Berita Pilihan

Sekolah Rakyat Merayakan Tahun Pertama: Empati, Data, dan Kontroversi Anggaran Sepatu Rp27 Miliar

admin ·
Sekolah Rakyat Merayakan Tahun Pertama: Empati, Data, dan Kontroversi Anggaran Sepatu Rp27 Miliar

Berita Pilihan 05 Mei 2026 – Menteri Sosial Saifullah Yusuf, lebih dikenal sebagai Gus Ipul, memimpin rapat daring pada 4 Mei 2026 bersama kepala Sekolah Rakyat, tenaga pendidik, serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Rapat tersebut menjadi bagian penting persiapan peringatan satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang dijadwalkan pada 14 Juli 2026. Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang aman bagi anak-anak yang tumbuh dalam kondisi ekonomi, lingkungan, maupun pendidikan yang rentan. Ia menekankan perlunya mengedepankan empati dan data dalam mengelola program, serta menolak segala bentuk bullying, kekerasan fisik, seksual, atau intoleransi.

Dalam arahan tersebut, Gus Ipul mengumumkan tema peringatan satu tahun: “Dari Terlantar Menuju Bersinar.” Tema ini mencerminkan tujuan memperkuat prestasi, karakter, dan ruang ekspresi siswa di bidang seni, olahraga, dan keterampilan. Ia meminta pengelola Sekolah Rakyat tidak hanya mencatat capaian akademik, tetapi juga memantau perkembangan sosial serta minat dan bakat tiap siswa. Data Kementerian Sosial mencatat 59 Sekolah Rakyat telah terakreditasi dan diproyeksikan meluluskan 453 siswa pada tahun 2026, dengan rincian sebagai berikut:

Baca juga:
Tingkat Jumlah Lulusan 2026
SD 329
SMP 113
SMA 11

Asesmen awal menunjukkan banyak siswa memiliki gambaran masa depan, mulai dari melanjutkan kuliah, bergabung dengan TNI, hingga masih mengeksplorasi pilihan karier. Gus Ipul menegaskan tidak boleh ada lulusan yang kehilangan arah setelah menuntaskan pendidikan dasar, sehingga setiap anak memerlukan pendampingan yang disesuaikan dengan potensinya.

Sementara itu, publik kembali memperhatikan alokasi anggaran untuk pengadaan sepatu siswa Sekolah Rakyat yang mencapai sekitar Rp27 miliar. Anggaran tersebut memperkirakan harga sepatu Rp700 ribu per pasang, memicu pertanyaan mengenai efisiensi dana. Brand lokal Surabaya, Stradenine, yang muncul dalam foto penyerahan sepatu oleh Gus Ipul dan Gubernur Jawa Timur Khofifah, menyatakan harga produk sebenarnya berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per pasang. Stradenine menegaskan tidak terlibat dalam proses pengadaan resmi dan hanya menjual produk secara komersial.

Baca juga:

Menteri Sosial menanggapi sorotan tersebut dengan menegaskan bahwa seluruh proses penganggaran berada dalam mekanisme yang transparan dan diawasi ketat. Ia menambahkan bahwa alokasi dana mencakup kebutuhan dasar siswa secara menyeluruh, termasuk perlengkapan belajar, asrama, makanan, serta kebutuhan kesehatan.

Perbedaan utama Sekolah Rakyat dibandingkan dengan sekolah formal juga semakin jelas. Sekolah Rakyat menggunakan kurikulum nasional namun dengan pendekatan fleksibel, sistem multi‑entry dan multi‑exit, memungkinkan siswa masuk kapan saja dan menyelesaikan pendidikan sesuai capaian masing‑masing. Berbeda dengan sekolah biasa yang terikat kalender akademik, Sekolah Rakyat menawarkan pendidikan 100 % gratis, termasuk asrama, makan, seragam, dan kebutuhan harian, yang seluruhnya dibiayai negara melalui Kementerian Sosial. Target peserta didik khususnya anak-anak dari keluarga miskin (Desil 1‑2) serta anak jalanan yang tidak terdata dalam sistem pendidikan formal.

Baca juga:
  • Kurikulum: Nasional, pendekatan personal dan adaptif.
  • Biaya: Gratis total, tanpa beban orang tua.
  • Target: Anak miskin ekstrem dan anak jalanan.
  • Fasilitas: Asrama, laboratorium, fasilitas olahraga, dan ruang pengembangan diri dalam satu kawasan.

Di sisi pembangunan fisik, progres proyek Sekolah Rakyat di DKI Jakarta telah mencapai lebih dari 40 % dan diproyeksikan selesai pada 20 Juni 2026. PT Hutama Karya (Persero) melaporkan bahwa delapan bangunan utama—rumah susun guru, gedung sekolah, asrama SD, asrama SMP/SMA putri, asrama SMP/SMA putra, masjid, fasilitas utilitas, serta area lanskap—sedang dibangun dengan skema tiga shift untuk mempercepat penyelesaian. Kunjungan direksi menegaskan komitmen kualitas, ketepatan waktu, serta standar keselamatan dan kesehatan kerja.

Secara keseluruhan, satu tahun perjalanan Sekolah Rakyat mencerminkan upaya integratif antara kebijakan sosial, pendidikan inklusif, dan pembangunan infrastruktur. Dengan menekankan empati, data, dan transparansi, program ini berusaha menjawab tantangan pendidikan bagi anak-anak paling rentan, sekaligus menanggapi kritik publik terkait penggunaan anggaran. Keberhasilan program akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, pengawasan yang ketat, serta kemampuan menyediakan pendampingan berkelanjutan bagi setiap siswa agar benar‑benar dapat “bersinar” setelah menuntaskan pendidikan dasar.