Berita Pilihan

Mengenal Dua Pelaut Perempuan Pertamina yang Menggerakkan Rantai Pasok Energi Nasional

admin ·
Mengenal Dua Pelaut Perempuan Pertamina yang Menggerakkan Rantai Pasok Energi Nasional

Berita Pilihan 22 April 2026 – Di balik kelancaran pasokan energi listrik dan bahan bakar ke seluruh pelosok Indonesia, terdapat sosok-sosok yang jarang mendapat sorotan publik. Noor Faridah dan Roro Anka Nurasti, dua pelaut perempuan yang bernaung di Pertamina Patra Niaga, kini menjadi simbol keberanian dan kompetensi dalam industri yang selama ini didominasi oleh tenaga kerja laki-laki.

Kedua wanita ini memulai kariernya sebagai awak kapal tanker minyak setelah menamatkan pendidikan di akademi maritim terkemuka. Noor Faridah, lulusan tahun 2015, pertama kali ditugaskan mengoperasikan kapal tanker berkapasitas 70.000 DWT yang melintasi jalur laut Jawa-Bali. Sementara Roro Anka, yang bergabung pada 2018, mengemban tugas serupa namun pada kapal yang lebih kecil, khusus mengangkut bahan bakar jet untuk bandara-bandara regional.

Baca juga:

Peran mereka tidak sekadar mengemudikan kapal. Sebagai bagian dari unit logistik Pertamina Patra Niaga, mereka terlibat dalam perencanaan rute, penjadwalan muatan, serta koordinasi dengan pelabuhan dan otoritas maritim. Tanggung jawab ini menuntut pemahaman mendalam tentang regulasi internasional, standar keselamatan, serta dinamika pasar energi.

Keberadaan pelaut perempuan di sektor ini masih terbilang langka. Menurut data internal Pertamina, hanya sekitar 7 persen dari total awak kapal adalah wanita. Tantangan utama yang dihadapi meliputi stereotip gender, fasilitas kapal yang belum sepenuhnya ramah wanita, serta kebutuhan akan pelatihan khusus. Namun, Noor dan Roro berhasil mengatasi hambatan tersebut melalui komitmen kuat serta dukungan program inklusi yang digalakkan perusahaan.

  • Pendidikan dan Sertifikasi: Kedua pelaut menyelesaikan kursus Advanced Maritime Training yang mencakup navigasi digital, manajemen krisis, dan penanganan bahan berbahaya.
  • Pengalaman Lapangan: Selama lima tahun berlayar, mereka telah menavigasi lebih dari 2,5 juta mil laut, melewati zona cuaca ekstrem seperti monsun dan badai tropis.
  • Kontribusi Strategis: Dengan mengoptimalkan rute pengiriman, mereka membantu mengurangi biaya logistik hingga 12 persen, meningkatkan efisiensi distribusi energi nasional.

Selain keahlian teknis, Noor dan Roro juga menekankan pentingnya kepemimpinan tim di atas kapal. Mereka berperan sebagai mentor bagi awak baru, terutama wanita yang baru bergabung. “Kita harus menjadi contoh bahwa kompetensi tidak memandang jenis kelamin,” ujar Noor dalam sebuah wawancara internal.

Baca juga:

Pengaruh mereka meluas ke tingkat kebijakan perusahaan. Kedua pelaut berpartisipasi dalam forum internal untuk merumuskan kebijakan keselamatan kerja yang lebih inklusif, termasuk penyediaan fasilitas sanitasi khusus wanita di kapal-kapal baru.

Keberhasilan mereka juga memberikan dampak positif bagi masyarakat di wilayah operasional. Dengan memastikan pasokan energi yang stabil, terutama di daerah terpencil, mereka berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup, akses pendidikan, dan perkembangan ekonomi lokal.

Di tengah upaya pemerintah Indonesia memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada impor, peran pelaut perempuan seperti Noor Faridah dan Roro Anka menjadi semakin krusial. Mereka tidak hanya mengoperasikan kapal, tetapi juga menjadi pendorong transformasi industri maritim yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Baca juga:

Ke depan, Pertamina Patra Niaga berencana memperluas program rekrutmen khusus untuk wanita, serta meningkatkan fasilitas pelatihan di akademi maritim. Harapannya, lebih banyak pelaut perempuan akan muncul, menambah keragaman dan inovasi dalam mengelola rantai pasok energi nasional.

Dengan dedikasi, profesionalisme, dan semangat pantang menyerah, Noor Faridah dan Roro Anka Nurasti membuktikan bahwa keberadaan pelaut perempuan tidak hanya memungkinkan, tetapi juga esensial bagi kelancaran distribusi energi Indonesia.