Kemendikti Batal Penutupan Prodi Tak Relevan: Fokus pada Pengembangan Berkelanjutan
Berita Pilihan 30 April 2026 – Jakarta, 30 April 2026 – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa kebijakan terkini Kementerian tidak lagi mengusung wacana penutupan prodi yang dianggap tidak relevan. Sebaliknya, kementerian mendorong perguruan tinggi untuk melakukan pengembangan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri masa depan.
Dalam konferensi pers yang digelar di kantor pusat Kemendikti, Brian menyatakan, “Alih‑alih kita menutup, kita justru mengembangkan. Dikembangkan ya, bukan ditutup.” Pernyataan itu menandai pergeseran paradigma dari sekadar mengeliminasi program studi menjadi upaya memperbaharui konten akademik secara berkelanjutan.
Contoh konkret yang diberikan ialah program studi teknik elektro. Dulu kurikulum berfokus pada rangkaian analog, namun kini kebutuhan industri menuntut integrasi teknologi Internet of Things (IoT). “Jurusan elektro zaman dulu berbeda dengan elektro zaman sekarang. Sekarang ada IoT, dulu belum ada,” ujar Brian sambil menekankan pentingnya penyesuaian materi ajar agar lulusan siap bersaing di pasar kerja yang cepat berubah.
Kementerian menekankan konsep “continuous improvement” atau perbaikan berkelanjutan. Setiap empat, bahkan dua tahun sekali, program studi diharapkan melakukan evaluasi dan penyegaran materi, meniru praktik negara‑negara maju. “Jika ada AI, IoT, atau komputasi kuantum, kita harus ubah kurikulum supaya lulusan dapat menggunakan teknologi yang akan dipakai empat tahun ke depan,” jelasnya.
Sekjen Kemendikti Badri Munir Sukoco sebelumnya mengungkapkan rencana meninjau prodi yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan kehidupan masa depan. Namun, pada pertemuan terbaru, Badri menambahkan bahwa proses seleksi akan lebih bersifat penyesuaian daripada penutupan. Ia menyebutkan bahwa analisis akan didasarkan pada kajian Program Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK) serta masukan dari dunia industri.
Akibat arahan tersebut, universitas di seluruh Indonesia mulai merancang strategi kolaborasi dengan perusahaan teknologi. Langkah‑langkah yang diusulkan antara lain:
- Mengadakan forum tahunan antara dosen, mahasiswa, dan perwakilan industri untuk meninjau tren teknologi.
- Mengintegrasikan modul praktikum berbasis proyek real‑world dalam setiap mata kuliah utama.
- Mengadaptasi sistem akreditasi internal yang menilai kemampuan lulusan dalam mengoperasikan teknologi terbaru.
Para pakar menilai kebijakan ini dapat meningkatkan employability lulusan serta mengurangi kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan pasar. Di samping itu, pendekatan pengembangan ini diharapkan dapat menstimulasi inovasi di dalam kampus, memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem teknologi global.
Secara keseluruhan, Kemendikti menolak penutupan prodi secara sepihak dan mengalihkan fokus pada pembaruan kurikulum yang responsif terhadap perubahan teknologi. Dengan mengedepankan sinergi antara pendidikan tinggi dan industri, pemerintah berharap lulusan masa depan tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga kompetensi praktis yang relevan dengan dinamika ekonomi digital.