Bentrok Walenrang Ganggu Musim Panen, Harga Gabah Anjlok dan Petani Terancam Rugi
Berita Pilihan 25 April 2026 – Pada Jumat dini hari tanggal 24 April 2026, terjadi bentrok sengit antara kelompok pemuda dari Desa Baramamase dan Desa Kalibamamase di Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Konflik yang berlangsung hingga siang hari bertepatan dengan masa panen padi, sehingga mengganggu seluruh rantai pasok gabah di wilayah tersebut.
Camatan Walenrang, Ikram Ramin, menjelaskan bahwa situasi tidak kondusif membuat pedagang enggan memasuki area pertanian. “Jika keamanan tidak terjamin, pedagang tidak berani masuk termasuk pemilik alat combine harvester. Ini sangat berpengaruh terhadap harga gabah petani,” ujarnya dalam konferensi pers pada Sabtu 25 April 2026.
Menurut Ikram, penundaan penjualan gabah selama dua hari saja dapat menurunkan harga secara signifikan. “Kalau gabah tertahan dua hari, harganya bisa anjlok. Ini yang kami khawatirkan karena sangat merugikan petani,” tambahnya.
Data lapangan menunjukkan bahwa lebih dari 150 ton gabah yang seharusnya dipasarkan pada hari Senin terpaksa tertahan. Petani di desa-desa sekitar melaporkan kerugian potensial mencapai 30 persen dari perkiraan pendapatan musim panen ini.
Wali Kota Luwu, Misbahuddin, mengonfirmasi bahwa aparat kepolisian telah menurunkan tingkat kerusuhan sekitar pukul 10.00 WITA, sehingga arus lalu lintas kembali normal. Namun, ia menekankan perlunya penegakan hukum yang tegas untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
Polisi setempat mendirikan dua pos gabungan di titik strategis antara kedua desa, serta menambah patroli rutin. “Kami melihat banyak pemuda dari luar yang ikut masuk, itulah yang memperkeruh situasi. Kami akan terus memantau dan menindak tegas pelaku yang melanggar,” kata Kompol Misbahuddin.
Selain dampak ekonomi, bentrok ini menimbulkan kerugian infrastruktur. Dua kios pedagang hancur terbakar, dan empat warga mengalami luka ringan. Meskipun tidak ada korban jiwa, kerusakan properti menambah beban biaya pemulihan bagi pemerintah daerah.
Para petani mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap penurunan harga gabah. “Kami menunggu hasil panen selama berbulan-bulan, kini harus menjual dengan harga di bawah biaya produksi,” keluh seorang petani bernama Jafar, yang menanam padi seluas tiga hektar di Baramamase.
Pemerintah Kabupaten Luwu berjanji akan menyiapkan mekanisme bantuan darurat, termasuk penetapan harga gabah minimum dan bantuan subsidi pupuk untuk mengurangi beban petani. Ikram Ramin menambahkan, “Kami akan koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Kementerian Pertanian untuk memastikan tidak ada petani yang terpuruk karena konflik ini.”
Secara keseluruhan, bentrok Walenrang menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan antara keamanan sosial dan kestabilan ekonomi pertanian. Jika tidak segera diatasi, dampak penurunan harga gabah dapat meluas ke pasar regional, menurunkan pendapatan petani di seluruh Sulawesi Selatan.
Dengan upaya kolaboratif antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat, diharapkan situasi dapat kembali kondusif sehingga proses panen dapat selesai tepat waktu dan harga gabah dapat kembali stabil.