Tragedi ART Benhil: Dua PRT dari Brebes dan Batang, Satu Tewas, Satu Patah Tangan
Berita Pilihan 26 April 2026 – Jakarta Pusat – Dua asisten rumah tangga (ART) yang bekerja di sebuah kosan di kawasan Bendungan Hilir (Benhil) melompat dari lantai empat pada minggu terakhir April 2026. Kedua korban berasal dari provinsi Jawa Tengah, tepatnya Kabupaten Brebes dan Kabupaten Batang. Salah satu dari mereka, seorang remaja berusia 15 tahun, meninggal dunia di tempat, sementara yang lain mengalami patah tangan dan dirawat di Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Mintohardjo.
Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Saputra, kedua ART tersebut nekat melompat karena tidak betah bekerja di majikan mereka. “Orang itu katanya tidak betah, lalu kabur bersama saksi satu, jadi berdua loncat dari lantai empat. Satu meninggal, satu patah tangan,” ujar Roby dalam konferensi pers pada 23 April 2026. Penyebab pasti kejatuhan belum dapat dipastikan, namun ada indikasi korban dipenjara di kamar kos sebelum aksi tersebut.
Penyelidikan lanjutan dipegang bersama oleh Polres Metro Jakarta Pusat, Polda Metro Jaya, serta tim investigasi khusus yang memeriksa agen penyalur tenaga kerja. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold Hutagalung menegaskan pentingnya memeriksa agen ART untuk mengungkap apakah ada unsur pemaksaan atau pelanggaran hak pekerja.
Korban yang tewas, berinisial R, berusia 15 tahun, diketahui berasal dari Pekalongan menurut saksi warga setempat, namun data KTP yang ditemukan menunjukkan asal Brebes. Sementara korban yang selamat, berinisial D, berusia 30 tahun, berasal dari Batang. Kedua korban baru bekerja di kos tersebut selama satu minggu hingga tiga bulan, tergantung pada keterangan masing-masing saksi.
Warga setempat, termasuk Nani (68 tahun) dari RT 005/RW 002, membantu evakuasi korban dan memberikan keterangan kepada polisi. “Yang satu yang meninggal itu dari Pekalongan, yang satu yang masih hidup dari Brebes,” ujar Nani. Ia menambahkan bahwa korban selamat sempat merintih dan memegang bagian belakang tubuh serta tangannya yang patah.
Keluarga korban yang tewas di Batang tengah menggelar rumah duka di Desa Ngroto, Kecamatan Reban. Ayah korban, Raudin (37 tahun), terlihat terpukul dan berusaha menahan tangis. Sekretaris Desa Ngroto, Suwandi, menjelaskan bahwa motivasi korban untuk bekerja didorong oleh kebutuhan ekonomi serta keinginan mandiri, termasuk keinginan memiliki telepon genggam.
Dalam wawancara dengan media lokal, saksi menyebutkan bahwa korban yang selamat sempat mengaku bahwa ponsel mereka disita oleh majikan. “HP saya disita oleh bos perempuan atas suruhan bos laki-laki,” ujar korban kepada warga sebelum keadaan mengkhawatirkan.
Polisi kini mengusut apakah terdapat unsur pidana dalam kasus ini, seperti penahanan paksa, penyalahgunaan wewenang majikan, atau pelanggaran hak pekerja migran. Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menyatakan, “Kami sedang melakukan penyelidikan dugaan tindak pidana yang terjadi.”
Kasus ini menambah deretan tragedi pekerja rumah tangga (PRT) yang mengalami kekerasan atau kondisi kerja yang tidak manusiawi di ibu kota. Organisasi hak asasi manusia mengimbau pemerintah untuk memperketat regulasi penyaluran tenaga kerja domestik serta meningkatkan pengawasan terhadap pemberi kerja.
Sementara itu, masyarakat Jakarta dan Jawa Tengah terus memantau perkembangan penyelidikan. Keluarga korban menuntut keadilan dan agar pelaku majikan yang diduga melakukan penyitaan barang pribadi serta menahan pekerja di ruang sempit dapat diproses sesuai hukum.
Kasus ART Benhil ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak tentang pentingnya perlindungan hak pekerja domestik, terutama bagi mereka yang masih berusia remaja dan rentan terhadap eksploitasi.