Rupiah 17.300 Merosot: Dampak Ketegangan Timur Tengah dan Analisis Kepala Ekonom
Berita Pilihan 25 April 2026 – Nilai tukar rupiah kembali menembus level kritis Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Penurunan tajam ini menimbulkan keprihatinan di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi, mengingat posisi tersebut mendekati titik terlemah dalam satu tahun terakhir.
Kepala Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menjelaskan bahwa melemahnya rupiah tidak semata‑mata disebabkan oleh faktor domestik. Ia menyoroti “faktor memanasnya perang antara Amerika Serikat dan Iran” serta ketegangan yang meluas di kawasan Timur Tengah sebagai pemicu utama tekanan nilai tukar.
Ketegangan geopolitik meningkatkan permintaan minyak mentah di pasar internasional, yang pada gilirannya mengangkat imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Kenaikan suku bunga AS memperlemah aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga memperburuk depresiasi rupiah.
Bank Indonesia (BI) dalam pernyataannya menyebut bahwa rupiah berada dalam kondisi “undervalued” atau di bawah nilai fundamentalnya. Data BI mencatat kurs pada 21 April 2026 sebesar Rp17.140 per dolar, kemudian melemah 0,87 % dibandingkan akhir Maret 2026. Penurunan ke Rp17.300 mencerminkan pelemahan tambahan sekitar 0,61 % dalam satu hari.
Menurut Junarsin, penilaian undervalued bukan berarti selalu negatif. “Mata uang yang undervalued dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor dan industri dalam negeri,” ujarnya. Namun, ia memperingatkan bahwa depresiasi yang berkelanjutan dapat meningkatkan beban impor, terutama bahan baku dan energi, yang pada akhirnya menekan inflasi.
Berikut beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan Rupiah 17.300:
- Geopolitik Timur Tengah: Konflik antara AS‑Iran meningkatkan volatilitas pasar komoditas, khususnya minyak.
- Kebijakan Moneter AS: Kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi menarik aliran modal keluar dari emerging markets.
- Sentimen Pasar Global: Ketidakpastian politik global memperkuat safe‑haven dollar, menekan mata uang lain.
- Fundamental Domestik: Defisit transaksi berjalan dan ketergantungan pada impor energi memperparah tekanan.
Para analis memperkirakan bahwa jika ketegangan di Timur Tengah tidak mereda, rupiah dapat melanjutkan penurunan hingga menembus level Rp17.500. Namun, BI menyiapkan kebijakan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan nilai tukar jika diperlukan.
Secara makro, depresiasi rupiah dapat memicu kenaikan harga barang impor, yang pada gilirannya dapat memicu inflasi konsumsi. Pemerintah diharapkan menyesuaikan kebijakan fiskal dan moneter untuk mengurangi dampak negatif, termasuk memperkuat cadangan devisa dan mempercepat diversifikasi sumber energi.
Dalam jangka panjang, Junarsin menilai bahwa rupiah yang undervalued dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekspor, asalkan kebijakan struktural mendukung peningkatan produktivitas dan nilai tambah pada barang yang diekspor.
Kesimpulannya, melemahnya Rupiah 17.300 merupakan hasil kombinasi tekanan geopolitik, kebijakan moneter global, serta kondisi fundamental domestik. Pengawasan ketat dari Bank Indonesia dan langkah kebijakan fiskal yang adaptif menjadi kunci untuk menghindari spiral depresiasi yang lebih dalam.