Berita Pilihan

Gubernur Pramono Tandatangani Sister City Jakarta-Jeju, Bahas Energi Terbarukan dan BTS di Seoul

admin ·
Gubernur Pramono Tandatangani Sister City Jakarta-Jeju, Bahas Energi Terbarukan dan BTS di Seoul

Berita Pilihan 28 April 2026 – Jakarta resmi menjalin hubungan sister city dengan Provinsi Otonomi Khusus Jeju, Korea Selatan, dalam sebuah penandatanganan nota kesepahaman yang dilangsungkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul pada 25 April 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Jeju Oh Young-hun menandatangani MoU yang menekankan kolaborasi di bidang energi terbarukan, pariwisata, serta ekonomi digital.

Kerja sama ini dirancang untuk mengintegrasikan keahlian Jeju dalam energi bersih, terutama tenaga angin dan surya, ke dalam program ambisius Jakarta yang menargetkan peningkatan persentase energi terbarukan dalam bauran energi kota. Di samping itu, kedua pihak sepakat memperkuat promosi pariwisata silang, memanfaatkan daya tarik alam Jeju serta potensi budaya dan kuliner Jakarta untuk menarik wisatawan dari kedua wilayah.

Baca juga:

Pramono menegaskan bahwa Jeju menjadi mitra strategis dalam upaya Jakarta masuk dalam jajaran 50 kota global terkemuka pada tahun 2030. “Kolaborasi ini bukan sekadar pertukaran teknologi, melainkan sinergi pemerintah‑pemerintah, bisnis‑bisnis, dan rakyat‑rakyat yang akan mempercepat transformasi kota menuju keberlanjutan,” ujarnya dalam konferensi pers yang dihadiri media lokal dan internasional.

Selain agenda formal, pertemuan Gubernur Pramono dengan Wakil Wali Kota Seoul memperluas diskusi ke ranah budaya pop Korea Selatan. Pramono mengakui bahwa dalam dialognya, mereka tidak hanya membahas isu‑isu infrastruktur, melainkan juga topik kekinian seperti K‑Pop, K‑Food, dan industri koreografi yang semakin mendunia. Ia menambahkan, “Diskusi tentang BTS dan fenomena K‑Pop memberi warna baru pada hubungan kami, sekaligus membuka peluang kerjasama budaya yang dapat memperkaya kreativitas generasi muda Jakarta.”

Rencana penampilan boy group BTS di Jakarta menjadi sorotan utama. Pramono mengungkapkan bahwa ia pernah mengusulkan dua lokasi potensial untuk konser akhir 2026: Jakarta International Stadium (JIS) di Utara dan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) di Senayan. Namun, usulan tersebut memicu reaksi keras dari komunitas penggemar BTS, yang dikenal sebagai ARMY. Mereka menolak JIS karena akses transportasi yang dianggap kurang optimal, sementara GBK dipandang lebih mudah dijangkau dan memiliki fasilitas keluar‑masuk yang lebih nyaman.

Baca juga:

Protes ARMY tidak hanya datang dari publik, melainkan juga dari anak Pramono yang merupakan anggota ARMY. Mengingat tekanan tersebut, gubernur mengaku memutuskan untuk mengalah dan menyerahkan keputusan akhir kepada promotor konser. “Jika konser dipindahkan ke GBK, itu tidak masalah bagi saya,” kata Pramono, menegaskan bahwa ia tidak akan terlibat dalam penentuan venue lebih lanjut.

Pengakuan Pramono tentang K‑Pop, K‑Food, dan K‑Choreographer menunjukkan bahwa pemerintah Jakarta berkeinginan mengintegrasikan elemen budaya pop dalam strategi soft power kota. Kerja sama potensial meliputi pertukaran chef, workshop koreografi, serta festival musik yang dapat menampilkan artis Korea Selatan bersama seniman lokal, memperluas jaringan kreativitas dan membuka lapangan kerja di sektor kreatif.

Jika semua program berjalan lancar, dampak yang diharapkan mencakup peningkatan kunjungan wisatawan, pertumbuhan investasi di bidang energi bersih, serta penguatan citra Jakarta sebagai kota yang modern, ramah lingkungan, dan budaya. Kombinasi antara proyek infrastruktur berkelanjutan dan kegiatan budaya pop berpotensi menarik minat investor internasional serta memperkuat posisi Jakarta dalam kompetisi global.

Baca juga:

Secara keseluruhan, penandatanganan sister city antara Jakarta dan Jeju serta pembahasan mengenai konser BTS menandai era baru dalam diplomasi kota yang menggabungkan pembangunan berkelanjutan dengan budaya pop. Langkah ini memperlihatkan komitmen Gubernur Pramono Anung untuk menjadikan Jakarta bukan hanya pusat ekonomi, tetapi juga pusat inovasi, kreativitas, dan hiburan yang bersinergi dengan tren global.