Kontroversi Jule Safrie: Candaan Safrie Ramadhan Picu Na Daehoon Batasi Akses Anak
Berita Pilihan 02 Mei 2026 – Jakarta, VIVA – Sebuah insiden di media sosial menggemparkan dunia hiburan Indonesia ketika Safrie Ramadhan, influencer ternama, melontarkan serangkaian candaan yang ditujukan kepada mantan istri Na Daehoon, Julia Prastini alias Jule. Candaan tersebut dianggap melewati batas moral karena melibatkan ketiga anak mereka secara tidak pantas, memicu kemarahan Na Daehoon dan menimbulkan keputusan tegas untuk membatasi akses Jule ke anak-anak.
Pada Sabtu, 2 Mei 2026, Safrie mengunggah video di Instagram yang memperlihatkan interaksinya dengan anak-anak Daehoon. Di dalamnya, Safrie menambahkan komentar provokatif, “Keliatan kan lebih happy sama siapa (sumpah jokes),” serta “Beres nidurin anaknya, giliran nidurin emaknya (inijokesterakhirtaunini).” Komentar tersebut dengan cepat menjadi viral, menimbulkan perdebatan hangat di kalangan netizen tentang etika penggunaan anak dalam konten hiburan.
Na Daehoon, yang dikenal sebagai figur publik dengan jutaan pengikut, tidak tinggal diam. Melalui akun Instagram @daehoon_na, ia menyatakan keberatan kuat atas perlakuan tersebut. “Sebagai ayah dan pemegang hak asuh, saya memiliki kewajiban melindungi anak-anak dari situasi yang berpotensi merugikan secara mental maupun emosional,” tulis Daehoon. Ia menegaskan bahwa candaan Safrie bukan sekadar lelucon biasa, melainkan sebuah tindakan yang menyentuh ranah pribadi dan menempatkan anak-anak dalam posisi yang tidak layak.
Sebagai langkah konkret, Daehoon mengumumkan pembatasan akses pertemuan antara Jule dan anak-anak. Keputusan ini dijabarkan dalam pernyataan resmi yang mencakup tujuh syarat khusus, antara lain:
- Jule hanya boleh bertemu anak secara langsung dalam pendampingan profesional.
- Setiap pertemuan harus dilaporkan dan disetujui terlebih dahulu oleh Daehoon.
- Penggunaan foto atau video anak dalam konten media sosial dilarang keras.
- Jule tidak diperkenankan mengadakan kegiatan yang melibatkan anak secara publik tanpa izin.
- Segala bentuk lelucon atau komentar yang melibatkan anak dilarang.
- Jika terjadi pelanggaran, hak asuh dapat ditinjau kembali.
- Pertemuan harus terjadi di lingkungan yang aman dan terkontrol.
Daehoon menegaskan bahwa kebijakan ini bukan didorong oleh emosi atau dendam pribadi, melainkan demi menjaga kesejahteraan psikologis serta perkembangan anak. “Keputusan ini semata-mata untuk melindungi keamanan, kenyamanan, kesehatan mental, serta tumbuh kembang anak-anak,” tegasnya.
Sementara itu, Jule memberikan respons singkat lewat Instagram Stories, menyatakan bahwa ia akan menghormati keputusan tersebut demi kepentingan terbaik anak. Namun, netizen tetap membagi pendapat; sebagian mendukung tindakan Daehoon, sementara yang lain menilai pembatasan tersebut terlalu keras dan dapat merusak hubungan ibu-anak.
Kasus ini tidak hanya menyoroti dinamika keluarga selebriti, tetapi juga menimbulkan pertanyaan luas tentang batas etika dalam pembuatan konten digital. Para pakar psikologi anak menekankan pentingnya melindungi anak dari eksposur publik yang berlebihan, terutama ketika mereka dijadikan bahan lelucon atau materi promosi.
Di sisi lain, Safrie Ramadhan belum memberikan klarifikasi resmi mengenai komentar yang menyinggung tersebut. Beberapa sumber internal mengindikasikan bahwa Safrie mungkin akan mengeluarkan pernyataan permintaan maaf, namun hingga kini belum ada konfirmasi.
Insiden ini menambah daftar kontroversi yang melibatkan Na Daehoon, termasuk laporan sebelumnya tentang penggunaan kosmetik dewasa pada anak-anak yang juga menimbulkan kecaman publik. Kombinasi beberapa insiden tersebut menegaskan pentingnya regulasi lebih ketat bagi influencer dalam memproduksi konten yang melibatkan anak di bawah umur.
Dengan semakin meningkatnya perhatian publik terhadap isu perlindungan anak di dunia digital, diharapkan kasus Jule Safrie ini menjadi pelajaran bagi para konten kreator untuk lebih bijak dalam menyampaikan humor atau pesan mereka. Keputusan Daehoon menunjukkan bahwa hak asuh dan kesejahteraan anak dapat menjadi prioritas utama ketika batas etika terlampaui.