Analisis Hensa: Pola Komunikasi Seskab Teddy lewat Berburu Buku di Blok M, Dekatkan Pemerintah ke Rakyat
Berita Pilihan 21 April 2026 – Jakarta, 21 April 2026 – Analis komunikasi politik Hendri Satrio, yang lebih dikenal dengan sebutan Hensa, menilai aksi Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya berburu buku lawas di kawasan Blok M sebagai contoh konkret strategi komunikasi publik yang berupaya mendekatkan pemerintah kepada masyarakat. Pada Minggu, 19 April, Seskab mengunggah video melalui akun Instagram resminya @teddy_hq, menampilkan dirinya memilih buku bekas di antara lapak‑lapak pedagang, tanpa menempelkan slogan politik atau klaim apa pun.
Hensa menekankan bahwa tindakan sederhana ini menandakan perubahan paradigma dalam cara pejabat negara berinteraksi dengan publik. “Tidak ada klaim macam‑macam, tidak ada kalimat politis yang ditempel‑tempel, cuma pergi beli buku di akhir pekan seperti orang kebanyakan. Kalau pola seperti ini yang terus dijalankan, ya, saya kira publik juga lama‑lima akan merasakan bedanya,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Senin (20/4/2026). Menurut Hensa, kehadiran Seskab di lingkungan warga biasa menimbulkan persepsi bahwa pemerintah tidak lagi berada di atas, melainkan berada di samping rakyat.
Selain menyoroti aksi tersebut, Hensa juga menolak pandangan negatif terhadap istilah “pencitraan”. Ia berargumen bahwa pencitraan positif merupakan bagian sah dari tugas seorang pejabat publik, selama tidak melanggar batas antara kepentingan institusi dan kepentingan pribadi. “Saya selalu bilang, pencitraan positif itu bagian dari kerjaan pejabat publik, bukan sesuatu yang perlu ditutup‑tutupi. Yang bikin runyam itu kalau pencitraannya untuk kepentingan pribadi, bukan institusi,” tegasnya.
Hensa mengingatkan bahwa konsistensi menjadi faktor penentu keberhasilan strategi ini. Sekali unggahan positif tidak cukup untuk mengubah persepsi publik secara permanen. “Saya tidak mau terlalu cepat bilang ini bagus, tetapi kalau pola seperti ini konsisten dijalankan, bukan cuma sekali lalu hilang, ya kepercayaan publik itu akan terbentuk sendiri,” tambahnya.
Dalam konteks yang lebih luas, aksi Seskab Teddy juga menegaskan upaya pemerintah untuk menampilkan sisi humanis pejabat tinggi. Memakai kaos biru dan sandal putih, ia tampak bersahaja, bahkan ditemani seorang teman yang tidak disebutkan namanya. Penampilan tersebut dipandang sebagai upaya menghilangkan jarak visual antara pejabat dan warga, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kedekatan pemerintah dengan rakyat.
Namun, Hensa memperingatkan bahwa pencitraan yang terlalu berfokus pada citra dapat berisiko mengaburkan substansi kebijakan. Ia menekankan bahwa selain aksi simbolik, kebijakan nyata yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama. “Citra tanpa kebijakan yang mendukung akan menjadi hiasan belaka,” katanya.
Di luar aksi berburu buku, Seskab Teddy juga terlibat dalam pertemuan dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, membahas deregulasi dan evaluasi pasca SEA Games 2026. Meski bukan fokus utama analisis Hensa, hal ini menambah gambaran bahwa pejabat tersebut aktif dalam agenda pemerintahan, memperkuat citra pekerja keras yang tidak hanya terlihat di media sosial.
Secara keseluruhan, analisis Hensa menyoroti bahwa pola komunikasi Seskab Teddy melalui tindakan sederhana di Blok M dapat menjadi contoh bagi pejabat lain. Jika dijalankan secara konsisten dan didukung kebijakan substantif, strategi ini berpotensi meningkatkan kepercayaan publik serta memperkuat legitimasi pemerintahan di mata masyarakat.