Tes Kemampuan Akademik 2026: Tantangan, Solusi, dan Cerita Siswa dari Kaltara hingga Yogyakarta
Berita Pilihan 27 April 2026 – Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 menjadi agenda penting bagi ribuan siswa Sekolah Dasar (SD) di seluruh Indonesia. Penyelenggaraan tes ini tidak hanya menilai kemampuan numerasi dan literasi, tetapi juga menguji kesiapan infrastruktur digital serta strategi guru dalam mempersiapkan peserta. Berbagai wilayah melaporkan pengalaman yang beragam, mulai dari keberhasilan penyiapan perangkat hingga gangguan jaringan yang mengancam kelancaran ujian.
Di Kabupaten Bulungan, Kaltara, Bupati Syarwani bersama kepala dinas pendidikan dan tim Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) meninjau pelaksanaan TKA di SD Negeri 001 Tanjung Selor pada 27 April 2026. Sebanyak 3.138 siswa SD mengikuti tes yang meliputi dua mata pelajaran utama: Matematika (numerasi) dan Bahasa Indonesia (literasi). Bupati menegaskan bahwa hasil TKA bukan penentu kelulusan, melainkan alat bantu bagi guru untuk memetakan kebutuhan pembelajaran ke depan. Ia mencatat bahwa sekolah telah melakukan simulasi sebelumnya, sehingga siswa tampak siap menghadapi soal dengan batasan waktu.
Sementara itu, di Kabupaten Tangerang Selatan, Banten, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti bersama Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Toni Toharudin memantau 89 murid SDN Cipayung 01 Ciputat yang berhasil mengikuti gelombang 3 dan 4 TKA. Sekolah ini hanya memiliki 11 unit komputer, sehingga harus meminjam perangkat tambahan dari SDN Cipayung 02 dan guru sekitar. Gotong royong tersebut memungkinkan semua siswa menyelesaikan tes tanpa kendala teknis yang signifikan. Kepala sekolah, Lina Marlina, menambahkan pentingnya pembentukan Komunitas Belajar (Kombel) antar guru untuk meningkatkan kompetensi dalam mendukung persiapan TKA.
Di Yogyakarta, beberapa SD mengalami masalah teknis yang mengganggu proses ujian. Siswa kelas 6 SD Joannes Bosco melaporkan jaringan internet pada komputer sempat terputus selama sekitar 10 menit, menyebabkan kehilangan waktu kritis. Vincent, salah satu peserta, mengaku panik dan kehilangan konsentrasi pada soal nomor 25 hingga 30. Teman sekelasnya, Troy, menemukan adanya soal yang pilihan jawabannya tidak muncul hingga jaringan dipulihkan. Meskipun demikian, mereka tetap menyelesaikan bagian Matematika yang dianggap cukup sulit dan berharap jaringan pada ujian Bahasa Indonesia lebih stabil.
Untuk mengatasi kendala serupa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menyiapkan mekanisme TKA susulan. Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 059/H/M.2025, siswa yang mengalami gangguan teknis, non‑teknis (misalnya sakit), atau situasi force majeure dapat mengajukan permohonan susulan. Prosedurnya melibatkan laporan resmi dari sekolah beserta bukti pendukung, kemudian verifikasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi, Kantor Wilayah Kementerian Agama, serta Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Jadwal susulan ditetapkan pada 11–17 Mei 2026, namun siswa yang absen tanpa alasan jelas tidak berhak mengajukan permohonan.
Selain kebijakan administratif, Kementerian juga menyediakan contoh soal dan kunci jawaban untuk membantu persiapan siswa. Contoh 20 soal Bahasa Indonesia menekankan kemampuan membaca teks informasi dan fiksi, serta menguji pemahaman kosakata, struktur kalimat, dan kohesi wacana. Latihan ini dirancang agar siswa terbiasa dengan format soal TKA yang menekankan keterampilan membaca sebagai fondasi utama.
Berbagai data menunjukkan variasi partisipasi antar daerah. Berikut rangkuman singkat:
- Kaltara: 3.138 siswa SD, dua mata pelajaran, penggunaan aplikasi digital di seluruh kabupaten.
- Banten (Ciputat): 89 siswa, 11 komputer utama, peminjaman perangkat dari sekolah tetangga.
- Yogyakarta (Joannes Bosco): Gangguan jaringan, kehilangan waktu sekitar 10 menit, tingkat kesulitan soal Matematika tinggi.
Keseluruhan, pelaksanaan TKA 2026 menegaskan pentingnya kolaborasi antar instansi, kesiapan infrastruktur digital, dan dukungan guru dalam memfasilitasi peserta. Meskipun terdapat tantangan teknis, upaya adaptasi seperti susulan dan penyediaan materi latihan menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjadikan TKA sebagai instrumen evaluasi yang adil dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan dasar di Indonesia.