Penjual Tempe Naik Haji: Kisah Pasutri di Pati Menabung Rp10 Ribu Sehari Selama 14 Tahun
Berita Pilihan 25 April 2026 – Pasangan suami istri penjual tempe di Pati akhirnya menggapai impian menunaikan ibadah haji setelah menabung rutin Rp10.000 per hari selama 14 tahun. Kisah mereka menjadi contoh nyata ketekunan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menggapai rukun Islam kelima.
Pak Mulyono dan Bu Wiwik, warga Desa Jatirejo, menjalankan usaha kecil menjual tempe tradisional di pasar tradisional Surakarta. Penghasilan harian mereka berkisar antara Rp50.000 hingga Rp70.000. Dari total pendapatan, mereka secara disiplin menyisihkan Rp10.000 setiap hari untuk tabungan haji. Tabungan tersebut ditambah dengan partisipasi dalam arisan lingkungan, yang membantu menambah dana ketika ada kebutuhan mendesak.
Motivasi mereka berawal dari keinginan kuat untuk menunaikan haji bersama, sebuah impian yang telah lama tertunda karena kondisi ekonomi. Selama 14 tahun, pasangan ini menghadapi berbagai rintangan, termasuk kematian suami pada tahun 2012 yang meninggalkan Bu Wiwik harus membesarkan empat anak seorang diri. Meski begitu, semangatnya tak pernah padam. Ia tetap berjualan tempe sejak pagi hingga sore, sekaligus mengurus rumah tangga dan pendidikan anak-anak.
Berikut langkah‑langkah yang mereka lakukan untuk mencapai target haji:
- Menetapkan target tabungan harian sebesar Rp10.000 dan menaatinya tanpa kecuali.
- Memanfaatkan arisan lokal untuk menambah porsi tabungan setiap bulan.
- Mengurangi pengeluaran non‑esensial, seperti hiburan dan makan di luar.
- Menjual tempe secara konsisten, bahkan pada hari hujan, demi menjaga aliran pendapatan.
- Menggunakan aplikasi pengelola keuangan sederhana untuk memantau perkembangan tabungan.
Selama proses menabung, mereka juga terinspirasi oleh kisah serupa yang tersebar di media. Salah satu contoh yang sering mereka bicarakan adalah Mislicha Kasib, nenek berusia 85 tahun asal Pasuruan yang berhasil menabung Rp10.000‑Rp15.000 per hari selama lebih dari satu dekade sebelum berangkat haji pada usia lanjut. Cerita tersebut meneguhkan keyakinan pasangan Mulyono‑Wiwik bahwa usia atau latar belakang tidak menjadi penghalang bila ada niat yang kuat.
Selain Mislicha, pasangan ini juga mengenal kisah Istoifah Aminah, pedagang rujak dari Cirebon yang menabung selama 27 tahun sebelum akhirnya dapat berangkat haji. Keuletan Istoifah yang meluapkan air mata setiap melihat rombongan haji melintas, sekaligus melantunkan selawat, menjadi motivasi tambahan bagi Mulyono‑Wiwik untuk terus bersabar.
Pada akhir tahun 2025, setelah menabung total lebih dari Rp50 juta, pasangan tersebut akhirnya dapat melakukan pendaftaran haji melalui Kloter 10 Embarkasi Surabaya. Proses pendaftaran meliputi setoran awal sebesar Rp25 juta, sisanya dipenuhi melalui tabungan harian dan kontribusi arisan. Pada 24 April 2026, mereka berangkat menuju Tanah Suci bersama rombongan, didampingi oleh putra bungsu mereka yang berusia 32 tahun sebagai mahram.
Keberangkatan mereka tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga inspirasi bagi komunitas pedagang kecil di Pati. Banyak warga yang kini mulai menabung secara teratur, meniru pola menabung Rp10.000 per hari yang terbukti efektif. Pemerintah daerah pun mencatat peningkatan jumlah calon jamaah haji dari kalangan UMKM, menunjukkan dampak positif dari contoh nyata seperti pasangan Mulyono‑Wiwik.
Dengan menunaikan ibadah haji, pasangan penjual tempe ini menutup satu bab panjang penuh perjuangan, namun membuka lembaran baru dalam kehidupan spiritual mereka. Kisah mereka membuktikan bahwa tekad, disiplin, dan dukungan keluarga dapat mengatasi batasan ekonomi, menjadikan impian haji bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan yang dapat diraih.