Saham BMRI Meroket di Sesi Pembukaan: Penyebab Kenaikannya dan Prospek Teknikal
Berita Pilihan 29 April 2026 – Jakarta, 29 April 2026 – Pada sesi pertama perdagangan Rabu (29/4/2026), saham BMRI mencatat kenaikan 0,68% dan beristirahat di level Rp4.460 per lembar. Kenaikan tersebut menempatkan BMRI dalam zona hijau bersama beberapa saham big caps yang menjadi penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IHSG dibuka menguat 0,53% ke 7.109 poin, dipimpin oleh aksi positif big caps seperti BREN, BBRI, dan tentu saja BMRI. Data IDX Mobile menunjukkan 322 saham naik, 141 melemah, dan 496 tetap stabil. Volume perdagangan mencapai 2 miliar saham senilai Rp545,5 miliar.
Berikut rangkuman harga utama big banks pada pembukaan tersebut:
| Emiten | Harga (Rp) | Perubahan |
|---|---|---|
| BMRI | 4.460 | +0,68% |
| BBNI | 3.800 | +0,26% |
| BBRI | 3.100 | +0,98% |
| BBCA | 5.975 | -0,42% |
Selain pergerakan harga, ada beberapa faktor fundamental yang memengaruhi pergerakan saham BMRI hari ini. Pada hari yang sama, Bank Mandiri menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang menambah likuiditas dan menarik minat investor institusional.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa saham BMRI berada di atas level support Rp4.300 dan masih menguji resistance psikologis di sekitar Rp4.600. Jika momentum bullish terus berlanjut, potensi rebound ke level Rp4.800 dapat terwujud dalam beberapa sesi ke depan.
Namun, tekanan eksternal tetap mengintai. Head Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyoroti bahwa sentimen global—termasuk penantian keputusan MSCI dan fluktuasi nilai tukar rupiah—masih menjadi beban bagi big banks. Wafi menambahkan bahwa laporan kinerja kuartal I 2026 yang sudah dirilis oleh BBCA, BMRI, dan BBNI dapat menjadi katalis positif, sementara BBRI dijadwalkan mengumumkan hasilnya pada hari berikutnya.
Data aliran dana asing juga memberikan gambaran beragam. Pada sesi 28 April 2026, BMRI mencatat net sell sebesar Rp350,72 miliar, menandakan tekanan jual oleh investor asing meski harga naik. Sebaliknya, BBNI mencatat net buy sebesar Rp33,96 miliar, mencerminkan akumulasi oleh investor asing di tengah ketidakpastian pasar.
Para analis merekomendasikan strategi akumulasi bertahap untuk saham BMRI, mengingat valuasi yang relatif menarik dan sinyal kinerja fundamental yang kuat. Mereka menilai bahwa meskipun volatilitas jangka pendek tetap tinggi, fundamental perbankan Indonesia tetap solid, didukung oleh pertumbuhan kredit dan profitabilitas yang konsisten.
Secara makro, pasar masih menunggu data ekonomi Amerika Serikat, termasuk indeks PCE prices dan GDP kuartal I 2026, serta komentar Ketua Federal Reserve. Di sisi Asia, kebijakan suku bunga Bank of Japan yang tetap di 0,75% juga menjadi faktor yang dipantau oleh pelaku pasar.
Kesimpulannya, pergerakan saham BMRI pada pembukaan Rabu menunjukkan kombinasi antara dukungan domestik melalui RUPST dan sentimen positif big caps, serta tekanan eksternal yang belum sepenuhnya teratasi. Investor yang menargetkan pertumbuhan jangka menengah hingga panjang dapat mempertimbangkan untuk menambah posisi secara bertahap, terutama bila harga kembali menguji level resistance kunci.