolak untuk berdamai sebelum penyebab pasti kecelakaan diungkap. Mereka menuntut agar proses hukum berjalan transparan dan adil, serta meminta agar pihak berwenang memberikan kompensasi yang layak. Di sisi lain, sejumlah warga menuntut agar pengemudi yang berada dalam kondisi kesehatan buruk tidak lagi diperbolehkan mengemudi kendaraan dinas.
Reaksi masyarakat di media sosial sangat kuat. Banyak netizen menyerukan agar pihak berwenang memberikan sanksi tegas kepada pengemudi, mengingat dampak fatal dari mobil seruduk siswa tersebut. Hashtag #PandeglangTragedi menjadi trending pada hari kejadian, menandakan besarnya keprihatinan publik.
Kasus ini menimbulkan perdebatan tentang prosedur kesehatan bagi pejabat publik yang mengemudi kendaraan resmi. Pemerintah daerah diharapkan segera mengevaluasi kebijakan medis bagi para pejabat, termasuk pemeriksaan rutin bagi mereka yang mengemudi dalam tugas resmi.
Ke depan, keluarga korban dan masyarakat menanti hasil penyelidikan resmi. Diharapkan kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar standar keselamatan di jalan dapat ditingkatkan, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali.